Tampilkan postingan dengan label Jataka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jataka. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juli 2012

Rucira Jataka

“Siapakah burung bangau cantik ini,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang serakah.

Kisah ini sama seperti kisah sebelumnya di atas. Dan berikut ini adalah bait-bait kalimatnya:—

Siapakah burung bangau cantik ini,
mengapa dia berbaring di rumah temanku si gagak?
Temanku si gagak itu adalah burung yang pemarah!
Ini adalah sangkarnya, saya beri tahu ini kepadamu!
Apakah kamu benar-benar tidak mengenaliku, Teman?
kita biasa pergi mencari makan bersama.
Tidak kukerjakan seperti apa yang diberitahukan kepadaku,
maka demikianlah bulu-buluku dicabuti, seperti yang terlihat olehmu ini.
Nantinya kamu akan kembali berduka, saya tahu itu—
adalah sifat alamiahmu untuk melakukannya.
Jika manusia menyiapkan makanan berupa daging (ikan)
maka makanan itu bukanlah untuk dimakan oleh burung-burung kecil.
Kemudian sama seperti yang dikatakan oleh Bodhisatta sebelumnya di atas, “Saya tidak bisa tinggal di sini lagi,” dan terbang ke tempat lain.

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang serakah itu mencapai tingkat kesucian Anāgāmi:—“Bhikkhu yang serakah itu adalah burung gagak, dan Aku sendiri adalah burung dara.”

salam ceria...

Sabtu, 03 Desember 2011

Udancani Jataka

“Hidup bahagia tadinya adalah milikku,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai godaan dari seorang gadis yang gemuk (atau kasar). Kejadian ini akan diceritakan dalam Culla-Nārada-Kassapa-Jātaka189 di Buku Ketiga Belas.


Saat menanyai bhikkhu tersebut, Sang Buddha mendapat pengakuan darinya bahwa benar ia sedang jatuh cinta, dan mencintai gadis gemuk itu. “Bhikkhu,” kata Sang Guru, “ia akan menyesatkan dirimu. Demikian juga di masa yang lampau ia membuat engkau menjadi jahat, dan engkau dipulihkan hingga dapat merasa bahagia kembali oleh ia yang bijaksana dan penuh kebaikan di kehidupan yang lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, terjadilah hal-hal seperti yang diceritakan dalam Culla-Nārada-Kassapa-Jātaka. Namun dalam kesempatan ini, Bodhisatta tiba di sore hari dengan membawa buah-buahan di tempat pertapaannya, membuka pintu dan berkata kepada putranya, “Di hari-hari biasa, engkau selalu membawakan kayu dan makanan, serta menyalakan perapian. Mengapa hari ini engkau tidak melakukan satu pun dari hal tersebut di atas, melainkan duduk termenung disini dengan menyedihkan?”

“Ayah,” kata anak muda itu, “ketika engkau pergi mengumpulkan buah-buahan, seorang gadis datang kemari, yang mencoba memikat saya dengan rayuan. Namun, saya tidak akan pergi sebelum berpamitan denganmu, jadi saya membuatnya pergi ke sana, duduk menunggu kedatanganku. Sekarang saya berharap untuk bisa pergi.”

Melihat anaknya terlalu kasmaran untuk bisa melepaskan gadis itu, Bodhisatta mengizinkannya pergi, berkata, “Saat ia menginginkan daging , ikan, biji-bijian, garam atau beras, maupun hal-hal lainnya untuk dimakannya, dan membuat engkau ke sana kemari atas perintahnya, ingatlah pada pertapaan ini dan kembalilah kemari.”

Maka anak tersebut pergi bersama gadis itu ke tempat tinggal penduduk; setibanya di rumah, gadis itu membuat anak muda tersebut berlari ke sana kemari untuk mengambilkan semua barang yang ia inginkan.

“Saya lebih seperti budaknya jika begini,” pikirnya, dan segera kembali ke tempat ayahnya, memberi hormat padanya, berdiri dan mengulangi syair berikut ini: —

Hidup bahagia tadinya adalah milikku,
hingga aku jatuh cinta padanya,
Kendi yang mengkhawatirkan dan menjemukan,
istriku  membuat saya menjalankan perintahnya
dengan berlari ke sana kemari.

Bodhisatta memuji anak muda tersebut, menasihatinya untuk berbaik hati dan bermurah hati, mengajarinya mengembangkan empat kediaman luhur dan cara-cara meditasi. Tak lama kemudian, anak muda itu telah memperoleh kesaktian dan pencapaian meditasi, dan tanpa terputus dari keadaan baik tersebut, bersama ayahnya, ia terlahir kembali di alam brahma.

Setelah uraian tersebut berakhir, dan Empat Kebenaran Mulia telah dibabarkan (di akhir khotbah, bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna), Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Gadis gemuk di saat ini merupakan gadis gemuk di masa itu; bhikkhu muda ini adalah anak tersebut dan Saya sendiri adalah sang ayah di masa itu.”

salam ceria...

CULLA SUTASOMA JĀTAKA

“Dengarkanlah saya, teman-teman,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang kesempurnaan dalam pelepasan (keduniawian).


Cerita pembukanya berhubungan dengan Mahānāradakassapa-Jātaka97.

Dahulu kala, kota yang sekarang menjadi Benares bernama Sudassana dan di sana hiduplah Raja Brahmadatta. Ratu utamanya melahirkan Bodhisatta. Wajahnya cerah sempurna seperti bulan purnama, dan oleh karenanya ia diberi nama Soma.

Ketika ia beranjak remaja, dikarenakan kegemarannya akan jus buah dan kebiasaannya mengambil sarinya, orang-orang mengenalnya sebagai Sutasoma (penyuling buah soma). Ketika dewasa, ia diajarkan semua cabang ilmu pengetahuan di Takkasilā, dan sekembalinya dari sana, payung putih diberikan kepadanya oleh ayahnya, dan ia pun memerintah kerajaan dengan benar, memiliki daerah kekuasaan yang sangat luas, memiliki enam belas ribu istri, dengan Candadevī sebagai ratu utamanya.

Seiring berjalannya waktu ketika ia dikaruniai dengan keluarga besar, ia menjadi tidak puas dengan kehidupan rumah tangga dan pergi ke hutan, dengan memiliki keinginan untuk menjalankan kehidupan petapa.

Suatu hari, ia memanggil tukang pangkasnya dan menyapanya demikian, “Jika melihat sehelai rambut putih di kepalaku, kamu harus memberitahukannya kepadaku.” Tukang pangkas tersebut setuju untuk melakukannya dan akhirnya ia melihat sehelai rambut putih dan memberitahu raja tentang itu.

Raja berkata, “Kalau begitu, cabutlah rambut itu dan letakkan di tanganku.” Tukang pangkas itu mencabutnya dengan menggunakan pinset emas dan meletakkannya di tangan raja. Ketika melihatnya, Sang Mahasatwa berseru, “Badanku adalah mangsa bagi penuaan,” dan dalam ketakutan ia mengambil rambut putih itu dan turun dari teras ia duduk di sebuah dipan yang dapat terlihat oleh pandangan banyak orang.

Kemudian ia memanggil delapan puluh ribu pejabat istananya yang dikepalai oleh panglima, enam puluh ribu brahmana yang dikepalai oleh pendeta kerajaan, penduduk kerajaan dan orang-orang lainnya, dan berkata kepada mereka, “Rambut putih sudah muncul di kepalaku. Saya sekarang adalah seorang lelaki tua dan kalian semua harus tahu bahwa saya akan menjadi seorang petapa,” dan ia mengucapkan bait pertama berikut:

Dengarkanlah saya, teman-teman dan rakyat
yang berkumpul di sini, pejabat kerajaanku;
Uban telah muncul di kepalaku,
sekarang saya akan menjalankan kehidupan petapa.

Ketika mendengar ini, dalam kegundahan, mereka mengucapkan bait berikut:

Kata-kata yang demikian tak berdasar seperti ini di dalam ucapan,
Anda menyebabkan panah tertancap di hatiku:
Ingatlah akan tujuh ratus wanita kerajaanmu, Paduka;
Apa yang akan terjadi dengan mereka jika Anda pergi?

Kemudian Sang Mahasatwa mengucapkan bait ketiga:

Kesedihan mereka akan segera terhibur oleh hal lain,
mereka masih muda dan cantik; saya telah bertekad
pada pelepasan keduniawiaan, sekarang saya
akan menjalankan kehidupan petapa.

Karena tidak bisa lagi menjawab raja, para pejabat kerajaannya pergi menjumpai ibunya dan memberitahunya tentang hal ini. Ibunya datang dengan tergesa-gesa dan setelah menanyakan kepada raja, “Apakah ini benar apa yang mereka katakan, Putraku, bahwa kamu ingin menjalankan kehidupan petapa?” ia mengucapkan dua bait berikutnya:

Hari di saat saya disebut sebagai Ibu oleh seorang anak sepertimu
adalah suatu ketidakberuntungan; Karena tanpa memedulikan air mata
dan ratap tangisku, wahai Sutasoma, kamu telah bertetap hati
menjalankan kehidupan petapa.

Hari di saat saya melahirkan dirimu
adalah suatu ketidakberuntungan; Karena tanpa memedulikan air mata
dan ratap tangisku, wahai Sutasoma, kamu telah bertetap hati
menjalankan kehidupan petapa.

Ketika ibunya meratap demikian, Bodhisatta tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ibunya tinggal sendirian, sambil menangis. Kemudian mereka memberitahu ayahnya. Ayahnya datang dan mengucapkan satu bait berikut:

Kebenaran apa ini yang menuntunmu menjadi
Ingin untuk meninggalkan kerajaan dan rumahmu?
Meninggalkan kedua orang tuamu sendirian di sini,
untuk menjalankan kehidupan petapa?

Ketika mendengar ini, Sang Mahasatwa terdiam. Kemudian ayahnya berkata, “Anakku Sutasoma, meskipun kamu tidak memiliki cinta kepada orang tuamu, tetapi kamu memiliki banyak putra dan putri yang masih kecil. Mereka tidak akan bisa hidup tanpa dirimu. Maukah kamu baru menjadi petapa di saat mereka telah tumbuh dewasa?” dan ia mengucapkan bait ketujuh berikut:

Tetapi kamu memiliki banyak anak,
dan semuanya masih muda;
Di saat Anda tidak terlihat lagi,
betapa sedih mereka nantinya!

Mendengar ini, Sang Mahasatwa mengucapkan satu bait kalimat:

Ya, saya memiliki banyak anak,
dan mereka masih muda; Saya telah bersama
dengan mereka dalam waktu yang lama,
sekarang saya harus pergi.

Demikianlah Sang Mahasatwa memaparkan kebenaran kepada ayahnya. Dan ketika mendengar pemaparannya tentang kebenaran tersebut, raja pun terdiam. Kemudian mereka memberitahu ketujuh ratus wanita kerajaannya. Setelah turun dari istana, mereka datang ke hadapannya, dan dengan memegang kakinya, mereka meratap tangis dan mengucapkan bait ini:

Hatimu pastinya telah menghancurkan rasa sedih,
atau Anda pastinya tidak mengenal belas kasih,
sehingga Anda hendak menjalankan kehidupan petapa,
dan meninggalkan kami semua di sini, meratap tangis.

Ketika mendengar ratapan mereka di saat mereka bersujud di kakinya dan menangis dengan keras, Sang Mahasatwa mengucapkan satu bait berikut:

Hatiku tidak menghancurkan rasa sedih,
Meskipun saya merasa kasihan atas penderitaanmu,
tetapi saya tetap harus menjadi petapa,
agar saya dapat memperoleh kebahagiaan surgawi.

Kemudian mereka memberitahukannya kepada permaisuri; meskipun dibebani oleh kandungannya, tetapi ia tetap datang, tepat pada waktunya. Ia menghampiri Sang Mahasatwa dan setelah memberi hormat kepadanya, berdiri di satu sisi dan mengucapkan tiga bait berikut:

Hari di saat saya diperistri olehmu adalah suatu ketidakberuntungan;
karena tanpa memedulikan air mata dan ratap tangisku,
wahai Sutasoma, kamu telah bertetap hati
menjalankan kehidupan petapa.

Hari di saat saya diperistri olehmu adalah suatu ketidakberuntungan;
karena kamu akan meninggalkanku mati dalam kesedihan,
wahai Sutasoma, kamu telah bertetap hati
menjalankan kehidupan petapa.

Waktu persalinanku sudah dekat, dan saya akan merasa gembira
jika kamu tetap tinggal bersama denganku, sampai anakku lahir,
sebelum hari itu, saya akan melewati
hari menyedihkan yang dirampas olehmu.

Kemudian Sang Mahasatwa mengucapkan satu bait berikut:

Waktu persalinanmu sudah dekat, sampai bayi itu lahir,
saya tidak bisa tinggal bersama denganmu;
Saya akan meninggalkan anak kerajaan ini
dan pergi menjalankan kehidupan petapa.

Ketika mendengar perkataannya ini, permaisuri tidak dapat mengendalikan kesedihannya, dan memegang dadanya dengan kedua tangan, ia berkata, “Untuk selanjutnya, tidak ada lagi kejayaan kita.” Kemudian sembari mengusap air matanya, ia meratap tangis dengan kuat. Sang Mahasatwa mengucapkan satu bait berikut untuk menghibur dirinya:

Ratuku, yang terkasih Candā,
dengan mata seperti bunga biru100,
janganlah meratap tangis karena diriku,
naiklah kembali ke istanamu:
Saya akan tetap pergi tanpa ada yang menjaga dirimu.

Karena tidak tahan dengan kata-katanya, permaisuri naik ke istana dan duduk di sana, sambil menangis. Kemudian putra sulung Bodhisatta yang melihat kejadian ini berkata, “Mengapa ibuku duduk di sini, sambil menangis?” dan ia mengucapkan bait kalimat berikut dalam bentuk sebuah pertanyaan:

Siapa yang telah mengganggumu, Ibuku terkasih,
mengapa Anda menangis dan menatap diriku dalam?
Haruskah saya habiskan mereka,
sanak keluargaku yang jahat padamu, untuk dirimu?

Kemudian permaisuri mengucapkan bait berikut:

Tidak ada bahaya, Putraku terkasih, yang dapat menyentuh kepalanya,
ia yang hidup memberikan penderitaan ini kepadaku:
Karena, ketahuilah, orang itu adalah ayahmu yang mengatakan,
‘Saya akan tetap pergi tanpa ada yang menjaga dirimu.’

Mendengar perkataan ibunya, ia berkata, “Ibu, apa ini yang Anda katakan? Jika memang ini kejadiannya, kita akan menjadi tidak berdaya,” dan dengan ratap tangis, ia mengucapkan bait ini:

Saya, yang dahulu berkeliaran di taman
melihat gajah-gajah liar terlibat dalam pertarungan,
jika ayahku harus menjalankan kehidupan petapa,
apa yang harus kulakukan, orang malang yang tidak beruntung?

Kemudian di saat melihat mereka berdua sedang menangis, adiknya yang berusia tujuh tahun menghampiri ibunya dan berkata, “Ibu dan Abangku terkasih, mengapa kalian menangis?” Dan setelah mendengar penyebabnya, ia berkata, “Baik, berhentilah menangis; saya tidak akan membiarkannya menjadi seorang petapa,” dan ia menghibur mereka berdua.

Setelah turun dari istana tersebut bersama dengan perawatnya, ia pergi menjumpai ayahnya dan berkata, “Ayah, mereka memberitahuku bahwa Anda akan meninggalkan kami meskipun dengan menentang kehendak kami, dan mengatakan bahwa Anda akan menjadi seorang petapa. Saya tidak mengizinkanmu menjadi seorang petapa,” dan dengan memegang ayahnya dengan erat pada bagian leher, ia mengucapkan bait ini:

Ibu dan abangku sedang menangis,
menginginkanmu untuk tetap tinggal,
saya juga akan menahanmu dengan memegang tanganmu,
tidak akan membiarkanmu pergi di luar kehendak kami.

Sang Mahasatwa berpikir, “Anak ini adalah satu sumber hambatan bagi diriku; dengan cara apakah saya harus menghindarinya?” Kemudian setelah melihat pengasuhnya, ia berkata, “Bu, lihatlah permata ini. Ini akan menjadi milikmu jika kamu dapat membawa anak ini pergi, sehingga ia tidak menjadi satu hambatan bagiku.”

Demikian, karena ia tidak dapat menghindari anak yang memegang tangannya itu, ia menjanjikan pengasuh tersebut sogokan dan mengucapkan bait berikut:

Pengasuh, bawalah anak kecil ini,
mainlah dengannya di tempat lain;
Kalau tidak, ia akan merusak kebahagiaanku
dan menghalangi diriku dalam jalanku menuju ke alam surga.

Perawat tersebut mengambil sogokannya, membawa anak itu ke tempat yang lain untuk menghibur dirinya, dan dengan meratap demikian ia mengucapkan bait ini:

Bagaimana jika saat ini saya langsung menolak
—saya tidak memerlukannya—permata berkilau ini?
Karena jika Anda menjadi seorang petapa,
apalah gunanya permata ini bagiku?

Kemudian panglima raja berkata, “Menurutku, raja ini telah berpikiran bahwa ia hanya memiliki harta kekayaan yang sedikit di dalam rumahnya. Saya akan membuatnya tahu bahwa ia memiliki jumlah yang banyak,” setelah berdiri, ia memberi hormat kepada raja dan mengucapkan bait ini:

Perbendaharaanmu dipenuhi dengan banyak harta,
Anda telah mengumpulkan kekayaan, wahai raja, dalam jumlah besar;
Seluruh dunia dikuasai olehmu,
ambillah mereka sesuka hatimu, jangan menjadi petapa.

Mendengar ini, Sang Mahasatwa mengucapkan bait ini:

Perbendaharaanku dipenuhi dengan banyak harta,
saya telah mengumpulkan kekayaan dalam jumlah besar;
Seluruh dunia dikuasai olehku,
saya tinggalkan semuanya itu untuk menjadi petapa.

Ketika ia pergi setelah mendengar ini, seorang saudagar kaya bernama Kulavaddhana berdiri dan dengan memberi hormat kepada raja, mengucapkan bait ini:

Saya telah mengumpulkan kekayaan dalam jumlah besar,
wahai raja, di luar batas semua kekuatan mampu menghitung yang besar:
Lihatlah, saya memberikan semuanya kepadamu,
ambillah mereka sesuka hatimu; jangan menjadi petapa.

Ketika mendengar ini, Sang Guru mengucapkan satu bait berikut:

Wahai Kulavaddhana, saya tahu,
kamu akan memberikan kekayaanmu kepadaku;
Akan tetapi saya telah bertekad pada pelepasan keduniawiaan,
sekarang saya akan menjalankan kehidupan petapa.

Setelah Kulavaddhana mendengar ini dan pergi, ia kemudian menyapa adiknya Somadatta, “Adik, saya merasa tak puas, seperti ayam dalam kandang, ketidakpuasanku terhadap kehidupan rumah tangga telah membuat diriku menjadi lebih baik. Hari ini juga saya akan menjadi seorang petapa; Gantilah diriku untuk memimpin kerajaan ini,” dan dengan mengalihkannya kepada dirinya, ia mengucapkan bait ini:

Wahai Somadatta, saya merasa yakin,
ketidakpuasan atas keduniawian telah mencuri indraku
di saat memikirkan perbuatan burukku yang menyerang dari segala arah:
Hari ini saya akan menjadi seorang petapa.

Setelah mendengar perkataannya, Somadatta juga ingin menjadi seorang petapa, dan untuk menjelaskan ini, ia mengucapkan bait berikutnya:

Sutasoma terkasih, pergi dan tinggallah
di dalam bilik kecil petapa jika itu membahagiakanmu;
Saya juga senang untuk menjadi seorang petapa,
hidup tidak terpisah darimu.

Kemudian untuk menolak ini, Sutasoma mengucapkan setengah bait berikut:

Anda tidak boleh pergi, atau di seluruh ruangan,
kehidupan rumah akan menjadi terhenti.

Ketika mendengar ini, orang-orang bersujud di kaki Sang Mahasatwa dan berkata, dengan meratap:

Jika Sutasoma harus menjadi seorang petapa,
apa yang akan terjadi dengan kami?

Kemudian Sang Mahasatwa berkata, “Jangan bersedih. Walaupun saya telah lama bersama dengan kalian, tetapi saya harus berpisah dari kalian, tidak ada yang kekal dalam segala yang terkondisi,” dan untuk mengajarkan kebenaran kepada orang banyak tersebut, ia berkata,

Seperti air yang melewati saringan,
demikianlah singkatnya hari-hari kita yang berlalu dengan cepat:
Dengan kehidupan yang demikian terbatas,
hendaknya tidak boleh ada ruang untuk kelalaian.

Seperti air yang melewati saringan,
demikianlah singkatnya hari-hari kita yang berlalu dengan cepat:
Dengan kehidupan yang demikian terbatas,
hanya orang dungu yang memberi ruang untuk kelalaian.

Terikat erat oleh nafsu-nafsu keinginan, mereka akan terjatuh dikarenakannya;
Orang-orang yang demikian akan memperbesar jumlah penghuni alam neraka,
meramaikan alam hewan dan alam hantu kelaparan,
serta melipatgandakan jumlah penghuni alam semidewa (asura).

Demikian Sang Mahasatwa memaparkan kebenaran kepada orang banyak tersebut, dan dengan naik ke atas Istana Bunga (Pubbakapāsāda), ia berdiri di tingkat ketujuh.

Dengan sebilah pedang ia memotong rambutnya dan berteriak, “Sekarang saya bukanlah siapa-siapa bagi kalian. Pilihlah seorang raja,” dan setelah mengucapkan kata-kata ini, ia membuang rambut, ikat kepala, dan semuanya ke tengah kerumunan orang banyak tersebut.

Orang-orang menangkap benda-benda itu, dan mereka meratap dengan keras ketika berguling-guling di tanah. Timbullah gumpalan debu di tempat ini sampai pada ketinggian yang hebat, dan orang-orang yang berdiri dibelakang melihatnya dan berkata, “Raja pasti telah memotong rambut, ikat kepala dan semuanya, dan melemparkannya ke tengah kerumunan. Oleh karenanya, timbul gumpalan debu di dekat istana,” dan dengan meratap demikian, mereka mengucapkan bait ini:

Gumpalan debu di sana,
lihat bagaimana ia timbul di dekat Istana Bunga kerajaan;
Raja kebenaran yang termashyur, pemimpin kita,
telah memotong rambutnya dengan sebilah pedang.

Sang Mahasatwa mengutus seorang pelayan mempersiapkan segala barang perlengkapan seorang petapa untuk dibawa kepadanya, dan meminta seorang tukang pangkas untuk memangkas rambut dan janggutnya. Setelah membuang jubah bagusnya di kursi, ia menggunting potongan kain berwarna, mengenakan kain berwarna kuning ini, mengikat sebuah patta yang terbuat dari tanah liat di bahu kirinya, dan dengan peralatan seorang pengemis di tangannya ia melangkah maju mandur dari tingkat paling atas tersebut, kemudian turun dari istana, melangkah ke luar di jalan, tetapi tidak seorang pun mengenali dirinya di saat ia pergi.

Kemudian ketujuh ratus wanita kerajaannya yang naik ke menara dan tidak menemukan dirinya, hanya melihat bundelan perhiasannya, turun kembali dan memberitahukan enam belas ribu istri raja, dengan berkata, “Raja Sutasoma, Pemimpin terkasih kalian, telah menjadi seorang petapa,” dan dengan kerasnya meratap tangis, mereka pergi keluar.

Pada waktu ini orang-orang mengetahui bahwa dirinya telah menjadi seorang petapa, dan seluruh kota menjadi sangat kacau, dan orang-orang berkata, “Mereka mengatakan, raja kita telah menjadi seorang petapa,” dan mereka berkumpul bersama di depan pintu istana dengan meneriakkan, “Raja pasti ada di sini atau di sana,” mereka berlari ke semua tempat yang sering dikunjungi dirinya, dan ketika tidak menemukan raja mereka berkeliaran ke sana dan ke sini, dengan mengucapkan ratapan mereka di dalam bait berikut:

Di sini adalah istana emasnya,
semuanya dihias dengan karangan bunga yang harum,
dikelilingi oleh begitu banyak wanita yang cantik,
raja akan sering sekali pulang kembali.

Di sini adalah istana emasnya,
semuanya dihias dengan karangan bunga yang harum,
dikelilingi oleh begitu banyak wanita yang cantik,
raja kami akan dapat menguasai dengan segala kebesarannya
dengan sanak keluarga ada di sampingnya.

Ini adalah kebunnya yang terang
dengan bunga-bunga di sepanjang musim
yang selalu berubah-ubah, dikelilingi oleh begitu banyak…

Danau birunya ditumbuhi oleh bunga teratai,
dihuni oleh burung-burung liar,
yang terlihat dari sini,
dikelilingi oleh begitu banyak …

Demikianlah orang-orang mengucapkan ratapan tersebut dalam berbagai tempat yang berbeda ini, dan kemudian setelah kembali ke halaman istana, mereka mengucapkan bait berikut:

Raja Sutasoma, sedih untuk dikatakan,
telah meninggalkan takhtanya demi bilik kecil petapa;
Dan, dengan berpakaian serba kuning,
pergi berjalan seperti gajah yang tersesat sendirian.

Kemudian mereka berangkat dengan meninggalkan semua perkakas rumah tangganya, dan dengan menggandeng tangan anak-anaknya, mereka pergi berduyun-duyun ke tempat Bodhisatta, dan bersama mereka juga ikut orang-orang tua dan anak-anaknya beserta enam belas ribu gadis penari.

Kota menjadi terlihat seperti sebuah tempat yang tidak berpenghuni, dan di belakang mereka tersebut, terdapat para penduduk desa.

Bodhisatta beserta dengan rombongannya yang mencakup panjang dua belas yojana pergi menuju ke arah pegunungan Himalaya. Kemudian Sakka, yang mengetahui tentang pelepasan kehidupan duniawi oleh dirinya, memanggil Vissakamma dengan berkata, “Teman Vissakamma, Raja Sutasoma akan pensiun dari kehidupan duniawi. Ia harus memiliki sebuah tempat untuk tinggal. Akan ada satu kumpulan yang besar dari mereka.” Dan ia mengutusnya dengan berkata, “Pergi dan bangunlah sebuah tempat pertapaan, dengan panjang tiga puluh yojana dan lebar lima yojana, di tepi Sungai Gangga di negeri Himalaya.” Ia pun melakukan demikian dan menyediakan di dalam tempat pertapaan tersebut semua yang dibutuhkan dalam kehidupan petapa, ia juga membuat jalan setapak yang mengarah lurus ke sana, dan kemudian kembali ke alam dewa.

Sang Mahasatwa masuk ke dalam tempat pertapaan itu dengan melewati jalan tersebut; setelah ia yang pertama bertahbis, ia menahbiskan yang lainnya menjadi petapa, dan akhirnya terdapat sejumlah besar yang ditahbiskan, demikian banyaknya sehingga ruang yang luasnya tiga puluh yojana itu terisi oleh mereka.

Tentang bagaimana tempat pertapaan itu dibangun oleh Vissakamma, bagaimana sejumlah besar orang tersebut ditahbiskan, dan bagaimana tempat pertapaan Bodhisatta tersebut direncanakan—semuanya ini akan dimengerti dalam hubungannya dengan Hatthipāla-Jātaka103.

Dalam kelanjutan kisah ini, jika ada satu pikiran akan nafsu keinginan atau pikiran buruk lainnya muncul di dalam pikiran siapa saja, maka Sang Mahasatwa akan mendatangi dirinya dengan terbang melalui udara dan dengan duduk bersila di angkasa, dengan memberikan nasihat, akan menyapanya dalam dua bait berikut:

Jangan timbulkan dalam pikiran akan nafsu masa lalu, dengan wajah tersenyum;
Kalau tidak, tempat kebahagiaan yang indah itu
akan membangkitkan kesenangan indriawi dan membunuhmu.

Jangan lengah, tebarkanlah cinta kasih kepada semua orang, siang dan malam;
Maka kamu akan mendapatkan alam brahma, tempat mereka
yang menjalankan kediaman luhur akan muncul.

Dan rombongan resi ini yang mengikuti nasihatnya tersebut mengalami kelahiran di alam brahma, dan kisah ini akan diceritakan semuanya seperti di dalam Hatthipāla-Jātaka.

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru berkata: “Bukan hanya kali ini, Para Bhikkhu, tetapi di masa lampau juga Sang Tathāgata (Tathagata) melakukan pelepasan agung terhadap keduniawian,” dan Beliau mempertautkan kisah kelahiran ini: “Pada masa itu, ayah dan ibu adalah anggota dari kerajaan yang agung, Candā adalah Ibunya Rāhula (Rahula), putra sulung adalah Sāriputta, adiknya adalah Rahula, pengasuh adalah Khujjuttarā, Kulavaddhana, sang saudagar kaya, adalah Kassapa, panglima adalah Moggallāna, Pangeran Somadata adalah Ānanda, Raja Sutasoma adalah diriku sendiri.”

salam ceria...

Rabu, 23 November 2011

Makhadeva Jataka

“Lihatlah, uban,” dan seterusnya. Kisah ini disampaikan oleh Sang Guru di Jetawana, mengenai pelepasan agung, yang bertalian dengan Nidana-Katha.

Saat itu para bhikkhu sedang duduk dan memberikan pujian terhadap pelepasan agung Yang Mahabijaksana. Sang Guru masuk ke Balai Kebenaran, duduk di tempat duduk-Nya dan menyapa para bhikkhu: — “Apa yang menjadi topik pembicaraan dalam pertemuan ini, wahai Bhikkhu?”

“Bukan apa-apa, Bhante, hanya memuji pelepasan agung yang telah Bhante lakukan.” “Wahai Bhikkhu,” Beliau berkata kepada para siswa-Nya, “bukan hanya di kelahiran ini saja Tathāgata melakukan pelepasan, di masa lampau ia juga meninggalkan keduniawian.”

Para bhikkhu memohon Bhagawan menjelaskan hal tersebut. Buddha kemudian menceritakan hal yang selama ini tidak mereka ketahui dikarenakan kelahiran kembali.


Suatu saat di masa lampau, Kerajaan Videha, di Mithilā, diperintah oleh seorang raja yang bernama Makhādeva. Beliau adalah raja yang taat dan bertindak adil. Di dalam beberapa kelahiran secara berturut-turut selama delapan puluh empat ribu tahun lamanya, ia menikmati hidup sebagai pangeran, mempunyai gelar raja muda, dan memegang kekuasaan sebagai raja.

Suatu hari, setelah menjalankan kehidupan ini cukup lama, ia berpesan kepada tukang pangkasnya, — “Teman, jika engkau menemukan uban tumbuh di kepala saya, katakanlah kepada saya.” Suatu hari, bertahun-tahun kemudian, tukang pangkas benar-benar menemukan sehelai uban tumbuh di antara rambut ikalnya yang hitam legam. Maka ia pun menyampaikan hal itu kepada raja. “Cabutlah uban itu, Teman,” kata raja, “dan letakkan di telapak tangan saya.”

Tukang pangkas menuruti perintah raja, mencabut uban itu dengan jepitan emas kemudian meletakkan uban itu di telapak tangan raja. Pada saat itu raja masih mempunyai masa hidup selama delapan puluh empat ribu tahun lagi, namun saat memandang uban yang hanya sehelai itu, hatinya dipenuhi emosi yang sangat mendalam. Ia seolah melihat Raja Maut berdiri di sekelilingnya, atau bahkan seolah terperangkap dalam pondok yang terbuat dari dedaunan yang sedang terbakar.

“Makhādeva yang dungu!” serunya, “Uban telah tumbuh sebelum engkau membebaskan diri dari kotoran batin.” Ia terus menerus menatap uban itu, ada sesuatu yang berkobar dalam dadanya; seluruh tubuhnya bercucuran peluh, sementara pakaiannya terasa sesak mengimpit dan terasa tidak tertahankan. “Hari ini juga,” ia berpikir, “saya akan meninggalkan keduniawian untuk menjalani hidup sebagai seorang petapa.”

Ia menghadiahkan tukang pangkas itu sebuah desa senilai seratus ribu keping uang. Kemudian meminta anak sulungnya untuk menghadap dan berkata padanya, “Anakku, uban telah tumbuh di kepalaku, saya mulai tua. Saya telah puas menikmati kesenangan duniawi, sekarang sudah saatnya saya mencicipi kesenangan batin; waktu saya untuk melepaskan keduniawian telah tiba. Ambillah takhta kerajaan ini, saya akan menetap di taman peristirahatan di hutan mangga Makhādeva, dan hidup mengasingkan diri di sana.”

Setelah ia memutuskan untuk menjalankan kehidupan sebagai seorang petapa, para menterinya mendekat dan bertanya, “Paduka, apa alasan Paduka memilih menjalankan kehidupan sebagai seorang petapa?”

Dengan uban di tangannya, Raja mengulangi syair berikut ini kepada para menterinya:

Lihatlah, uban yang tumbuh di kepala saya;
inilah pesan bahwa Dewa Maut telah datang
untuk merampas kehidupan saya.
Saat ini, saya berpaling dari hal-hal duniawi,
dengan hidup mengasingkan diri, ditemukanlah
kedamaian yang tersembunyi.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia meninggalkan takhta kerajaan dan di hari yang sama ia menjadi seorang petapa. Ia menetap di hutan mangga Makhādeva, menghabiskan waktu delapan puluh empat ribu tahun mengembangkan empat kediaman luhur dalam dirinya dan meninggal dalam keadaan jhana, tanpa terputus.

Kemudian ia terlahir kembali di alam brahma. Setelah itu, ia kembali terlahir sebagai seorang raja bernama Nimi, di Kota Mithilā dan setelah menyatukan keluarganya yang tercerai-berai, sekali lagi ia menjadi seorang petapa di hutan mangga yang sama, mengembangkan empat kediaman luhur dan terlahir kembali sekali lagi di alam brahma.

Setelah mengulangi pernyataan bahwa Beliau juga meninggalkan keduniawian di kelahiran yang lampau, pada akhir uraian, Beliau membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Ada bhikkhu yang mencapai tingkat kesucian Sotāpanna, beberapa orang bhikkhu mencapai tingkat kesucian Sakadāgāmī, dan bhikkhu yang lainnya mencapai tingkat kesucian Anagāmi.

Setelah menceritakan kedua kisah tersebut, Sang Guru mempertautkan kedua kisah tersebut dan memperkenalkan tentang kelahiran itu dengan menyatakan, “Ānanda merupakan tukang pangkas tersebut, Rāhula merupakan putra sulung raja dan Saya sendiri adalah Raja Makhādeva.”

salam ceria...

Jayaddisa Jataka

“Setelah tujuh hari,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru, tentang seorang bhikkhu yang menghidupi ibunya.

Awal ceritanya sama dengan yang diceritakan di dalam Sāma-Jātaka19.

Tetapi dalam cerita ini, Sang Guru berkata, “Di masa lampau, orang bijak menyerahkan payung putih dengan kalung bunga emasnya untuk menghidupi kedua orang tuanya,” dan dengan kata-kata ini, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.


Dahulu kala hiduplah seorang raja di Kota Pañcāla (Pancala) sebelah utara, di Kerajaan Kampilla, yang bernama Pañcāla (Pancala). Permaisuri raja mengandung dan melahirkan seorang putra.

Dalam kehidupan sebelumnya, saingannya di dalam tempat tinggal para selir pernah berkata dalam kemarahan, “Suatu hari nanti saya akan memakan anak-anak keturunanmu,” dan dikarenakan tekad ini, ia berubah menjadi yakkhinī (yaksa wanita) pemakan daging manusia. Kemudian sang yaksa wanita itu pun mendapatkan kesempatannya, ia merampas anak ratu di depan matanya, meremukkannya, dan memakannya seolah-olah anak itu adalah daging mentah, dan kemudian pergi.

Pada kelahiran anak ratu yang kedua, ia juga melakukan hal yang sama, tetapi pada yang ketiga, di saat ratu masuk ke dalam kamar tidurnya, seorang pengawal menjaga kamar itu dan mengawasinya dengan ketat. Di hari persalinannya, yaksa wanita itu kembali muncul dan merampas anaknya. Ratu mengeluarkan suara jeritan “Yaksa wanita!” dengan keras, mengejutkan para pengawal yang kemudian berlari naik ke atas, masuk ke dalam untuk mengejar yaksa tersebut.

Dikarenakan tidak memiliki cukup waktu untuk memakan anak itu, sang yaksa melarikan diri dan bersembunyi di dalam saluran air bawah tanah. Menyangka bahwa yaksa wanita itu adalah ibunya, anak tersebut menempelkan bibirnya pada payudara sang yaksa, dan ia menjadi memiliki perasaan cinta kasih seorang ibu terhadap bayi tersebut. Setelah kembali ke kuburan, ia menyembunyikan bayi tersebut di dalam sebuah gua batu dan menjaganya.

Dalam hari-harinya beranjak dewasa, ia membawakan dan memberikan daging manusia kepada anak tersebut, dan mereka berdua bertahan hidup dengan makanan makanan ini. Sang anak tidak mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang manusia. Walaupun dengan meyakini bahwa ia adalah anak dari yaksa wanita ini, ia tidak dapat menghilangkan atau menyembunyikan wujud jasmaninya.

Untuk mengatasi permasalahan ini, yaksa wanita itu memberikannya suatu akar-akaran. Dan dikarenakan khasiat dari akar-akaran ini, ia dapat menyembunyikan (menghilangkan) wujud jasmaninya dan tetap hidup dengan memakan daging manusia.

Kala itu, sang yaksa wanita pergi untuk memberikan pelayanan kepadaVessavaṇa , dan kemudian meninggal di sana.

Untuk keempat kalinya ratu melahirkan seorang putra lagi dan putranya itu aman kali ini karena yaksa wanita tersebut telah mati. Dikarenakan kemenangan kelahirannya dalam menghadapi musuhnya, sang yaksa wanita, anak itu diberi nama Jayaddisa (Pangeran Kemenangan).

Sewaktu tumbuh dewasa dan selesai mempelajari semua ilmu pengetahuan, ia memegang kekuasaan dengan menerima payung kerajaan dan memimpin kerajaan. Pada saat itu, ratunya melahirkan Bodhisatta, dan mereka memberinya nama Pangeran Alīnasattu (Alinasattu). Ketika tumbuh dewasa dan telah diajarkan secara lengkap tentang semua ilmu pengetahuan, Alinasattu menjadi wakil raja.

Sementara itu, putra dari yaksa wanita tersebut secara tidak hati-hati menghancurkan akar-akaran itu yang menyebabkan ia tidak dapat membuat dirinya menghilang lagi. Ia tinggal di daerah kuburan tersebut dengan memakan daging manusia dalam wujud yang dapat dilihat dengan kasat mata.

Orang-orang yang melihatnya menjadi ketakutan, kemudian datang mengeluh kepada raja: “Paduka, ada sesosok yaksa, dengan wujud yang tampak, memakan daging manusia di daerah kuburan. Dalam hitungan waktu, ia akan datang sampai ke kota dan membunuh kemudian memakan para penduduk. Anda harus menyuruh pengawal untuk menangkapnya.” Raja setuju dengan mereka dan memberikan perintah atas penangkapannya.

Sekelompok bala tentara yang bersenjata disiagakan di sekeliling kota. Dengan tanpa berpakaian dan penampilan yang menyeramkan dan rasa takut akan kematiannya, putra yaksa wanita itu menerjang maju dan berteriak di setiap langkahnya menuju ke tengah-tengah bala tentara tersebut. Mereka yang berteriak “Yaksa itu datang ke sini,” yang merasa cemas akan nyawa mereka, terbagi menjadi dua bagian dan melarikan diri. Dan sang yaksa yang berhasil lolos dari kepungan itu bersembunyi masuk ke dalam hutan dan tidak lagi mendekat ke tempat hunian manusia.

Ia kemudian berdiam di bawah kaki pohon beringin dekat jalan raya masuk ke dalam hutan. Jadi ketika orang-orang melewati jalan tersebut, ia menangkap mereka satu per satu dan membawanya masuk ke dalam hutan kemudian memakannya.

Waktu itu, ada seorang brahmana yang memimpin satu rombongan melewati jalan tersebut dengan lima ratus gerobak memberikan seribu keping uang kepada para pemburu. Sang yaksa melompat di atas gerobak tersebut dengan mengeluarkan suara auman dalam wujud manusia. Orang-orang semua melarikan diri karena ketakutan dan bersembah sujud di tanah. Ia menangkap brahmana itu, tetapi karena terluka oleh potongan kayu sewaktu melarikan diri karena dikejar dengan ketat oleh para pemburu, yaksa itu melepaskan brahmana tersebut dan pergi kembali berbaring di bawah kaki pohon beringin tempat ia berdiam.

Di hari ketujuh setelah kejadian ini, Raja Jayaddisa mengumumkan akan melakukan perburuan dan berangkat keluar dari kota. Persis ketika ia hendak berangkat, seorang penduduk asli Takkasilā (Takkasila), brahmana yang bernama Nanda, yang menghidupi kedua orang tuanya, datang di hadapan raja, dengan membawakan empat bait kalimat yang masing-masing baitnya berharga senilai seratus keping uang.

Raja berhenti untuk mendengarkan bait-bait tersebut, dan memerintahkan anak buahnya untuk memberikan tempat tinggal bagi brahmana itu. Kemudian kembali lagi dalam perburuan mereka, raja berkata, “Orang yang nantinya membuat rusa buruan lolos, akan harus membayar brahmana itu atas bait-bait kalimat yang telah diucapkannya tadi.” Kemudian mereka mulai mengejar seekor rusa yang berbintik, rusa itu berlari ke arah raja dan berhasil lolos. Para pengawal menjadi tertawa terbahak-bahak. Raja mengambil pedangnya dan mengejar rusa itu.

Setelah mengejarnya sejauh tiga yojana, dengan satu tebasan dari pedangnya, ia memotong rusa itu menjadi dua bagian dan menggantung bangkainya pada pemikul. Sewaktu berjalan kembali, ia sampai di tempat yaksa tersebut sedang duduk. Setelah beristirahat sejenak di atas rumput kuca, raja berniat untuk melanjutkan perjalanannya. Kemudian yaksa itu bangkit dari duduknya dan berkata dengan keras, “Berhenti! Anda hendak pergi ke mana? Anda adalah mangsaku,” dengan menangkap satu tangannya, ia mengucapkan bait pertama berikut ini:

“Setelah tujuh hari yang panjang berpuasa,
akhirnya ada satu mangsa yang muncul.
Tolong beritahu saya, apakah Anda orang yang terkenal?
Saya ingin mengetahui suku dan nama Anda.

Raja merasa ketakutan sewaktu melihat yaksa tersebut dan tidak dapat melarikan diri karena menjadi kaku seperti sebuah tiang. Tetapi setelah dapat mengembalikan akal sehatnya, raja mengucapkan bait kedua berikut ini:

Saya adalah Jayadissa, Raja Pancala, jika Anda mengenalnya.
Karena berburu melewati rawa-rawa dan hutan, saya tersesat.
Anda makan saja rusa ini,
saya mohon bebaskan diriku.
Mendengar perkataan raja ini, setan tersebut mengucapkan bait yang ketiga berikut:

Raja, untuk menyelamatkan dirimu,
Anda menawarkanku makanan berupa hewan buruan ini,
ketahuilah saya akan memakan Anda terlebih dahulu,
baru setelahnya daging rusa itu;
berhentilah omong kosong.
Mendengar ini, raja teringat kepada Brahmana Nanda dan kemudian mengucapkan bait keempat berikut:

Jika saya tidak bisa membeli kebebasan yang saya minta,
maka biarkanlah diriku untuk menepati janji
yang saya berikan kepada seorang teman brahmana.
Fajar esok akan melihat kehormatanku terselamatkan, dan kembalinya diriku kepadamu.
Mendengar ini, yaksa tersebut mengucapkan bait kelima berikut:

Setelah berdiri demikian dekatnya dengan kematian,
hal apa yang begitu mencemaskan Anda, wahai raja?
Beritahu saya yang sebenarnya sehingga mungkin kita dapat
mencapai satu kesepakatan untuk melepaskanmu pergi selama satu hari.

Untuk menjelaskan permasalahannya, raja mengucapkan bait keenam berikut:

Saya telah membuat satu janji kepada seorang brahmana;
Janji itu masih belum ditepati, menjadi hutang yang belum dibayar.
Jika tekad itu dapat dipenuhi, fajar esok akan melihat kehormatanku terselamatkan
dan kembalinya diriku kepadamu.

Mendengar ini, yaksa tersebut kemudian mengucapkan bait ketujuh:

Anda telah membuat suatu janji terhadap seorang brahmana;
Janji itu masih berlaku, hutang itu belum dibayar.
Penuhilah tekadmu, dan buat agar hari esok melihat kehormatanmu
yang terselamatkan dan kembalinya dirimu kepadaku.
Setelah berkata demikian, ia melepaskan raja untuk pergi. Raja berkata, “Jangan mencemaskan diriku. Saya akan kembali di saat fajar menyingsing. Dengan mencatat beberapa tanda jalan tertentu di sepanjang jalan, raja kembali pada pasukannya dan dengan rombongan ini, ia kembali ke dalam kerajaan.

Kemudian ia memanggil Brahmana Nanda, mempersilakannya duduk di atas takhta yang luar biasa indahnya, dan memberikannya empat ribu keping uang setelah mendengar bait-bait kalimatnya. Ia meminta brahmana itu untuk naik ke kereta kuda dan mengantarnya pulang ke Takkasila dengan meminta pengawalnya untuk melakukan hal tersebut.
Keesokan harinya, dikarenakan rasa resah untuk kembali, raja memanggil putranya dan memberikan petunjuk demikian kepadanya.

Sang Guru mengucapkan dua bait kalimat berikut untuk menjelaskan masalahnya:

Lepas dari setan yang kejam,
ia pulang kembali ke rumahnya dengan penuh kerinduan:
Ia menepati janji yang telah dibuatnya kepada teman brahmana,
dan ia berkata demikian kepada Alinasattu.
‘Putraku, berkuasalah Anda, raja yang diberkahi hari ini,
dengan memimpin para sahabat maupun musuh dengan benar;
Jangan biarkan ketidakbenaran merusak kebahagiaanmu;
Sekarang saya akan menghadapi nasibku dari yaksa yang kejam itu.’

Mendengar ini, pangeran mengucapkan bait kesepuluh berikut:

Saya ingin mengetahui perbuatan atau ucapan apa
yang membuatku kehilangan bantuan ayahku,
sehingga Anda harus memberikan takhta kepadaku,
dan saya akan kehilangan dirimu.
Mendengar ini, raja mengucapkan bait berikutnya:

Putraku tercinta, saya tidak bisa mengingat satu kata
atau perbuatan pun yang tidak baik darimu,
tetapi sekarang karena hutang kehormatan telah terbayarkan,
saya harus menepati janji yang telah saya buat kepada yaksa tersebut.

Pangeran itu mengucapkan satu bait kalimat berikut setelah mendengar perkataan raja:

Tidak, saya yang akan pergi dan Anda tetap di sini.
Takutnya tidak ada harapan untuk kembali dengan selamat.
Tetapi jika Anda tetap mendesak untuk pergi, saya akan mengikutimu
dan berdua menanggung apa yang akan terjadi.

Mendengar ini, raja mengucapkan bait berikutnya:

Meskipun hukum menyetujui Anda ikut pergi bersamaku,
tetapi kehidupan akan kehilangan semua daya tariknya bagiku
jika di dalam hutan itu yaksa yang bengis tersebut memanggang dan memakanmu,
satu demi satu potong anggota tubuhmu.

Mendengar perkataan raja ini, pangeran mengucapkan bait kalimat berikutnya:

Jika Anda bisa bebas dari yaksa ini,
maka saya siap mati untukmu.
Ya, saya akan mati dengan bahagia, wahai raja,
Jika itu dapat memberikan kehidupan bagimu.

Mendengar perkataan ini, raja yang mengetahui sifat bajik putranya tersebut, menerima tawarannya dan berkata, “Baiklah, putraku tercinta, pergilah.” Demikian ia berpamitan dengan orang tuanya dan meninggalkan kerajaan.
Untuk menjelaskan masalah ini, Sang Guru mengucapkan setengah bait kalimat berikut:

Kemudian sang pangeran yang berani tersebut
berpamitan kepada orang tuanya,
dengan membungkuk memberikan penghormatan.

Kemudian orang tua, adik, istri, dan para pejabat istananya pergi keluar dari kerajaan bersama dengannya. Pangeran menanyakan tentang jalan menuju ke tempat itu. Setelah membuat perencanaan yang hati-hati dan memberikan nasihat kepada yang lainnya, ia menelusuri jalan tersebut menuju ke kediaman yaksa itu, tanpa rasa takut bagaikan seekor singa yang siap bertarung.

Melihat putranya pergi, sang ibu tidak dapat menguasai dirinya dan jatuh pingsan, sedangkan ayahnya menangis sambil menjulurkan tangannya.
Sang Guru mengucapkan setengah bait berikutnya untuk menjelaskan masalahnya:

Ayahnya, dengan tangan yang terjulur,
meminta anaknya untuk tetap tinggal dan menangis tersedu-sedu.
Ibunya, yang sangat bersedih, jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Dan untuk memperjelas permohonan yang diucapkan oleh sang ayah, dan pernyataan kebenaran yang diucapkan oleh sang ibu, adik dan istri, Beliau mengucapkan empat bait kalimat berikut:

Ketika putranya telah menghilang cukup jauh dari pandangan ayahnya yang berputus asa,
dengan tangan yang terjulur, ia memuja para dewa:
Raja Varuṇa dan Soma yang agung, Dewa Bulan dan Matahari.
‘Dengan ini jagalah dirinya dengan baik, selamatkanlah, putraku tercinta, dari yaksa bengis itu.’
‘Seperti badan ibu Rama yang bagus memberikan keselamatan
bagi putranya yang hilang
ketika ia mencari hutan Daṇḍaka,
demikianlah kebebasan yang akan diberikan kepada anakku.
Dengan pernyataan kebenaran ini, saya berdoa kepada para dewa
untuk membawamu kembali dengan selamat sejahtera.’
‘Saudaraku, sejauh yang kuingat, tidak ada kesalahan sama sekali dalam dirimu,
tidak ada yang rahasia, maupun yang dilakukan secara terbuka.
Dengan pernyataan kebenaran ini saya berdoa kepada para dewa
untuk membawamu kembali dengan selamat sejahtera.’
‘Tuanku, Anda tidak pernah berbuat pelanggaran kesalahan kepadaku,
dan saya juga memiliki rasa cinta kasih kepadamu.
Dengan pernyataan kebenaran ini saya berdoa kepada para dewa
untuk membawamu kembali dengan selamat.’

Dengan mengikuti arah yang diberitahukan oleh ayahnya, sang pangeran berangkat menuju ke jalan kediaman yaksa tersebut. Yaksa itu berpikir, “Kaum kesatria mempunyai banyak tipu muslihat. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi?” dan dengan memanjat pohon, ia duduk sambil menanti kedatangan raja. Ketika melihat pangeran yang datang, ia berpikir, “Sang anak telah menghentikan langkah sang ayah dan datang sendiri sebagai penggantinya. Tidak ada rasa takut di dalam dirinya.” Kemudian ia turun dari pohon itu dan duduk bersandar dengan bagian punggung menghadap ke arah datangnya pangeran. Setelah sampai di sana, pemuda tersebut berdiri di depan yaksa itu yang kemudian mengucapkan bait kalimat berikut ini:

Dari manakah Anda datang, pemuda yang demikian tampan dan bersih?
Apakah Anda tahu bahwa daerah hutan ini adalah milikku?
Mereka yang datang ke tempat ini, tempat para yaksa menjadikannya sebagai tempat tinggal,
sulit untuk mempertahankan hidupnya.

Mendengar ini, pangeran muda itu mengucapkan bait berikut:

Saya mengenal dirimu dengan baik,
Yaksa yang kejam, Anda adalah penghuni hutan ini.
Putra sejati Jayaddisa sedang berdiri di sini:
Makanlah diriku dan bebaskan ayahku.

Kemudian sang yaksa mengucapkan bait ini:

Putra sejati Jayaddisa, saya tahu;
penampilanmu memang mengatakan demikian.
Pastinya merupakan suatu hal yang sulit bagimu
untuk mati demi membebaskan ayahmu.

Kemudian pemuda itu mengucapkan bait berikut:

Saya merasa ini bukanlah perbuatan yang sangat besar,
mati demi kebaikan seorang ayah dan juga cinta kasih seorang ibu,
dan memenangkan kebahagiaan surgawi.

Mendengar perkataan ini, yaksa tersebut berkata, “Tidak ada satu makhluk pun, Pangeran, yang tidak takut akan kematian. Mengapa Anda tidak merasa takut?” Dan pangeran memberitahukan alasannya dengan mengucapkan dua bait kalimat berikut:

Tidak ada perbuatan jahat dariku sama sekali,
tidak ada yang rahasia maupun yang terbuka, sejauh saya ingat.
Kelahiran dan kematian kupahami dengan baik,
seperti di sini, demikianlah hidup di dunia ini.
Makanlah saya hari ini, wahai yang berkuasa,
dan lakukan perbuatan yang patut dilakukan.
Saya akan jatuh dan mati dari pohon yang tinggi,
kemudian makanlah dagingku, seperti yang Anda suka.

Mendengar perkataannya ini, yaksa tersebut menjadi takut dan berkata, “Tidak ada yang dapat memakan daging orang ini,” sambil memikirkan suatu siasat untuk membuatnya melarikan diri, ia berkata kembali:

Jika ini adalah kehendakmu
untuk mengorbankan dirimu demi membebaskan ayahmu,
maka nasihatku adalah cepatlah pergi
mengumpulkan kayu untuk membuat perapian.
Setelah melakukan apa yang dimintanya, pangeran itu kembali kepadanya.
Sang Guru mengucapkan satu bait berikut untuk menjelaskan masalahnya:

Kemudian pangeran yang gagah berani tersebut
mengumpulkan kayu dan kembali dengan membawa tumpukan kayu yang banyak.
Ia berkata sambil menyalakan apinya, ‘Siapkanlah makanan Anda;
Lihatlah! Saya telah membuat api yang marak.

Ketika melihat pangeran kembali dan menyalakan apinya, yaksa itu berkata, “Ini adalah orang yang berhati singa. Kematian tidak menimbulkan rasa takut baginya. Sampai sekarang ini, saya belum pernah melihat seseorang yang demikian tidak memiliki rasa takut.” Dan ia duduk di sana, takjub, hanya memandang ke arah pemuda itu. Melihat apa yang dilakukan oleh yaksa tersebut, pangeran mengucapkan bait berikut:

Jangan hanya berdiri dan menatap
dalam ketakjuban yang membisu;
Tangkap dan bunuhlah diriku, makanlah.
Selagi masih hidup, saya akan enak
untuk dimakan buatmu hari ini.

Kemudian yaksa itu yang mendengar perkataannya, mengucapkan bait kalimat berikut:

Orang yang berjalan sesuai dengan Dhamma,
baik hati, adil, pastinya tidak pernah boleh dimakan,
kalau tidak yang memakanmu itu
kepalanya akan terpecah menjadi tujuh bagian.

Mendengar ini, pangeran berkata, “Jika Anda memang tidak ingin memakanku, mengapa tadi Anda memintaku mengumpulkan kayu untuk membuat perapian?” dan ketika yaksa itu menjawab, “Itu hanya untuk menguji dirimu, karena saya berpikir bahwa Anda pasti akan melarikan diri,” pangeran berkata, “Bagaimana bisa sekarang ini Anda mengujiku? Dahulu, ketika terlahir dalam wujud seekor hewan, saya membiarkan Sakka, raja para dewa, untuk menguji kebajikanku?” Dan dengan kata-kata ini, ia mengucapkan bait berikut:—

Kepada Dewa Indra, yang suatu ketika berpakaian seperti brahmana miskin,
sang kelinci menawarkan dagingnya sendiri untuk dimakan.
Oleh karena itu, wujudnya terbentuk di bulan;Cakra yang bagus itu
yang kita sebut sebagai Yaksa sekarang ini.

Mendengar ini, yaksa tersebut melepaskan pangeran pergi dan berkata,

Seperti bulan yang bersih terbebas dari cengkeraman Rāhu ,
bersinar di pertengahan bulan dengan cahaya yang luar biasa terangnya,
demikian jugalah halnya dirimu, pemimpin Kampilla yang berkuasa,
mengeluarkan sinar kemenangan, bebas dari yaksa.
Dengan penampilanmu yang cerah, hiburlah sahabat-sahabat yang bersedih
dan bawa kembali kebahagiaan kepada orang tua tercintamu.

Dengan berkata, “Pergilah, jiwa pahlawan,” ia membiarkan Sang Mahasatwa pergi. Setelah membuat yaksa itu menjadi rendah hati, pangeran mengajarkan kepadanya Pancasila (Buddhis) dan dengan keinginan untuk mengetahui apakah ia adalah benar-benar yaksa atau bukan, pangeran berpikir, “Mata dari seorang yaksa berwarna merah dan tidak berkedip.

Mereka tidak memiliki bayangan dan terbebas dari semua rasa takut. Ini bukanlah yaksa, ia adalah manusia. Kata orang, ketiga saudara ayahku dibawa pergi oleh yaksa wanita. Dua diantaranya pasti telah dimakan, dan sisa satu yang dibesarkannya dengan cinta kasih seorang ibu kepada anaknya. Ia pasti adalah orang tersebut. Saya akan membawanya ikut serta denganku dan memberitahu ayah, kemudian menyerahkan kerajaan kepadanya.”

Setelah berpikir demikian, pangeran itu berkata, “Tuan, Anda bukanlah yaksa. Anda adalah saudara dari ayahku. Baiklah, mari ikut denganku dan naikkan payungmu sebagai lambang kekuasaan dalam kerajaan nenek moyangmu.” Dan ketika ia menjawab, “Saya bukan seorang manusia,” pangeran berkata lagi, “Anda tidak memercayaiku. Adakah orang yang akan Anda percayai?” “Ya, ada,” jawabnya, “seorang petapa di tempat anu yang memiliki mata dewa.

” Maka pangeran membawa yaksa itu bersama dengannya untuk pergi ke sana. Tidak lama setelah petapa itu melihat kedatangan mereka, ia kemudian berkata, “Ada tujuan apa Anda berdua yang merupakan keturunan dari satu nenek moyang yang sama ini berjalan sampai ke sini?” Dan dengan kata-kata ini, ia memberitahukan bagaimana sebenarnya hubungan mereka. Si pemakan manusia itu memercayai dirinya dan berkata,

“Temanku yang baik, Anda pulanglah. Sedangkan bagiku, yang lahir dengan dua sifat dalam satu wujud, tidak memiliki keinginan untuk menjadi raja. Saya akan menjadi seorang petapa.” Maka ia ditahbiskan dalam menjalani kehidupan suci oleh petapa tersebut. Kemudian pangeran memberi salam hormat kepadanya dan kembali ke kota.

Sang Guru mengucapkan bait berikut untuk menjelaskan masalahnya:

Kemudian pangeran pemberani Alinasattu
memberi hormat kepada sang yaksa.
Dengan bebas, bahagia, pulang kembali ke Kampilla,
dengan anggota tubuh yang lengkap.

Ketika sampai di kota, Sang Guru menjelaskan kepada para penduduk kota dan yang lainnya tentang apa yang telah dilakukan pangeran, dan mengucapkan bait kalimat terakhir berikut ini:

Demikianlah ia pergi bergerak dari kota dan daerah pedesaan!
Kerumunan orang mengelu-elukan nama pahlawan yang gagah berani tersebut.
Dengan menaiki kereta atau gajah dan dengan rumah sebagai tujuan
mereka menuntun sang pemenang kembali.

Raja mendengar bahwa pangeran telah kembali dan segera keluar untuk menjumpainya. Dengan dikerumuni oleh banyak orang, pangeran datang memberi salam hormat kepada raja. Raja bertanya kepadanya dengan berkata, “Putraku tercinta, bagaimana caranya Anda membebaskan diri dari yaksa yang demikian mengerikan?” dan ia menjawab, “Ayah, ia bukanlah yaksa. Ia adalah saudaramu dan juga adalah pamanku.” Pangeran memberitahukan semuanya kepada raja dan berkata, “Anda harus pergi menjumpai pamanku.” Segera raja memberi perintah dengan menabuh genderang untuk pergi mengunjungi kedua petapa tersebut dengan dikawal rombongan yang besar.

Ketua petapa tersebut menceritakan kepadanya semua cerita itu secara lengkap: bagaimana anak itu dibawa lari oleh yaksa wanita tersebut dan bagaimana hubungan mereka satu dengan yang lainnya. Raja berkata, “Mari, saudaraku, Anda berkuasa sebagai raja.” “Tidak, terima kasih, Paduka,” jawabnya. “Kalau begitu, ayo ikut kami untuk bertempat tinggal di dalam taman kami dan saya akan menyediakan empat kebutuhan hidupmu.” Ia tetap menolak untuk ikut bersama dengan raja.

Kemudian raja membuat tempat tinggal di sebuah gunung yang tidak jauh dari tempat pertapaan mereka, membentuk danau, ladang yang siap ditanam dan dengan membawa seribu keluarga dengan banyak harta kekayaan, ia membuat sebuah desa yang besar dan memulai suatu sistem pemberian dana kepada para petapa. Desa ini yang nantinya berkembang menjadi Kota Cullakammāsadamma. Daerah tempat yaksa itu ditaklukkan oleh Sang Mahasatwa Sutasoma dikenal dengan nama Kota Mahākammāsadamma.

Setelah menyelesaikan uraian-Nya, Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka: Di akhir kebenarannya, bhikkhu senior yang menghidupi ibunya tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna (Sotapanna):—“Pada masa itu, ayah dan ibunya adalah anggota rumah tangga dari kerajaan raja, petapa itu adalah Sāriputta (Sariputta), pemakan manusia adalah Aṅgulimāla (Angulimala), adik perempuan adalah Uppalavaṇṇā (Uppalavanna), ratu adalah ibunya Rāhula (Rahula), Pangeran Alinasattu adalah diri saya sendiri.”

salam ceria...

Senin, 21 November 2011

Apannaka Jataka

Uraian Dhamma ini disampaikan oleh Bhagawan (Bhagavā) saat Beliau berdiam di sebuah arama di Jetawana (Jetavana), di dekat Kota Sawatthi (Savātthi). Anda tentu mereka-reka, mengenai siapakah kisah ini?

Baiklah, mereka adalah lima ratus orang teman dari seorang hartawan. Mereka juga merupakan murid dari penganut ajaran sesat.


Suatu hari, Anāthapiṇḍika, sang hartawan, mengajak teman-temannya, kelima ratus murid dari kelompok lain ke Jetawana, ia membawa untaian kalung bunga, wewangian dan obat-obatan dalam jumlah banyak, di samping itu, terdapat juga minyak, madu, sari gula, kain dan jubah. Setelah memberikan penghormatan kepada Bhagawan, ia mempersembahkan untaian kalung bunga dan sejenisnya kepada Beliau, menyerahkan obat-obatan, barang-barang lainnya, beserta kain kepada Bhikkhu Sanggha (Saṅgha).

Setelah itu, ia duduk di satu sisi agar tidak melanggar enam tata cara dalam memilih tempat duduk. Demikian juga kelima ratus murid dari kelompok lain itu, setelah memberikan penghormatan kepada Buddha, mereka mengambil tempat duduk di dekat Anāthapiṇḍika, menatap ketenangan wajah Bhagawan, yang bersinar laksana cahaya purnama; keberadaan Beliau diliputi tanda-tanda Kebuddhaan, gemilang bagai cahaya yang menerangi hingga jarak satu depa jauhnya; kecemerlangan agung yang menandai seorang Buddha, laksana untaian bunga yang muncul sepasang demi sepasang.

Kemudian, walaupun dengan nada gemuruh laksana deram singa muda di Lembah Merah, seperti awan badai di musim hujan yang turun bagai Sungai Gangga dari surga dan terlihat seperti untaian batu permata; namun ketika menyuarakan delapan tingkatan kesucian yang sangat memukau, Beliau membabarkan Dhamma dengan sangat merdu dan dengan berbagai keindahan yang cemerlang kepada mereka.

Setelah mendengarkan Dhamma yang dibabarkan oleh Bhagawan, mereka bangkit dengan niat untuk mengubah keyakinan mereka. Dengan memberi penghormatan kepada Yang Mahatahu, mereka meninggalkan keyakinan mereka sebelumnya dan berlindung kepada Buddha. Sejak itu, dengan tanpa henti mereka selalu pergi bersama Anāthapiṇḍika, membawa wewangian, untaian bunga dan sejenisnya di tangan mereka; mendengarkan Dhamma di wihara; mereka melatih kemurahan hati, menjaga sila dan menjalankan puasa pada harihari uposatha.

Kemudian Bhagawan meninggalkan Sawatthi untuk kembali ke Rājagaha. Segera setelah Beliau pergi, mereka pun meninggalkan perlindungan terhadap Buddha dan kembali berlindung pada ajaran yang semula mereka anut.

Setelah menetap di Rājagaha selama tujuh hingga delapan bulan lamanya, Bhagawan kembali ke Jetawana. Sekali lagi Anāthapiṇḍika bersama teman-temannya mengunjungi Sang Guru, memberikan penghormatan, mempersembahkan wewangian dan sejenisnya, dan mengambil tempat duduk di satu sisi.

Teman-temannya juga memberikan penghormatan kepada Beliau dan mengambil tempat duduk dengan cara yang sama. Kemudian Anāthapiṇḍika memberitahukan kepada Bhagawan bagaimana teman-temannya meninggalkan perlindungan kepada-Nya, kembali menganut keyakinan mereka yang lama pada saat Buddha melakukan perjalanan pindapata (piṇḍapāta, menerima derma makanan).

Setelah membuka mulut-Nya yang bagaikan seroja, laksana peti harta karun, diliputi semerbak aroma bunga yang amat wangi dan diliputi oleh harumnya kebajikan yang telah Beliau perbuat selama berkalpa-kalpa lamanya, dengan suara yang merdu Bhagawan bertanya, “Benarkah kalian, para Siswa-Ku, meninggalkan Tiga Perlindungan untuk berlindung pada ajaran yang lain?”

Karena sudah tidak dapat menutupi kenyataan tersebut, mereka pun mengakuinya dan berkata, “Hal itu benar adanya, Bhagawan.” Mendengar hal tersebut, Sang Guru berkata, “Para Siswa, kemuliaan yang timbul dari menjalankan sila dan melaksanakan perbuatan baik lainnya, bukan di antara batasan neraka terendah dan surga tertinggi, bukan pula di semua alam tanpa batas yang membentang ke kanan maupun ke kiri, melainkan yang setara, atau sedikit berkurang kemuliaannya dalam hal keunggulan seorang Buddha.”

Lalu Beliau menyampaikan keunggulan dari Tiga Permata sebagaimana telah tercantum dalam kitab suci kepada mereka. Beberapa diantaranya adalah : “Wahai Bhikkhu, semua makhluk, yang tidak berkaki, dan seterusnya, di antara semuanya Buddhalah yang menjadi pemimpin.”; “Kekayaan apapun yang ada, baik di alam ini maupun di alam lainnya dan seterusnya.”; dan “Sesungguhnya pemimpin dari orang yang berkeyakinan dan seterusnya.”

Beliau berkata lebih lanjut, “Tidak ada siswa, baik pria maupun wanita, yang berlindung pada Tiga Permata yang diberkahi dengan keunggulan tiada taranya, yang akan dilahirkan kembali di alam neraka maupun alam sejenis lainnya; melainkan mereka akan terbebaskan dari kelahiran di alam yang menderita, terlahir di alam dewa dan menikmati kejayaan di sana. Karena itulah, jika meninggalkan perlindungan demikian untuk mengikuti ajaran lain, maka kalian telah berjalan ke arah yang salah.”

(Berikut adalah kutipan dari kitab suci yang perlu dilantunkan untuk menjelaskan bahwa tiada seorang pun yang mencari pembebasan dan kebahagiaan tertinggi, akan terlahir kembali di alam yang menderita setelah berlindung pada Tiga Permata :

Mereka yang berlindung pada Buddha,
tidak akan terlahir ke alam yang menderita;
segera setelah mereka meninggalkan alam manusia,
wujud Deva akan didapatkannya.
Mereka yang berlindung pada Dhamma,
dan seterusnya
Mereka yang berlindung pada Sanggha, dan seterusnya
Berbagai perlindungan yang dicari oleh manusia,
Puncak gunung, keheningan hutan,
(dan seterusnya hingga )
Ketika perlindungan demikian telah ia cari dan temukan,
ia akan terbebaskan dari segala penderitaan.)

Namun Sang Guru tidak mengakhiri khotbah-Nya sampai di sini. Beliau menambahkan, “Wahai Bhikkhu, meditasi dengan objek renungan terhadap Buddha, Dhamma ataupun Sanggha, akan membawa kita mencapai tingkat kesucian Jalan maupun Buah dari Sotāpanna, Sakadāgāmi, Anāgāmi, dan Arahat.” Setelah selesai membabarkan Dhamma kepada mereka dengan menggunakan berbagai cara, Beliau berkata lebih lanjut, “Jika meninggalkan perlindungan demikian, maka kalian telah berjalan ke arah yang salah.”

(Beberapa tingkatan kesucian yang dapat dicapai melalui meditasi dengan objek perenungan Buddha, dan seterusnya; diperjelas lagi melalui beberapa kitab, seperti :“Wahai Bhikkhu, ada satu hal yang pasti, jika dipraktikkan dan dikembangkan akan menimbulkan rasa tidak suka terhadap kesenangan duniawi, berhentinya nafsu, berakhirnya proses kelahiran, ketenangan, menuju pandangan terang, mencapai penerangan sempurna, nibbana. Apakah satu hal itu? Meditasi dengan menggunakan objek perenungan terhadap Buddha.”)

Ketika Beliau memberikan nasihat kepada para bhikkhu, Bhagawan berkata, “Wahai Bhikkhu, di masa lampau, mereka yang berkesimpulan salah, berpandangan bahwa dengan tidak berlindung merupakan perlindungan yang sesungguhnya, akan menjadi mangsa dan dibinasakan oleh yaksa buas di hutan belantara berpenghuni siluman; sementara itu, mereka yang yakin terhadap kebenaran sejati tanpa keraguan, mampu bertahan di hutan belantara itu.” Setelah mengucapkan ini, Beliau berdiam diri.

Lalu sambil bangkit dan memberikan hormat kepada Bhagawan, Upasaka Anāthapiṇḍika mengutarakan pujian, dengan kedua tangan dirangkupkan dengan penuh penghormatan hingga ke dahinya, ia berucap, “Jelas bagi kami, Sang Guru, bahwa saat ini para bhikkhu berjalan ke arah yang salah dengan meninggalkan perlindungan tertinggi.

Namun kehancuran yang sudah terjadi bagi mereka yang berpendirian keras di hutan belantara berpenghuni siluman, dan keberhasilan dari mereka yang yakin akan kebenaran, tidak diketahui oleh kami dan hanya diketahui oleh Sang Guru. Semoga Bhagawan, laksana menerbitkan purnama ke langit, menjelaskan hal ini kepada kami.”

Kemudian Bhagawan bertutur, “Semata-mata untuk mengatasi persoalan-persoalan keduniawian, dengan melaksanakan Sepuluh Kesempurnaan (Dasa Parami) selama berkalpa-kalpa, segala pengetahuan menjadi jelas bagi-Ku. Simak dan dengarkanlah, secermat seperti kalian mengisi sumsum seekor singa ke dalam tabung emas.”

Setelah mendapatkan perhatian penuh dari hartawan, Bhagawan menjelaskan hal yang selama ini tidak mereka ketahui dikarenakan kelahiran kembali, seolah-olah Beliau membebaskan purnama dari udara bebas yang tinggi, tempat terbentuknya salju.

Suatu ketika di masa lampau Brahmadatta terlahir sebagai seorang raja di Benares, negeri Kāsi, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga saudagar. Setelah dewasa, ia senantiasa melakukan perjalanan untuk berdagang dengan membawa lima ratus buah gerobak, menempuh perjalanan dari timur ke barat dan sebaliknya. Di Kota Benares juga terdapat seorang saudagar muda lainnya yang dungu dan pendek akal.

Kembali ke kisah ketika Bodhisatta yang siap untuk memulai perjalanannya setelah mengisi kelima ratus buah gerobaknya dengan barang-barang bernilai tinggi yang dihasilkan oleh penduduk Benares. Sama halnya dengan saudagar muda yang dungu itu. Saat itu Bodhisatta berpikir, “Jika si dungu ini berjalan bersamaku sepanjang perjalanan, akan ada seribu gerobak yang beriringan di jalan yang sama.

Jalanan akan penuh sesak oleh iringan gerobak. Sulit untuk mendapatkan baik kayu, air dan lainnya yang cukup untuk semua orang, maupun rumput untuk sapi-sapi. “Salah seorang dari kami harus berangkat terlebih dahulu.” Bodhisatta mendatangi dan menyampaikan pandangannya kepada saudagar dungu itu, dengan berkata, “Kita tidak dapat berangkat bersamaan; kamu memilih berangkat terlebih dahulu atau belakangan?” Saudagar dungu itu berpikir, “Akan ada banyak keuntungan yang bisa saya peroleh dengan berangkat terlebih dahulu.

Jalanan masih bagus dan sapi-sapi akan mendapatkan rumput yang cukup. Para pelayanku akan mendapatkan rempah-rempah untuk kari, air yang masih jernih, dan yang terakhir, sayalah yang menentukan harga saat tukar menukar barang dilakukan.” Maka ia menjawab, “Saya akan berangkat terlebih dahulu, Saudaraku.”

Di sisi lain, Bodhisatta melihat banyak keuntungan dengan berangkat belakangan, Bodhisatta berkata pada dirinya sendiri, “Mereka yang berangkat terlebih dahulu akan meratakan jalan yang berpermukaan tidak rata, barulah saya akan menempuh jalan yang telah mereka lewati; sapi mereka akan memakan rumput tua yang kasar, barulah sapi-sapi saya dapat menikmati rumput muda yang baru tumbuh di sepanjang jalan;

para pengikut saya akan mendapatkan rempah-rempah segar yang baru tumbuh setelah tanaman tua dipetik oleh mereka; jika tidak ada sumber air, mereka harus menggali sumur untuk mendapatkan air dan kami dapat minum air dari sumur yang telah ada. Tawar menawar adalah pekerjaan yang sangat melelahkan, dengan berangkat belakangan, saya dapat menukar barang bawaan saya dengan harga yang telah mereka sepakati sebelumnya.” Dengan pertimbangan tersebut, ia berkata, “Engkau dapat berangkat terlebih dahulu, Saudaraku.”

“Baiklah, saya akan segera berangkat,” jawab saudagar dungu itu. Ia mempersiapkan gerobak sapinya dan segera memulai perjalanan. Setelah berjalan beberapa saat, ia telah meninggalkan daerah tempat tinggal manusia dan mencapai daerah pinggiran hutan. (Hutan di sini terbagi menjadi lima jenis :

Hutan Perampok, Hutan Binatang Buas, Hutan Tandus, Hutan Siluman dan Hutan Kelaparan.

Jenis hutan yang pertama adalah hutan yang di sepanjang jalannya ditunggui oleh para perampok;
jenis yang kedua adalah hutan yang dihuni oleh singa dan binatang buas lainnya; yang
ketiga adalah hutan yang tidak terdapat air untuk mandi maupun minum barang setetes pun;
yang keempat adalah hutan yang dihuni oleh siluman di sepanjang jalannya; dan jenis yang kelima adalah hutan dimana akar tanaman maupun makanan lainnya tidak dapat ditemukan.
Dari kelima jenis hutan di atas, dua jenis yang menjadi masalah besar adalah Hutan Tandus dan Hutan Siluman).

Karena itulah si saudagar muda membawa banyak kendi air besar di gerobaknya. Setelah kendi-kendi itu diisi penuh dengan air, ia mulai bergerak melintasi padang tandus selebar enam puluh yojana yang terbentang di hadapannya. Saat ia mencapai jantung hutan, yaksa yang menghuni hutan itu berkata kepada dirinya sendiri, “Saya akan membuat orang-orang ini membuang persediaan air mereka, dan melahap mereka semua saat mereka jatuh pingsan.”

Maka dengan menggunakan kekuatan sihirnya ia menciptakan sebuah kereta megah yang ditarik oleh sapi jantan muda berwarna putih bersih. Yaksa itu bergerak menuju tempatsaudagar dungu berada, bersama rombongan yang terdiri dari sekitar sepuluh hingga dua belas yaksa lainnya yang menyandang busur dan tempat anak panah serta membawa pedang dan perisai.

Ia bertingkah seakan-akan ia adalah seorang raja yang sangat berkuasa di kereta itu, dengan untaian seroja biru dan teratai putih melingkari kepalanya, pakaian dan rambut yang basah, serta roda kereta yang berlepotan lumpur. Para pengawalnya, yang berada di barisan depan dan belakang, juga berada dalam keadaan pakaian dan rambut yang basah, dengan untaian seroja biru dan teratai putih di kepala mereka, membawa rangkaian teratai putih di tangan mereka sambil mengunyah batang bunga segar yang masih berteteskan air dan lumpur.

Pemimpin kereta ini mempunyai kebiasaan sebagai berikut: Ketika angin bertiup ke arah mereka, mereka mengendarai kereta di depan dengan para pengawal mengelilingi mereka agar terhindar dari debu; saat angin bertiup searah mereka, mereka berpindah ke bagian belakang jalur. Saat itu, angin berhembus berlawanan arah dengan mereka, dan saudagar dungu itu mengendarai di depan.

Yaksa yang telah mengetahui kedatangan saudagar muda tersebut, mendekatkan keretanya ke samping gerobak saudagar itu dan menyapanya dengan ramah sambil bertanya kemana saudagar itu akan pergi. Saudagar dungu membiarkan rombongan gerobak yang lain melewatinya terlebih dahulu, sementara dia menghentikan gerobaknya dan menjawab, “Kami baru saja meninggalkan Benares, Tuan.

Saya melihat ada seroja dan teratai di kepala dan tangan Anda, para pengawal Anda juga mengunyah batangan bunga. Selain itu, Anda semuanya berlepotan lumpur dan basah kuyup. Apakah hujan turun selama perjalanan Anda, atau Anda baru saja keluar dari kolam yang dipenuhi oleh seroja dan teratai?”

Yaksa itu berseru, “ Apa maksudmu dengan berkata demikian? Oh, di sebelah sana, di bagian hutan yang agak dalam, air berlimpah-limpah. Di sana, hujan turun sepanjang waktu, sehingga kolam-kolam meluap; dan setiap sudut kolam dipenuhi oleh seroja dan teratai.” Setelah rombongan kereta melewati mereka, yaksa itu menanyakan tujuan saudagar itu. “Ke tempat seperti itu,” jawabnya.

“Apa saja barang bawaanmu di gerobak-gerobak itu?” “Ini dan itu.” “Apa yang engkau muat di gerobak terakhir ini karena kelihatannya gerobakmu membawa muatan yang berat sekali?” “Oh, gerobak ini berisi air” “Engkau memang perlu membawa air di sepanjang jalan yang telah engkau lalui. Namun, untuk sisa perjalanan yang belum engkau tempuh, tidak perlu melakukan hal itu lagi, ada persediaan air yang berlimpah di depan sana.

Karena itu, pecahkan dan buang saja kendi air itu agar engkau bisa bergerak lebih cepat.” Kemudian yaksa itu menambahkan, “Kita telah berhenti cukup lama, sekarang lanjutkanlah perjalananmu.” Setelah itu, ia bergerak maju secara perlahan, hingga tidak kelihatan lagi, kemudian kembali ke perkampungan para yaksa, tempat dimana ia tinggal.

Saudagar dungu tersebut benar-benar melakukan apa yang dikatakan oleh yaksa itu, ia memecahkan dan membuang kendi-kendi air itu tanpa menyisakan air setetes pun. Setelah selesai, ia memerintahkan gerobaknya untuk segera melanjutkan perjalanan. Tidak setetes air pun yang mereka temukan di sepanjang jalan yang mereka lalui, sementara itu, rasa haus yang teramat sangat mendera, melelahkan mereka.

Mereka berjalan terus hingga matahari terbenam. Saat senja tiba, mereka melepaskan sapi dari gerobak, membentuk formasi gerobak untuk membentengi mereka dan menambatkan sapisapi itu pada roda gerobak. Sapi-sapi tidak mendapatkan air untuk minum, demikian pula saudagar serta para pengikutnya tidak dapat menanak nasi karena tidak ada air; para rombongan yang telah kelelahan itu akhirnya tersungkur ke tanah dan tertidur.

Begitu malam tiba, para yaksa muncul dan memangsa mereka semuanya, baik manusia maupun sapi. Setelah melahap habis semua daging hingga yang tersisa hanyalah tulang belulang, para yaksa segera meninggalkan tempat itu. Demikian kedunguan saudagar muda itu menjadi satu-satunya penyebab binasanya rombongan tersebut, sedangkan kelima ratus gerobaknya tak tersentuh di sana.

Enam minggu setelah keberangkatan saudagar dungu itu, Bodhisatta memulai perjalanan-Nya. Ia meninggalkan kota bersama kelima ratus gerobaknya dan dalam sekejap ia telah tiba di pinggir hutan. Sebelum memasuki hutan, ia mengisi kendikendi airnya hingga penuh, kemudian dengan bunyi genderang ia mengumpulkan semua pengikutnya di perkemahan itu, ia berkata kepada mereka semuanya, “Jangan sampai ada penggunaan air setetes pun tanpa persetujuan saya.

Ada beragam tanaman beracun di hutan ini, jadi jangan ada satu orang pun yang memakan baik daun, bunga maupun buah yang belum pernah dimakan sebelumnya, tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada saya.” Setelah menyampaikan hal tersebut, ia masuk ke dalam hutan bersama kelima ratus buah gerobaknya.

Saat ia mencapai jantung hutan, yaksa itu muncul di jalan yang dilalui oleh Bodhisatta dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Namun segera setelah Beliau menyadari keberadaan yaksa itu, Bodhisatta mengetahui maksud yaksa tersebut; karenanya beliau menimbang, “Tidak ada setetes air pun di sini, di Hutan Tandus ini. Orang yang bermata merah dan bersikap agresif ini tidak memantulkan bayangan. Besar kemungkinan ia telah membujuk saudagar dungu yang berangkat sebelum saya untuk membuang persediaan airnya, menunggu hingga mereka kelelahan, lalu memangsa mereka semuanya.

Ia tidak tahu kalau saya lebih pintar dan lebih cerdik darinya.” Ia menghardik yaksa itu, “Pergilah! Kami ini pedagang, kami tidak akan membuang persediaan air kami sebelum kami melihat sendiri sumber air yang kamu katakan itu. Jika sumber air itu telah terlihat, mungkin kami mau membuang persediaan air untuk meringankan beban gerobak kami.”

Yaksa itu bergerak maju hingga tidak kelihatan lagi, kemudian kembali ke perkampungan para yaksa, tempat dimana ia tinggal. Setelah yaksa itu pergi, para pengikut Bodhisatta berkata, “Tuanku, kami dengar dari rombongan itu bahwa di depan sana hujan selalu turun.

Mereka memakai untaian seroja dan teratai di kepala mereka, mengunyah batangan bunga yang masih segar, dan pakaian serta rambut mereka basah kuyup dengan air yang masih menetes. Mari kita buang persediaan air kita dan bergerak lebih cepat dengan gerobak yang lebih ringan.” Mendengar kata-kata itu, Bodhisatta meminta mereka untuk berhenti dan mengumpulkan mereka semuanya lagi.

“Katakan padaku,” ia berkata, “sebelum hari ini adakah di antara kalian yang pernah mendengar adanya kolam atau danau di Hutan Tandus ini?” “Tidak, Tuanku,” jawab para pengikutnya. Bodhisatta berkata lagi, “Itulah sebabnya hutan ini dikenal dengan sebutan Hutan Tandus.”

“Kita baru saja diberitahukan oleh orang-orang bahwa hujan baru saja turun di depan sana, di jalur besar hutan; seberapa jauhkah angin dapat membawa hujan?” “Sekitar satu yojana, Tuan.” “Adakah di antara kalian yang terkena hujan?” “Tidak, Tuan” “Seberapa jauhkah puncak awan topan dapat terlihat?” “Sekitar satu yojana, Tuan.”

“Adakah di antara kalian, orang yang melihat adanya puncak awan topan dari sini?” “Tidak, Tuan.” “Seberapa jauhkah kilatan halilintar dapat terlihat?” “Sekitar empat sampai lima yojana, Tuan.” “Apakah ada orang yang melihat kilatan halilintar walaupun hanya seberkas dari sini?” “Tidak, Tuan.” “Seberapa jauhkah gemuruh petir dapat terdengar?” “Antara dua atau tiga yojana, Tuan.”

“Adakah di antara kalian yang mendengar gemuruh petir dari sini?” “Tidak, Tuan.” “Mereka bukanlah manusia, melainkan yaksa. Mereka akan kembali lagi dengan harapan untuk memangsa kita saat kita lemah dan pingsan setelah persediaan air kita buang sesuai dengan bujukan mereka.

Karena saudagar muda yang berangkat terlebih dahulu bukanlah orang yang pintar, besar kemungkinan ia telah ditipu untuk membuang persediaan air mereka dan telah dimangsa saat keletihan melanda mereka. Kita mungkin bisa menemukan lima ratus buah gerobak milik saudagar itu di tempat mereka ditinggalkan pada hari ini juga. Mari kita teruskan perjalanan ini secepat mungkin, tanpa kehilangan setetes air pun.”

Dengan menyemangati orang-orangnya dengan katakata tersebut, ia meneruskan perjalanan hingga tiba di tempat kelima ratus gerobak yang masih sarat muatan berada, dengan tulang belulang manusia dan sapi tergeletak bertebaran di segala penjuru. Ia melepaskan sapi dari gerobaknya, kemudian menbentuk formasi besar gerobak untuk membentengi mereka; setelah mereka menikmati makan malam mereka, sapi-sapi ditempatkan di tengah lingkaran dengan para pengikutnya mengelilingi sapi-sapi itu; ia sendiri bersama dengan pemimpin rombongannya berdiri berjaga-jaga, dengan pedang di tangan, melewati tiga waktu jaga sampai hari menjelang fajar.

Keesokan dini hari, setelah sapi-sapi diberi makan dan semua kebutuhan lainnya telah terpenuhi, ia menukar gerobaknya yang telah usang dengan gerobak yang lebih kuat, menukar barang-barangnya dengan barang-barang yang lebih berharga dari gerobak yang telah ditinggalkan itu. Setelah selesai, ia segera meneruskan perjalanan hingga tiba di tempat tujuannya, menukarkan barangbarang muatannya dengan nilai yang berlipat ganda, kemudian pulang kembali ke Benares tanpa kehilangan satu orang pengikut pun.

Saat kisah ini berakhir, Guru berkata, “Wahai Siswa, demikianlah yang terjadi di kelahiran lampau, ia yang penuh kedunguan menyebabkan terjadinya kebinasaan, sementara ia yang yakin pada kebenaran, lolos dari genggaman yaksa, mencapai tujuannya dengan selamat dan pulang kembali ke rumah mereka.” Buddha kemudian mempertautkan kedua kisah itu, lalu mengucapkan syair Dhamma berikut ini:

Saat satu-satunya kebenaran yang tiada bandingnya dibabarkan,
mereka yang berpandangan salahakan berbicara sebaliknya.
Ia yang bijak mendapat hikmah dari yang didengarnya,
menggenggam satu-satunya kebenaran yang tiada taranya.

Demikianlah tuturan Dhamma tentang Kebenaran yang diajarkan oleh Bhagawan. Beliau berkata lebih lanjut, “Yang disebut hidup sesuai Dhamma tidak hanya diberkahi tiga alam kebahagiaan, enam Alam Kāmaloka, dan alam brahma yang lebih tinggi, namun mencapai tingkat kesucian Arahat ; sedangkan hidup tidak sesuai Dhamma menyebabkan kelahiran kembali di empat alam neraka atau lahir menjadi manusia dengan kasta yang paling rendah.” Bhagawan kemudian menguraikan lebih terperinci mengenai enam belas jalan tentang Empat Kebenaran Mulia, pada akhir khotbah kelima ratus siswa tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpatti-Phala.

Setelah Dhamma selesai dibabarkan, Bhagawan menjelaskan pertautan kedua kisah kelahiran tersebut, “Devadatta adalah saudagar muda yang dungu itu, para pengikut saudagar dungu itu merupakan pengikutnya; pengikut saudagar yang cerdik itu adalah pengikut Buddha, dan saudagar yang cerdik itu adalah Saya sendiri.”

salam ceria...

JATAKA

DAFTAR ISI JATAKA

1. APAṆṆAKA-JATAKA
2. VANNUPATHA- JATAKA
3. SERIVANIJA- JATAKA
4. CULLAKA-SETTHI-JATAKA
5. TANDULANALI- JATAKA
6. DEVADHAMMA- JATAKA
7. KATTHAHARI- JATAKA
8. GAMANI- JATAKA
9. MAKHADEVA-JATAKA
10. SUKHAVIHARI- JATAKA
11. LAKKHANA-JATAKA
12. NIGRODHAMIGA-JATAKA
13. KANDINA- JATAKA
14. VATAMIGA- JATAKA
15. KHARADIYA-JATAKA
16. TIPALLATTHAMIGA- JATAKA
17. MALUTA- JATAKA
18. MATAKABHATTA-JATAKA
19. AYACITABHATTA- JATAKA
20. NALAPANA-JATAKA
21. KURUNGA- JATAKA
22. KUKKURA- JATAKA
23. BHOJAJANIYA- JATAKA
24. AJANNA- JATAKA
25. TITTHA- JATAKA
26. MAHILAMUKHA-JATAKA
27. ABHINHA-JATAKA
28. NANDIVISALA-JATAKA
29. KANHA- JATAKA
30. MUNIKA- JATAKA
31. KULAVAKA- JATAKA
32. NACCA- JATAKA
33. SAMMODAMANA- JATAKA
34. MACCHA- JATAKA
35. VATTAKA- JATAKA
36. SAKUNA- JATAKA
37. TITTIRA- JATAKA
38. BAKA- JATAKA
39. NANDA- JATAKA
40. KHADIRANGARA- JATAKA
41. LOSAKA- JATAKA
42. KAPOTA- JATAKA
43. VELUKA- JATAKA
44. MAKASA- JATAKA
45. ROHINI- JATAKA
46. ARAMADUSAKA-JATAKA
47. VARUNI- JATAKA
48. VEDABBHA- JATAKA
49. NAKKHATTA- JATAKA
50. DUMMEDHA- JATAKA
51. MAHASILAVA-JATAKA
52. CULAJANAKA-JATAKA
53. PUNNAPATI-JATAKA
54. PHALA-JATAKA
55. PAÑCAVUDHA-JATAKA
56. KAÑCANAKKHANDHA-JATAKA
57. VANARINDA-JATAKA
58. TAYODHAMMA-JATAKA
59. BHERIVADA-JATAKA
60. SAMKHADHAMANA-JATAKA
61. ASATAMANTA-JATAKA
62. ANDABHUTA-JATAKA
63. TAKKA-JATAKA
64. DURAJANA-JATAKA
65. ANABHIRATI-JATAKA
66. MUDULAKKHANA-JATAKA
67. UCCHANGA-JATAKA
68. SAKETA-JATAKA
69. VISAVANTA-JATAKA
70. KUDDALA-JATAKA
71. VARANA-JATAKA
72. SILAVANAGA-JATAKA
73. SACCAMKIRA-JATAKA
74. RUKKHADHAMMA-JATAKA
75. MACCHA-JATAKA
76. ASAMKIYA-JATAKA
77. MAHASUPINA-JATAKA
78. ILLISA-JATAKA
79. KHARASSARA-JATAKA
80. BHIMASENA-JATAKA
81. SURAPANA-JATAKA
82. MITTAVINDA-JATAKA
83. KALAKANNI-JATAKA
84. ATTHASSADVARA-JATAKA
85. KIMPAKKA-JATAKA
86. SILAVIMAMSANA-JATAKA
87. MAMGALA-JATAKA
88. SARAMBHA-JATAKA
89. KUHAKA-JATAKA
90. AKATAÑÑU-JATAKA
91. LITTA-JATAKA
92. MAHASARA-JATAKA
93. VISSASABHOJANA-JATAKA
94. LOMAHAMSA-JATAKA
95. MAHASUDASSANA-JATAKA
96. TELAPATTA-JATAKA
97. NAMASIDDHI-JATAKA
98. KUTAVANIJA-JATAKA
99. PAROSAHASSA-JATAKA
100. ASATARUPA-JATAKA
101. PAROSATA-JATAKA
102. PANNIKA-JATAKA
103. VERI-JATAKA
104. MITTAVINDA-JATAKA
105. DUBBALAKATTHA-JATAKA
106. UDAÑCANI-JATAKA
107. SALITTAKA-JATAKA
108. BAHIYA-JATAKA
109. KUNDAKAPUVA-JATAKA
110. SABBASAMHARAKA-JATAKA
111. GADRABHA-JATAKA
112. AMARADEVI-JATAKA
113. SIGALA-JATAKA
114. MITACINTI-JATAKA
115. ANUSASIKA-JATAKA
116. DUBBACA-JATAKA
117. TITTIRA-JATAKA
118. VATTAKA-JATAKA
119. AKALARAVI-JATAKA
120. BANDHANAMOKKHA-JATAKA
121. KUSANALI-JATAKA
122. DUMMEDHA-JATAKA
123. NANGALISA-JATAKA
124. AMBA-JATAKA
125. KATAHAKA-JATAKA
126. ASILAKKHANA-JATAKA
127. KALANDUKA-JATAKA
128. BILARA-JATAKA
129. AGGIKA-JATAKA
130. KOSIYA-JATAKA
131. ASAMPADANA-JATAKA
132. PAÑCAGARU-JATAKA
133. GHATASANA-JATAKA
134. JHANASODHANA-JATAKA
135. CANDABHA-JATAKA
136. SUVANNAHAMSA-JATAKA
137. BABBU-JATAKA
138. GODHA-JATAKA
139. UBHATOBHATTHA-JATAKA
140. KAKA-JATAKA
141. GODHA-JATAKA
142. SIGALA-JATAKA
143. VIROCANA-JATAKA
144. NANGUTTHA-JATAKA
145. RADHA-JATAKA
146. KAKA-JATAKA
147. PUPPHARATTA-JATAKA
148. SIGALA-JATAKA
149. EKAPANNA-JATAKA
150. SAÑJIVA-JATAKA
151. RAJOVADA-JATAKA
152. SIGALA-JATAKA
153. SUKARA-JATAKA
154. URAGA-JATAKA
155. GAGGA-JATAKA
156. ALINA-CITTA-JATAKA
157. GUNA-JATAKA
158. SUHANU-JATAKA
159. MORA-JATAKA
160. VINILAKA-JATAKA
161. INDASAMANAGOTTA-JATAKA
162. SANTHAVA-JATAKA
163. SUSIMA-JATAKA
164. GIJJHA-JATAKA
165. NAKULA-JATAKA
166. UPASALHA-JATAKA
167. SAMIDDHI-JATAKA
168. SAKUNAGGHI-JATAKA
169. ARAKA-JATAKA
170. KAKANTAKA-JATAKA
171. KALYANA-DHAMMA-JATAKA
172. DADDARA-JATAKA
173. MAKKATA-JATAKA
174. DUBHIYA-MAKKATA-JATAKA
175. ADICCUPATTHANA-JATAKA
176. KALAYA-MUTTHI-JATAKA
177. TINDUKA-JATAKA
178. KACCHAPA-JATAKA
179. SATADHAMMA-JATAKA
180. DUDDADA-JATAKA
181. ASADISA-JATAKA
182. SAMGAMAVACARA-JATAKA
183. VALODAKA-JATAKA
184. GIRIDANTA-JATAKA
185. ANABHIRATI-JATAKA
186. DADHI-VAHANA-JATAKA
187. CATUMATTA-JATAKA
188. SIHAKOTTHUKA-JATAKA
189. SIHACAMMA-JATAKA
190. SILANISAMSA-JATAKA
191. RUHAKA-JATAKA
192. SIRI-KALAKANNI-JATAKA
193. CULLA-PADUMA-JATAKA
194. MANICORA-JATAKA
195. PABBATUPATTHARA-JATAKA
196. VALAHASSA-JATAKA
197. MITTAMITTA-JATAKA
198. RADHA-JATAKA
199. GAHAPATI-JATAKA
200. SADHUSILA-JATAKA
201. BANDHANAGARA-JATAKA
202. KELI-SILA-JATAKA
203. KHANDHA-VATTA-JATAKA
204. VIRAKA-JATAKA
205. GANGEYYA-JATAKA
206. KURUNGA-MIGA-JATAKA
207. ASSAKA-JATAKA
208. SUMSUMARA-JATAKA
209. KAKKARA-JATAKA
210. KANDAGALAKA-JATAKA
211. SOMADATTA-JATAKA
212. UCCHITTHA-BHATTA-JATAKA
213. BHARU-JATAKA
214. PUNNA-NADI-JATAKA
215. KACCHAPA-JATAKA
216. MACCHA-JATAKA
217. SEGGU-JATAKA
218. KUTA-VANIJA-JATAKA
219. GARAHITA-JATAKA
220. DHAMMADDHAJA-JATAKA
221. KASAVA-JATAKA
222. CULA-NANDIYA-JATAKA
223. PUTA-BHATTA-JATAKA
224. KUMBHILA-JATAKA
225. KHANTI-VANNANA-JATAKA
226. KOSIYA-JATAKA
227. GUTHA-PANA-JATAKA
228. KAMANITA-JATAKA
229. PALAYI-JATAKA
230. DUTIYA-PALAYI-JATAKA
231. UPAHANA-JATAKA
232. VINA-THUNA-JATAKA
233. VIKANNAKA-JATAKA
234. ASITABHU-JATAKA
235. VACCHA-NAKHA-JATAKA
236. BAKA-JATAKA
237. SAKETA-JATAKA
238. EKAPADA-JATAKA
239. HARITA-MATA-JATAKA
240. MAHA-PINGALA-JATAKA
241. SABBADATHA-JATAKA
242. SUNAKHA-JATAKA
243. GUTTILA-JATAKA
244. VITICCHA-JATAKA
245. MULA-PARIYAYA-JATAKA
246. TELOVADA-JATAKA
247. PADANJALI-JATAKA
248. KIMSUKOPAMA-JATAKA
249. SALAKA-JATAKA
250. KAPI-JATAKA
251. SAMKAPPA-JATAKA
252. TILA-MUTTHI-JATAKA
253. MANI-KANTHA-JATAKA
254. KUNDAKA-KUCCHI-SINDHAVA-JATAKA
255. SUKA-JATAKA
256. JARUDAPANA-JATAKA
257. GAMANI-CANDA-JATAKA
258. MANDHATU-JATAKA
259. TIRITA-VACCHA-JATAKA
260. DUTA-JATAKA
261. PADUMA-JATAKA
262. MUDU-PANI-JATAKA
263. CULLA-PALOBHANA-JATAKA
264. MAHA-PANADA-JATAKA
265. KHURAPPA-JATAKA
266. VATAGGA-SINDHAVA-JATAKA
267. KAKKATA-JATAKA
268. ARAMA-DUSA-JATAKA
269. SUJATA-JATAKA
270. ULUKA-JATAKA
271. UDAPANA-DUSAKA-JATAKA
272. VYAGGHA-JATAKA
273. KACCHAPA-JATAKA
274. LOLA-JATAKA
275. RUCIRA-JATAKA
276. KURU-DHAMMA-JATAKA
277. ROMAKA-JATAKA
278. MAHISA- JATAKA
279. SATAPATTA-JATAKA
280. PUTA-DUSAKA-JATAKA
281. ABBHANTARA-JATAKA
282. SEYYA-JATAKA
283. VADDHAKI-SUKARA-JATAKA
284. SIRI-JATAKA
285. MANI-SUKARA-JATAKA
286. SALUKA-JATAKA
287. LABHA-GARAHA-JATAKA
288. MACCHUDDANA-JATAKA
289. NANACHANDA-JATAKA
290. SILA-VIMAMSA-JATAKA
291. BHADRA-GHATA-JATAKA
292. SUPATTA-JATAKA
293. KAYA-VICCHINDA-JATAKA
294. JAMBU-KHADAKA-JATAKA
295. ANTA-JATAKA
296. SAMUDDA-JATAKA
297. KAMA-VILAPA-JATAKA
298. UDUMBARA-JATAKA
299. KOMAYA-PUTTA-JATAKA
300. VAKA-JATAKA
301. CULLAKALINGA-JATAKA
302. MAHA-ASSAROHA-JATAKA
303. EKARAJA-JATAKA
304. DADDARA-JATAKA
305. SILAVIMAMSANA-JATAKA
306. SUJATA-JATAKA
307. PALASA-JATAKA
308. JAVASAKUNA-JATAKA
309. CHAVAKA-JATAKA
310. SAYHA-JATAKA
311. PUCIMANDA-JATAKA
312. KASSAPAMANDIYA-JATAKA
313. KHANTIVADI-JATAKA
314. LOHAKUMBHI-JATAKA
315. MAMSA-JATAKA
316. SASA-JATAKA
317. MATARODANA-JATAKA
318. KANAVERA-JATAKA
319. TITTIRA-JATAKA
320. SUCCAJA-JATAKA
321. KUTIDUSAKA-JATAKA
322. DADDABHA-JATAKA
323. BRAHMADATTA-JATAKA
324. CAMMASATAKA-JATAKA
325. GODHA-JATAKA
326. KAKKARU-JATAKA
327. KAKATI-JATAKA
328. ANANUSOCIYA-JATAKA
329. KALABAHU-JATAKA
330. SILAVIMAMSA-JATAKA
331. KOKALIKA-JATAKA
332. RATHALATTHI-JATAKA
333. GODHA-JATAKA
334. RAJOVADA-JATAKA
335. JAMBUKA-JATAKA
336. BRAHACHATTA-JATAKA
337. PITHA-JATAKA
338. THUSA-JATAKA
339. BAVERU-JATAKA
340. VISAYHA-JATAKA
341. KANDARI-JATAKA
342. VANARA-JATAKA
343. KUNTANI-JATAKA
344. AMBACORA-JATAKA
345. GAJAKUMBHA-JATAKA
346. KESAVA-JATAKA
347. AYAKUTA-JATAKA
348. ARAÑÑA-JATAKA
349. SANDHIBHEDA-JATAKA
350. DEVATAPANHA-JATAKA
351. MANIKUNDALA-JATAKA
352. SUJATA-JATAKA
353. DHONASAKHA-JATAKA
354. URAGA-JATAKA
355. GHATA-JATAKA
356. KARANDIYA-JATAKA
357. LATUKIKA-JATAKA
358. CULLADHAMMAPALA-JATAKA
359. SUVANNAMIGA-JATAKA
360. SUSSONDI-JATAKA
361. VANNAROHA-JATAKA
362. SILAVIMANSA-JATAKA
363. HIRI-JATAKA
364. KHAJJOPANAKA-JATAKA
365. AHIGUNDIKA-JATAKA
366. GUMBIYA-JATAKA
367. SALIYA-JATAKA
368. TACASARA-JATAKA
369. MITTAVINDA-JATAKA
370. PALASA-JATAKA
371. DIGHITIKOSALA-JATAKA
372. MIGAPOTAKA-JATAKA
373. MUSIKA-JATAKA
374. CULLADHANUGGAHA-JATAKA
375. KAPOTA-JATAKA
376. AVARIYA-JATAKA
377. SETAKETU-JATAKA
378. DARIMUKHA-JATAKA
379. NERU-JATAKA
380. ASANKA-JATAKA
381. MIGALOPA-JATAKA
382. SIRIKALAKANNI-JATAKA
383. KUKKUTA-JATAKA
384. DHAMMADDHAJA-JATAKA
385. NANDIYAMIGA JATAKA
386. KHARAPUTTA-JATAKA
387. SUCI-JATAKA
388. TUNDILA-JATAKA
389. SUVANNAKAKKATA JATAKA
390. MAYHAKA-JATAKA
391. DHAJAVIHETHA-JATAKA
392. BHISAPUPPHA-JATAKA
393. VIGHASA-JATAKA
394. VATTAKA-JATAKA
395. KAKA-JATAKA
396. KUKKU-JATAKA
397. MANOJA-JATAKA
398. SUTANO-JATAKA
399. GIJJHA-JATAKA
400. DABBHAPUPPHA-JATAKA
401. DASANNAKA-JATAKA
402. SATTUBHASTA-JATAKA
403. ATTHISENA-JATAKA
404. KAPI-JATAKA
405. BAKABRAHMA-JATAKA
406. GANDHARA-JATAKA
407. MAHAKAPI-JATAKA
408. KUMBHAKARA-JATAKA
409. DALHADHAMMA-JATAKA
410. SOMADATTA-JATAKA
411. SUSIMA-JATAKA
412. KOTISIMBALI-JATAKA
413. DHUMAKARI-JATAKA
414. JAGARA-JATAKA
415. KUMMASAPINDA-JATAKA
416. PARANTAPA-JATAKA
417. KACCANI-JATAKA
418. ATTHASADDA-JATAKA
419. SULASA-JATAKA
420. SUMANGALA-JATAKA
421. GANGAMALA-JATAKA
422. CETIYA-JATAKA
423. INDRIYA-JATAKA
424. ADITTA-JATAKA
425. ATTHANA-JATAKA
426. DIPI-JATAKA
427. GIJJHA-JATAKA
428. KOSAMBI-JATAKA
429. MAHASUKA-JATAKA
430. CULLASUKA-JATAKA
431. HARITA-JATAKA
432. PADAKUSALAMANAVA-JATAKA
433. LOMASAKASSAPA-JATAKA
434. CAKKAVAKA-JATAKA
435. HALIDDIRAGA-JATAKA
436. SAMUGGA-JATAKA
437. PUTIMAMSA-JATAKA
438. TITTIRA-JATAKA
439. CATU-DVARA-JATAKA
440. KANHA-JATAKA
441. CATU-POSATHIKA-JATAKA
442. SAMKHA-JATAKA
443. CULLA-BODHI-JATAKA
444. KANDHADIPAYANA-JATAKA
445. NIGRODHA-JATAKA
446. TAKKALA-JATAKA
447. MAHA-DHAMMA-PALA-JATAKA
448. KUKKUTA-JATAKA
449. MATTA-KUNDALI-JATAKA
450. BILARI-KOSIYA-JATAKA
451. CAKKA-VAKA-JATAKA
452. BHURI-PAÑHA-JATAKA
453. MAHA-MANGALA-JATAKA
454. GHATA-JATAKA
455. MATI-POSAKA-JATAKA
456. JUNHA-JATAKA
457. DHAMMA-JATAKA
458. UDAYA-JATAKA
459. PANIYA-JATAKA
460. YUVANJAYA-JATAKA
461. DASARATHA-JATAKA
462. SAMVARA-JATAKA
463. SUPPARAKA-JATAKA
464. CULLA-KUNALA-JATAKA
465. BHADDA-SALA-JATAKA
466. SAMUDDA-VANIJA-JATAKA
467. KAMA-JATAKA
468. JANASANDHA-JATAKA
469. MAHA-KANHA-JATAKA
470. KOSIYA-JATAKA
471. MENDAKA-JATAKA
472. MAHA-PADUMA-JATAKA
473. MITTAMITTA-JATAKA
474. AMBA-JATAKA
475. PHANDANA-JATAKA
476. JAVANA-HAMSA-JATAKA
477. CULLA-NARADA-JATAKA
478. DUTA-JATAKA
479. KALINGA-BODHI-JATAKA
480. AKITTA-JATAKA
481. TAKKARIYA-JATAKA
482. RURU-JATAKA
483. SARABHA-MIGA-JATAKA
484. SALIKEDARA-JATAKA
485. CANDA-KINNARA-JATAKA
486. MAHA-UKKUSA-JATAKA
487. UDDALAKA-JATAKA
488. BHISA-JATAKA
489. SURUCI-JATAKA
490. PAÑC-UPOSATHA-JATAKA
491. MAHA-MORA-JATAKA
492. TACCHA-SUKARA-JATAKA
493. MAHA-VANIJA-JATAKA
494. SADHINA-JATAKA
495. DASA-BRAHMANA-JATAKA
496. BHIKKHA-PARAMPARA-JATAKA
497. MATANGA-JATAKA
498. CITTA-SAMBHUTA-JATAKA
499. SIVI-JATAKA
500. SIRIMANDA-JATAKA
501. ROHANTA-MIGA-JATAKA
502. HAMSA-JATAKA
503. SATTIGUMBA-JATAKA
504. BHALLATIYA-JATAKA
505. NOMANASSA-JATAKA
506. CAMPEYYA-JATAKA
507. MAHA-PALOBHANA-JATAKA
508. PAÑCA-PANDITA-JATAKA
509. HATTHI-PALA-JATAKA
510. AYOGHARA-JATAKA
511. KIMCHANDA-JATAKA
512. KUMBHA-JATAKA
513. JAYADDISA-JATAKA
514. CHANDDANTA-JATAKA
515. SAMBHAVA-JATAKA
516. MAHAKAPI-JATAKA
517. DAKARAKKHASA-JATAKA
518. PANDARA-JATAKA
519. SAMBULA-JATAKA
520. GANDATINDU-JATAKA
521. TESAKUNA-JATAKA
522. SARABHANGA-JATAKA
523. ALAMBUSA-JATAKA
524. SAMKHAPALA-JATAKA
525. CULLA-SUTASOMA-JATAKA
526. NALINIKA-JATAKA
527. UMMADANTI-JATAKA
528. MAHABODHI-JATAKA
529. SONAKA-JATAKA
530. SAMKICCA-JATAKA
531. KUSA-JATAKA
532. SONA-NANDA-JATAKA
533. CULLA-HAMSA-JATAKA
534. MAHA-HAMSA-JATAKA
535. SUDHABHOJANA-JATAKA
536. KUNALA-JATAKA
537. MAHA-SUTASOMA-JATAKA
538. MUGA-PAKKHA-JATAKA
539. MAHAJANAKA-JATAKA
540. SAMA-JATAKA
541. NIMI-JATAKA
542. THE KHANDAHALA-JATAKA
543. BHURIDATTA-JATAKA
544. MAHANARADAKASSAPA-JATAKA
545. VIDHURAPANDITA-JATAKA
546. THE MAHA-UMMAGGA-JATAKA
547. VESSANTARA-JATAKA

maaf sxlg maaf © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute