Rabu, 23 November 2011

Jayaddisa Jataka

“Setelah tujuh hari,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru, tentang seorang bhikkhu yang menghidupi ibunya.

Awal ceritanya sama dengan yang diceritakan di dalam Sāma-Jātaka19.

Tetapi dalam cerita ini, Sang Guru berkata, “Di masa lampau, orang bijak menyerahkan payung putih dengan kalung bunga emasnya untuk menghidupi kedua orang tuanya,” dan dengan kata-kata ini, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.


Dahulu kala hiduplah seorang raja di Kota Pañcāla (Pancala) sebelah utara, di Kerajaan Kampilla, yang bernama Pañcāla (Pancala). Permaisuri raja mengandung dan melahirkan seorang putra.

Dalam kehidupan sebelumnya, saingannya di dalam tempat tinggal para selir pernah berkata dalam kemarahan, “Suatu hari nanti saya akan memakan anak-anak keturunanmu,” dan dikarenakan tekad ini, ia berubah menjadi yakkhinī (yaksa wanita) pemakan daging manusia. Kemudian sang yaksa wanita itu pun mendapatkan kesempatannya, ia merampas anak ratu di depan matanya, meremukkannya, dan memakannya seolah-olah anak itu adalah daging mentah, dan kemudian pergi.

Pada kelahiran anak ratu yang kedua, ia juga melakukan hal yang sama, tetapi pada yang ketiga, di saat ratu masuk ke dalam kamar tidurnya, seorang pengawal menjaga kamar itu dan mengawasinya dengan ketat. Di hari persalinannya, yaksa wanita itu kembali muncul dan merampas anaknya. Ratu mengeluarkan suara jeritan “Yaksa wanita!” dengan keras, mengejutkan para pengawal yang kemudian berlari naik ke atas, masuk ke dalam untuk mengejar yaksa tersebut.

Dikarenakan tidak memiliki cukup waktu untuk memakan anak itu, sang yaksa melarikan diri dan bersembunyi di dalam saluran air bawah tanah. Menyangka bahwa yaksa wanita itu adalah ibunya, anak tersebut menempelkan bibirnya pada payudara sang yaksa, dan ia menjadi memiliki perasaan cinta kasih seorang ibu terhadap bayi tersebut. Setelah kembali ke kuburan, ia menyembunyikan bayi tersebut di dalam sebuah gua batu dan menjaganya.

Dalam hari-harinya beranjak dewasa, ia membawakan dan memberikan daging manusia kepada anak tersebut, dan mereka berdua bertahan hidup dengan makanan makanan ini. Sang anak tidak mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang manusia. Walaupun dengan meyakini bahwa ia adalah anak dari yaksa wanita ini, ia tidak dapat menghilangkan atau menyembunyikan wujud jasmaninya.

Untuk mengatasi permasalahan ini, yaksa wanita itu memberikannya suatu akar-akaran. Dan dikarenakan khasiat dari akar-akaran ini, ia dapat menyembunyikan (menghilangkan) wujud jasmaninya dan tetap hidup dengan memakan daging manusia.

Kala itu, sang yaksa wanita pergi untuk memberikan pelayanan kepadaVessavaṇa , dan kemudian meninggal di sana.

Untuk keempat kalinya ratu melahirkan seorang putra lagi dan putranya itu aman kali ini karena yaksa wanita tersebut telah mati. Dikarenakan kemenangan kelahirannya dalam menghadapi musuhnya, sang yaksa wanita, anak itu diberi nama Jayaddisa (Pangeran Kemenangan).

Sewaktu tumbuh dewasa dan selesai mempelajari semua ilmu pengetahuan, ia memegang kekuasaan dengan menerima payung kerajaan dan memimpin kerajaan. Pada saat itu, ratunya melahirkan Bodhisatta, dan mereka memberinya nama Pangeran Alīnasattu (Alinasattu). Ketika tumbuh dewasa dan telah diajarkan secara lengkap tentang semua ilmu pengetahuan, Alinasattu menjadi wakil raja.

Sementara itu, putra dari yaksa wanita tersebut secara tidak hati-hati menghancurkan akar-akaran itu yang menyebabkan ia tidak dapat membuat dirinya menghilang lagi. Ia tinggal di daerah kuburan tersebut dengan memakan daging manusia dalam wujud yang dapat dilihat dengan kasat mata.

Orang-orang yang melihatnya menjadi ketakutan, kemudian datang mengeluh kepada raja: “Paduka, ada sesosok yaksa, dengan wujud yang tampak, memakan daging manusia di daerah kuburan. Dalam hitungan waktu, ia akan datang sampai ke kota dan membunuh kemudian memakan para penduduk. Anda harus menyuruh pengawal untuk menangkapnya.” Raja setuju dengan mereka dan memberikan perintah atas penangkapannya.

Sekelompok bala tentara yang bersenjata disiagakan di sekeliling kota. Dengan tanpa berpakaian dan penampilan yang menyeramkan dan rasa takut akan kematiannya, putra yaksa wanita itu menerjang maju dan berteriak di setiap langkahnya menuju ke tengah-tengah bala tentara tersebut. Mereka yang berteriak “Yaksa itu datang ke sini,” yang merasa cemas akan nyawa mereka, terbagi menjadi dua bagian dan melarikan diri. Dan sang yaksa yang berhasil lolos dari kepungan itu bersembunyi masuk ke dalam hutan dan tidak lagi mendekat ke tempat hunian manusia.

Ia kemudian berdiam di bawah kaki pohon beringin dekat jalan raya masuk ke dalam hutan. Jadi ketika orang-orang melewati jalan tersebut, ia menangkap mereka satu per satu dan membawanya masuk ke dalam hutan kemudian memakannya.

Waktu itu, ada seorang brahmana yang memimpin satu rombongan melewati jalan tersebut dengan lima ratus gerobak memberikan seribu keping uang kepada para pemburu. Sang yaksa melompat di atas gerobak tersebut dengan mengeluarkan suara auman dalam wujud manusia. Orang-orang semua melarikan diri karena ketakutan dan bersembah sujud di tanah. Ia menangkap brahmana itu, tetapi karena terluka oleh potongan kayu sewaktu melarikan diri karena dikejar dengan ketat oleh para pemburu, yaksa itu melepaskan brahmana tersebut dan pergi kembali berbaring di bawah kaki pohon beringin tempat ia berdiam.

Di hari ketujuh setelah kejadian ini, Raja Jayaddisa mengumumkan akan melakukan perburuan dan berangkat keluar dari kota. Persis ketika ia hendak berangkat, seorang penduduk asli Takkasilā (Takkasila), brahmana yang bernama Nanda, yang menghidupi kedua orang tuanya, datang di hadapan raja, dengan membawakan empat bait kalimat yang masing-masing baitnya berharga senilai seratus keping uang.

Raja berhenti untuk mendengarkan bait-bait tersebut, dan memerintahkan anak buahnya untuk memberikan tempat tinggal bagi brahmana itu. Kemudian kembali lagi dalam perburuan mereka, raja berkata, “Orang yang nantinya membuat rusa buruan lolos, akan harus membayar brahmana itu atas bait-bait kalimat yang telah diucapkannya tadi.” Kemudian mereka mulai mengejar seekor rusa yang berbintik, rusa itu berlari ke arah raja dan berhasil lolos. Para pengawal menjadi tertawa terbahak-bahak. Raja mengambil pedangnya dan mengejar rusa itu.

Setelah mengejarnya sejauh tiga yojana, dengan satu tebasan dari pedangnya, ia memotong rusa itu menjadi dua bagian dan menggantung bangkainya pada pemikul. Sewaktu berjalan kembali, ia sampai di tempat yaksa tersebut sedang duduk. Setelah beristirahat sejenak di atas rumput kuca, raja berniat untuk melanjutkan perjalanannya. Kemudian yaksa itu bangkit dari duduknya dan berkata dengan keras, “Berhenti! Anda hendak pergi ke mana? Anda adalah mangsaku,” dengan menangkap satu tangannya, ia mengucapkan bait pertama berikut ini:

“Setelah tujuh hari yang panjang berpuasa,
akhirnya ada satu mangsa yang muncul.
Tolong beritahu saya, apakah Anda orang yang terkenal?
Saya ingin mengetahui suku dan nama Anda.

Raja merasa ketakutan sewaktu melihat yaksa tersebut dan tidak dapat melarikan diri karena menjadi kaku seperti sebuah tiang. Tetapi setelah dapat mengembalikan akal sehatnya, raja mengucapkan bait kedua berikut ini:

Saya adalah Jayadissa, Raja Pancala, jika Anda mengenalnya.
Karena berburu melewati rawa-rawa dan hutan, saya tersesat.
Anda makan saja rusa ini,
saya mohon bebaskan diriku.
Mendengar perkataan raja ini, setan tersebut mengucapkan bait yang ketiga berikut:

Raja, untuk menyelamatkan dirimu,
Anda menawarkanku makanan berupa hewan buruan ini,
ketahuilah saya akan memakan Anda terlebih dahulu,
baru setelahnya daging rusa itu;
berhentilah omong kosong.
Mendengar ini, raja teringat kepada Brahmana Nanda dan kemudian mengucapkan bait keempat berikut:

Jika saya tidak bisa membeli kebebasan yang saya minta,
maka biarkanlah diriku untuk menepati janji
yang saya berikan kepada seorang teman brahmana.
Fajar esok akan melihat kehormatanku terselamatkan, dan kembalinya diriku kepadamu.
Mendengar ini, yaksa tersebut mengucapkan bait kelima berikut:

Setelah berdiri demikian dekatnya dengan kematian,
hal apa yang begitu mencemaskan Anda, wahai raja?
Beritahu saya yang sebenarnya sehingga mungkin kita dapat
mencapai satu kesepakatan untuk melepaskanmu pergi selama satu hari.

Untuk menjelaskan permasalahannya, raja mengucapkan bait keenam berikut:

Saya telah membuat satu janji kepada seorang brahmana;
Janji itu masih belum ditepati, menjadi hutang yang belum dibayar.
Jika tekad itu dapat dipenuhi, fajar esok akan melihat kehormatanku terselamatkan
dan kembalinya diriku kepadamu.

Mendengar ini, yaksa tersebut kemudian mengucapkan bait ketujuh:

Anda telah membuat suatu janji terhadap seorang brahmana;
Janji itu masih berlaku, hutang itu belum dibayar.
Penuhilah tekadmu, dan buat agar hari esok melihat kehormatanmu
yang terselamatkan dan kembalinya dirimu kepadaku.
Setelah berkata demikian, ia melepaskan raja untuk pergi. Raja berkata, “Jangan mencemaskan diriku. Saya akan kembali di saat fajar menyingsing. Dengan mencatat beberapa tanda jalan tertentu di sepanjang jalan, raja kembali pada pasukannya dan dengan rombongan ini, ia kembali ke dalam kerajaan.

Kemudian ia memanggil Brahmana Nanda, mempersilakannya duduk di atas takhta yang luar biasa indahnya, dan memberikannya empat ribu keping uang setelah mendengar bait-bait kalimatnya. Ia meminta brahmana itu untuk naik ke kereta kuda dan mengantarnya pulang ke Takkasila dengan meminta pengawalnya untuk melakukan hal tersebut.
Keesokan harinya, dikarenakan rasa resah untuk kembali, raja memanggil putranya dan memberikan petunjuk demikian kepadanya.

Sang Guru mengucapkan dua bait kalimat berikut untuk menjelaskan masalahnya:

Lepas dari setan yang kejam,
ia pulang kembali ke rumahnya dengan penuh kerinduan:
Ia menepati janji yang telah dibuatnya kepada teman brahmana,
dan ia berkata demikian kepada Alinasattu.
‘Putraku, berkuasalah Anda, raja yang diberkahi hari ini,
dengan memimpin para sahabat maupun musuh dengan benar;
Jangan biarkan ketidakbenaran merusak kebahagiaanmu;
Sekarang saya akan menghadapi nasibku dari yaksa yang kejam itu.’

Mendengar ini, pangeran mengucapkan bait kesepuluh berikut:

Saya ingin mengetahui perbuatan atau ucapan apa
yang membuatku kehilangan bantuan ayahku,
sehingga Anda harus memberikan takhta kepadaku,
dan saya akan kehilangan dirimu.
Mendengar ini, raja mengucapkan bait berikutnya:

Putraku tercinta, saya tidak bisa mengingat satu kata
atau perbuatan pun yang tidak baik darimu,
tetapi sekarang karena hutang kehormatan telah terbayarkan,
saya harus menepati janji yang telah saya buat kepada yaksa tersebut.

Pangeran itu mengucapkan satu bait kalimat berikut setelah mendengar perkataan raja:

Tidak, saya yang akan pergi dan Anda tetap di sini.
Takutnya tidak ada harapan untuk kembali dengan selamat.
Tetapi jika Anda tetap mendesak untuk pergi, saya akan mengikutimu
dan berdua menanggung apa yang akan terjadi.

Mendengar ini, raja mengucapkan bait berikutnya:

Meskipun hukum menyetujui Anda ikut pergi bersamaku,
tetapi kehidupan akan kehilangan semua daya tariknya bagiku
jika di dalam hutan itu yaksa yang bengis tersebut memanggang dan memakanmu,
satu demi satu potong anggota tubuhmu.

Mendengar perkataan raja ini, pangeran mengucapkan bait kalimat berikutnya:

Jika Anda bisa bebas dari yaksa ini,
maka saya siap mati untukmu.
Ya, saya akan mati dengan bahagia, wahai raja,
Jika itu dapat memberikan kehidupan bagimu.

Mendengar perkataan ini, raja yang mengetahui sifat bajik putranya tersebut, menerima tawarannya dan berkata, “Baiklah, putraku tercinta, pergilah.” Demikian ia berpamitan dengan orang tuanya dan meninggalkan kerajaan.
Untuk menjelaskan masalah ini, Sang Guru mengucapkan setengah bait kalimat berikut:

Kemudian sang pangeran yang berani tersebut
berpamitan kepada orang tuanya,
dengan membungkuk memberikan penghormatan.

Kemudian orang tua, adik, istri, dan para pejabat istananya pergi keluar dari kerajaan bersama dengannya. Pangeran menanyakan tentang jalan menuju ke tempat itu. Setelah membuat perencanaan yang hati-hati dan memberikan nasihat kepada yang lainnya, ia menelusuri jalan tersebut menuju ke kediaman yaksa itu, tanpa rasa takut bagaikan seekor singa yang siap bertarung.

Melihat putranya pergi, sang ibu tidak dapat menguasai dirinya dan jatuh pingsan, sedangkan ayahnya menangis sambil menjulurkan tangannya.
Sang Guru mengucapkan setengah bait berikutnya untuk menjelaskan masalahnya:

Ayahnya, dengan tangan yang terjulur,
meminta anaknya untuk tetap tinggal dan menangis tersedu-sedu.
Ibunya, yang sangat bersedih, jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Dan untuk memperjelas permohonan yang diucapkan oleh sang ayah, dan pernyataan kebenaran yang diucapkan oleh sang ibu, adik dan istri, Beliau mengucapkan empat bait kalimat berikut:

Ketika putranya telah menghilang cukup jauh dari pandangan ayahnya yang berputus asa,
dengan tangan yang terjulur, ia memuja para dewa:
Raja Varuṇa dan Soma yang agung, Dewa Bulan dan Matahari.
‘Dengan ini jagalah dirinya dengan baik, selamatkanlah, putraku tercinta, dari yaksa bengis itu.’
‘Seperti badan ibu Rama yang bagus memberikan keselamatan
bagi putranya yang hilang
ketika ia mencari hutan Daṇḍaka,
demikianlah kebebasan yang akan diberikan kepada anakku.
Dengan pernyataan kebenaran ini, saya berdoa kepada para dewa
untuk membawamu kembali dengan selamat sejahtera.’
‘Saudaraku, sejauh yang kuingat, tidak ada kesalahan sama sekali dalam dirimu,
tidak ada yang rahasia, maupun yang dilakukan secara terbuka.
Dengan pernyataan kebenaran ini saya berdoa kepada para dewa
untuk membawamu kembali dengan selamat sejahtera.’
‘Tuanku, Anda tidak pernah berbuat pelanggaran kesalahan kepadaku,
dan saya juga memiliki rasa cinta kasih kepadamu.
Dengan pernyataan kebenaran ini saya berdoa kepada para dewa
untuk membawamu kembali dengan selamat.’

Dengan mengikuti arah yang diberitahukan oleh ayahnya, sang pangeran berangkat menuju ke jalan kediaman yaksa tersebut. Yaksa itu berpikir, “Kaum kesatria mempunyai banyak tipu muslihat. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi?” dan dengan memanjat pohon, ia duduk sambil menanti kedatangan raja. Ketika melihat pangeran yang datang, ia berpikir, “Sang anak telah menghentikan langkah sang ayah dan datang sendiri sebagai penggantinya. Tidak ada rasa takut di dalam dirinya.” Kemudian ia turun dari pohon itu dan duduk bersandar dengan bagian punggung menghadap ke arah datangnya pangeran. Setelah sampai di sana, pemuda tersebut berdiri di depan yaksa itu yang kemudian mengucapkan bait kalimat berikut ini:

Dari manakah Anda datang, pemuda yang demikian tampan dan bersih?
Apakah Anda tahu bahwa daerah hutan ini adalah milikku?
Mereka yang datang ke tempat ini, tempat para yaksa menjadikannya sebagai tempat tinggal,
sulit untuk mempertahankan hidupnya.

Mendengar ini, pangeran muda itu mengucapkan bait berikut:

Saya mengenal dirimu dengan baik,
Yaksa yang kejam, Anda adalah penghuni hutan ini.
Putra sejati Jayaddisa sedang berdiri di sini:
Makanlah diriku dan bebaskan ayahku.

Kemudian sang yaksa mengucapkan bait ini:

Putra sejati Jayaddisa, saya tahu;
penampilanmu memang mengatakan demikian.
Pastinya merupakan suatu hal yang sulit bagimu
untuk mati demi membebaskan ayahmu.

Kemudian pemuda itu mengucapkan bait berikut:

Saya merasa ini bukanlah perbuatan yang sangat besar,
mati demi kebaikan seorang ayah dan juga cinta kasih seorang ibu,
dan memenangkan kebahagiaan surgawi.

Mendengar perkataan ini, yaksa tersebut berkata, “Tidak ada satu makhluk pun, Pangeran, yang tidak takut akan kematian. Mengapa Anda tidak merasa takut?” Dan pangeran memberitahukan alasannya dengan mengucapkan dua bait kalimat berikut:

Tidak ada perbuatan jahat dariku sama sekali,
tidak ada yang rahasia maupun yang terbuka, sejauh saya ingat.
Kelahiran dan kematian kupahami dengan baik,
seperti di sini, demikianlah hidup di dunia ini.
Makanlah saya hari ini, wahai yang berkuasa,
dan lakukan perbuatan yang patut dilakukan.
Saya akan jatuh dan mati dari pohon yang tinggi,
kemudian makanlah dagingku, seperti yang Anda suka.

Mendengar perkataannya ini, yaksa tersebut menjadi takut dan berkata, “Tidak ada yang dapat memakan daging orang ini,” sambil memikirkan suatu siasat untuk membuatnya melarikan diri, ia berkata kembali:

Jika ini adalah kehendakmu
untuk mengorbankan dirimu demi membebaskan ayahmu,
maka nasihatku adalah cepatlah pergi
mengumpulkan kayu untuk membuat perapian.
Setelah melakukan apa yang dimintanya, pangeran itu kembali kepadanya.
Sang Guru mengucapkan satu bait berikut untuk menjelaskan masalahnya:

Kemudian pangeran yang gagah berani tersebut
mengumpulkan kayu dan kembali dengan membawa tumpukan kayu yang banyak.
Ia berkata sambil menyalakan apinya, ‘Siapkanlah makanan Anda;
Lihatlah! Saya telah membuat api yang marak.

Ketika melihat pangeran kembali dan menyalakan apinya, yaksa itu berkata, “Ini adalah orang yang berhati singa. Kematian tidak menimbulkan rasa takut baginya. Sampai sekarang ini, saya belum pernah melihat seseorang yang demikian tidak memiliki rasa takut.” Dan ia duduk di sana, takjub, hanya memandang ke arah pemuda itu. Melihat apa yang dilakukan oleh yaksa tersebut, pangeran mengucapkan bait berikut:

Jangan hanya berdiri dan menatap
dalam ketakjuban yang membisu;
Tangkap dan bunuhlah diriku, makanlah.
Selagi masih hidup, saya akan enak
untuk dimakan buatmu hari ini.

Kemudian yaksa itu yang mendengar perkataannya, mengucapkan bait kalimat berikut:

Orang yang berjalan sesuai dengan Dhamma,
baik hati, adil, pastinya tidak pernah boleh dimakan,
kalau tidak yang memakanmu itu
kepalanya akan terpecah menjadi tujuh bagian.

Mendengar ini, pangeran berkata, “Jika Anda memang tidak ingin memakanku, mengapa tadi Anda memintaku mengumpulkan kayu untuk membuat perapian?” dan ketika yaksa itu menjawab, “Itu hanya untuk menguji dirimu, karena saya berpikir bahwa Anda pasti akan melarikan diri,” pangeran berkata, “Bagaimana bisa sekarang ini Anda mengujiku? Dahulu, ketika terlahir dalam wujud seekor hewan, saya membiarkan Sakka, raja para dewa, untuk menguji kebajikanku?” Dan dengan kata-kata ini, ia mengucapkan bait berikut:—

Kepada Dewa Indra, yang suatu ketika berpakaian seperti brahmana miskin,
sang kelinci menawarkan dagingnya sendiri untuk dimakan.
Oleh karena itu, wujudnya terbentuk di bulan;Cakra yang bagus itu
yang kita sebut sebagai Yaksa sekarang ini.

Mendengar ini, yaksa tersebut melepaskan pangeran pergi dan berkata,

Seperti bulan yang bersih terbebas dari cengkeraman Rāhu ,
bersinar di pertengahan bulan dengan cahaya yang luar biasa terangnya,
demikian jugalah halnya dirimu, pemimpin Kampilla yang berkuasa,
mengeluarkan sinar kemenangan, bebas dari yaksa.
Dengan penampilanmu yang cerah, hiburlah sahabat-sahabat yang bersedih
dan bawa kembali kebahagiaan kepada orang tua tercintamu.

Dengan berkata, “Pergilah, jiwa pahlawan,” ia membiarkan Sang Mahasatwa pergi. Setelah membuat yaksa itu menjadi rendah hati, pangeran mengajarkan kepadanya Pancasila (Buddhis) dan dengan keinginan untuk mengetahui apakah ia adalah benar-benar yaksa atau bukan, pangeran berpikir, “Mata dari seorang yaksa berwarna merah dan tidak berkedip.

Mereka tidak memiliki bayangan dan terbebas dari semua rasa takut. Ini bukanlah yaksa, ia adalah manusia. Kata orang, ketiga saudara ayahku dibawa pergi oleh yaksa wanita. Dua diantaranya pasti telah dimakan, dan sisa satu yang dibesarkannya dengan cinta kasih seorang ibu kepada anaknya. Ia pasti adalah orang tersebut. Saya akan membawanya ikut serta denganku dan memberitahu ayah, kemudian menyerahkan kerajaan kepadanya.”

Setelah berpikir demikian, pangeran itu berkata, “Tuan, Anda bukanlah yaksa. Anda adalah saudara dari ayahku. Baiklah, mari ikut denganku dan naikkan payungmu sebagai lambang kekuasaan dalam kerajaan nenek moyangmu.” Dan ketika ia menjawab, “Saya bukan seorang manusia,” pangeran berkata lagi, “Anda tidak memercayaiku. Adakah orang yang akan Anda percayai?” “Ya, ada,” jawabnya, “seorang petapa di tempat anu yang memiliki mata dewa.

” Maka pangeran membawa yaksa itu bersama dengannya untuk pergi ke sana. Tidak lama setelah petapa itu melihat kedatangan mereka, ia kemudian berkata, “Ada tujuan apa Anda berdua yang merupakan keturunan dari satu nenek moyang yang sama ini berjalan sampai ke sini?” Dan dengan kata-kata ini, ia memberitahukan bagaimana sebenarnya hubungan mereka. Si pemakan manusia itu memercayai dirinya dan berkata,

“Temanku yang baik, Anda pulanglah. Sedangkan bagiku, yang lahir dengan dua sifat dalam satu wujud, tidak memiliki keinginan untuk menjadi raja. Saya akan menjadi seorang petapa.” Maka ia ditahbiskan dalam menjalani kehidupan suci oleh petapa tersebut. Kemudian pangeran memberi salam hormat kepadanya dan kembali ke kota.

Sang Guru mengucapkan bait berikut untuk menjelaskan masalahnya:

Kemudian pangeran pemberani Alinasattu
memberi hormat kepada sang yaksa.
Dengan bebas, bahagia, pulang kembali ke Kampilla,
dengan anggota tubuh yang lengkap.

Ketika sampai di kota, Sang Guru menjelaskan kepada para penduduk kota dan yang lainnya tentang apa yang telah dilakukan pangeran, dan mengucapkan bait kalimat terakhir berikut ini:

Demikianlah ia pergi bergerak dari kota dan daerah pedesaan!
Kerumunan orang mengelu-elukan nama pahlawan yang gagah berani tersebut.
Dengan menaiki kereta atau gajah dan dengan rumah sebagai tujuan
mereka menuntun sang pemenang kembali.

Raja mendengar bahwa pangeran telah kembali dan segera keluar untuk menjumpainya. Dengan dikerumuni oleh banyak orang, pangeran datang memberi salam hormat kepada raja. Raja bertanya kepadanya dengan berkata, “Putraku tercinta, bagaimana caranya Anda membebaskan diri dari yaksa yang demikian mengerikan?” dan ia menjawab, “Ayah, ia bukanlah yaksa. Ia adalah saudaramu dan juga adalah pamanku.” Pangeran memberitahukan semuanya kepada raja dan berkata, “Anda harus pergi menjumpai pamanku.” Segera raja memberi perintah dengan menabuh genderang untuk pergi mengunjungi kedua petapa tersebut dengan dikawal rombongan yang besar.

Ketua petapa tersebut menceritakan kepadanya semua cerita itu secara lengkap: bagaimana anak itu dibawa lari oleh yaksa wanita tersebut dan bagaimana hubungan mereka satu dengan yang lainnya. Raja berkata, “Mari, saudaraku, Anda berkuasa sebagai raja.” “Tidak, terima kasih, Paduka,” jawabnya. “Kalau begitu, ayo ikut kami untuk bertempat tinggal di dalam taman kami dan saya akan menyediakan empat kebutuhan hidupmu.” Ia tetap menolak untuk ikut bersama dengan raja.

Kemudian raja membuat tempat tinggal di sebuah gunung yang tidak jauh dari tempat pertapaan mereka, membentuk danau, ladang yang siap ditanam dan dengan membawa seribu keluarga dengan banyak harta kekayaan, ia membuat sebuah desa yang besar dan memulai suatu sistem pemberian dana kepada para petapa. Desa ini yang nantinya berkembang menjadi Kota Cullakammāsadamma. Daerah tempat yaksa itu ditaklukkan oleh Sang Mahasatwa Sutasoma dikenal dengan nama Kota Mahākammāsadamma.

Setelah menyelesaikan uraian-Nya, Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka: Di akhir kebenarannya, bhikkhu senior yang menghidupi ibunya tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna (Sotapanna):—“Pada masa itu, ayah dan ibunya adalah anggota rumah tangga dari kerajaan raja, petapa itu adalah Sāriputta (Sariputta), pemakan manusia adalah Aṅgulimāla (Angulimala), adik perempuan adalah Uppalavaṇṇā (Uppalavanna), ratu adalah ibunya Rāhula (Rahula), Pangeran Alinasattu adalah diri saya sendiri.”

salam ceria...

0 komentar:

Posting Komentar

maaf sxlg maaf © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute