Tampilkan postingan dengan label Dewa Dewi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dewa Dewi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

Sang Dewa Reksa Arta


Dalam mitologi China, banyak tokoh yang dapat dijadikan panutan bagi pengembangan batin dan moralitas. Tak ada batasan strata maupun gender yang menjadi aral dalam pembentukan karakter bijaksana tersebut, Mereka dapat dari kalangan apa saja, Bangsawan ataupun jelata, Laki-laki maupun perempuan.

Sebab sosok demikian, murni lahir dan berangkat dari sebuah cita luhur. Maka dalam perkembangan zaman, mereka tidak pernah dapat dilupakan oleh rakyat. Menjadi legenda turun-temurun, diteladani dan disanjung setinggi langit. Mereka adalah maharesi yang mengisi dunia ini dengan cinta dan kasih. Mereka adalah manusia-manusia yang diradi Langit. Dan salah satunya adalah Zhao Gong Ming, Sang Dewa Reksa Arta.

Sesungguhnya ada dua sosok Sang Dewa Reksa Arta yang merupakan jelma jelata menjadi totem di Langit. Sosok pertama adalah Dewa Reksa Arta Wu dan yang kedua adalah, Dewa Reksa Arta Wen. Dalam kepercayaan masyarakat Tiongkok kuno, masing-masing ‘dewa’ tersebut memiliki tugas dan tanggung-jawab masing-masing. Pembedaan lainnya adalah, mereka secara ‘jasadi’ memiliki bentuk sosok yang lain di antara masing-masing figur.

Penggambaran Dewa Reksa Arta Wu misalnya, berwajah hitam mengenakan zirah besi khas bentara kekaisaran dengan tangan memegang ‘koin’ tipikal kuna Tionggoan. Ia kerap menunggangi seekor macan hitam sementara tangannya yang lain memegang cemerti sakti. Cikal bakal penembahan Dewa Reksa Arta Wu ini bermuasal dari moralitas dan dedikasi yang telah diaplikasikannya bagi lingkungan rakyat sekitarnya.


Tersebutlah Zhao Gong Ming. Ia merupakan salah satu jelata yang berasal dan lahir di Zhao Nan Shan, Tiongkok. Hampir sepanjang perjalanan semasa kecil dan mudanya, ia berkubang terus-menerus di dalam kemiskinan. Praktis Zhao Gong Ming muda menggantungkan hidupnya dari mengemis belas kasihan orang-orang.

Semua ini demi menghidupi ibunya yang sudah tua dan uzur. Legenda mengungkap bahwa ‘dewata’ di Langit tersentuh oleh baktinya yang demikian besar terhadap ibunya itulah, sehingga kemudian ia diberi anugerah rezeki melimpah. Pada suatu ketika, ketika rundungan kelaparan yang nyaris merenggut nyawa kedua ibu-beranak itu, maka ‘dewata’ menurunkan sebuah ‘mangkuk sakti’ yang dapat menghasilkan harta emas.

Maka, sejak saat itu, Zhao Gong Ming menjadi salah satu orang terkaya di desanya. Berbekal karunia ‘kekayaan’ dari Langit itu pula ia membantu penduduk miskin tanpa berpamrih dan tanpa pandang bulu. Ia menjadi satu-satunya dermawan yang tidak angkuh dan sombong. Ia disayangi oleh rakyat. Dan sejak saat itu pula namanya mulai melegenda.

Namun keberhasilannya senantiasa menangkup bagai jelaga awan hitam di atas langit. Zhao Gong Ming yang berpekerti baik dimusuhi oleh beberapa bangsawan dan saudagar jahat yang menganggapnya telah merenggut popularitas mereka. Simpati penduduk terhadap Zhao Gong Ming yang palamarta pula dianggap sebagai hal yang memalukan bagi mereka yang berstatus sosial tinggi. Sebab sudah turun-temurun keluarga mereka telah menjadi pandega dan pemuka masyarakat.


Maka pada suatu ketika, mereka berkonspirasi untuk melenyapkan nyawa Zhao Gong Ming. Mereka lalu membayar beberapa perewa untuk melakukan aksi tidak berperikemanusiaan tersebut.

Dan dalam sebuah skenario insiden pembunuhan, para perewa tersebut membakar tubuh Zhao Gong Ming sehingga jasadnya hancur mengarang dan wajah insan berbudi luhur itu menghitam—inilah penggambaran mengapa wajah Dewa Reksa Arta Wu Zhao Gong Ming adalah hitam.

Jiwa almarhum Zhao Gong Ming kemudian diangkat ke Nirwana oleh Kaisar Langit, Yi Huang Da Di, dan berangkat dari kebajikan dan kedermawanannya, maka ia dianugerahi sebagai Dewa Reksa Arta Wu.

Ia diberi amanat dan bertugas sebagai pemimpin ‘Asta Reksa Pengrajin Emas dan Perak’, yang melindungi harta para dermawan dari perampok atau saudargar hitam yang bersekutu dengan makhluk autotrop untuk mencuri. Ia pulalah yang mengatur kekayaan insan di dunia sesuai pahala dan budi baik yang mereka lakukan.

Mengemban tugas mulia dari Langit tersebut, Dewa Reksa Arta Wu Zhao Gong Ming diberi seekor macan hitam sebagai kendaraan tunggang yang loyal dan mengikutinya ke mana saja. Ia juga diberikan seekor burung Hong Emas—phoenix—yang dapat menempuh jarak mahapanjang, dan bertugas sebagai infois yang dapat membedakan insan batil maupun bajik.

Dari informasi burung Hong Emas itu pulalah maka ia dapat menimbang ‘pembagian’ harta bagi masing-masing pelaku kebajikan. Semakin besar pahala baik seseorang, maka makin besar pulalah rezeki dan harta yang akan diperolehnya.

Legenda tentang Dewa Reksa Arta Zhao Gong Ming sebenarnya beredar dalam berbagai versi. Namun yang paling populer selain kisah di atas tadi adalah pengisahan dirinya dalam cerita rakyat yang bernama Feng Shen Yan Yi—Kisah Wisesa Widyaiswara Hong Sin.


Tersebutlah seorang pertapa bernama Zhao Gong Ming yang tekun melatih dan mengasah pancacita demi pengembangan kehidupan rakyat yang lebih baik. Ia tulus bersemedi di sebuah gunung bernama Omei.

Pada akhir kekuasaan Dinasti Shang, ia diundang oleh Kaisar Zhou untuk menghadapi Jiang Zi Ya, yang merupakan tokoh penting antipemerintah rival utama Kekaisaran. Mengemban amar dari Sang Kaisar, ketika ia turun gunung untuk mencari Jiang Zi Ya, Zhao Gong Ming dihadang seekor macan berbulu hitam di sebuah hutan kaki gunung.

Pergulatan dengan binatang buas tersebut tak dapat dihindari. Berbekal kesaktiannya sebagai maharesi, maka dengan mudah Zhao Gong Ming dapat menaklukkan sang Macan Hitam itu. Selang berikutnya, ia dapat membudaki macan berbulu hitam tersebut sebagai kendaraan tunggangnya. Sejak saat itulah sang Macan Hitam bertubuh sebesar kuda itu menjadi abdi bagi Zhao Gong Ming.

Akhirnya, bersama sang Macan Hitam, Zhao Gong Ming terus mencecar dan memburu Jiang Zi Ya. Dalam sebuah pertemuan penuh amarah, mereka bertarung sengit. Berbekal cemeti saktinya, Zhao Gong Ming dapat mengalahkan Jiang Zi Ya. Nasib baik masih berpihak kepada Jiang Zi Ya, sebab ia dapat meloloskan dirinya dari sergapan Zhao Gong Ming yang hendak membunuhnya.


Dengan tubuh luka-luka dan berlumuran darah, ia melarikan diri dari cengkeraman sakratulmaut. Jiang Zi Ya yang tengah berputus asa bertemu dengan seorang rahib Tao sakti, yang berasal dari daerah perbukitan Khung Lung. Ia berguru ilmu pada maharesi itu. Dan setelah merasa sudah siap untuk bertarung, maka ia berangkat untuk mencari Zhao Gong Ming.

Suatu ketika mereka bertemu dan bertarung kembali. Dalam pertarungan tersebut, Jiang Zi Ya yang sudah memiliki kesaktian tinggi dapat membunuh Zhao Gong Ming.
Setelah pertarungan itu, alkisah, Jiang Zi Ya yang sesungguhnya seorang jelata berpekerti baik namun kontrapemerintah nan zalim, mendapat karunia dari Langit. Ia diberi kitab ‘Yu Fu Jin’ dari Kaisar Langit yang lebih lazim dikenal sebagai Yuan Shi Tian Cun.

Kitab tersebut merupakan madah sakti yang dapat mengangkat arwah seseorang menjadi ‘dewa’. Memanuti amar dan putusan Langit yang memprioritaskan ‘dewa’ berasal dari manusia berbudi luhur, maka tanpa dilandasi ‘perseteruan’-nya yang pernah terjadi dengan Zhao Gong Ming semasa mendiang masih hidup sebagai manusia, ia mengangkat arwah ‘musuh’-nya itu menjadi ‘Jin Long Ru Yi Zheng Yi Long Hu Xuan Tan Zhen Jun’ atau Dewa Reksa Arta yang memimpin dan mengatur kekayaan manusia pada Dunia Belahan Timur.

Kemudian, tidak lama berselang pada saat bersamaan, Jian Zi Ya pun menitahi Na Zhen Tian Cun Ji Bao, juga dewa bersetarata sama yang berasal dari manusia bajik, memimpin dan mengatur kekayaan manusia di Dunia Belahan Barat. Zhao Cai Shi Zhe Deng Jiu Gong yang bermuasal serupa mereka berdua tadi, memimpin dan mengatur kekayaan manusia di Dunia Belahan Selatan. Dan terakhir adalah, Xian Guan Tao Shao Si. Tugas salah satu dari empat Dewa Reksa Arta ini memimpin dan mengatur kekayaan manusia di Dunia Belahan Utara.


Itulah ihwal empat sosok Dewa Reksa Arta yang ditugasi mengatur kekayaan dan kemakmuran manusia. Kisah yang melegenda tersebut disikapi sebagian masyarakat Tionghoa sebagai pedoman dalam pengembangan pancacita: sebuah pencerahan batin dalam rangka pencapaian kebahagiaan, kemakmuran, kesejahteraan, kekayaan, dan kesehatan. Bersama Jiang Zi Ya, keempat dewa itu kerap disebut Wu Lu Cai Shen atau Dewa Reksa Arta Lima Penjuru.

Dan setiap penanggalan lunar imlek yang jatuh pada tanggal limabelas bulan tiga, masyarakat yang masih turun-temurun mereplikasi kebajikan jelata jelma ‘dewa’ tersebut pasti merayakan seremoni ‘ulangtahun’ yang mengacu pada hari kelahiran Zhao Gong Ming.

Bagi siapa yang membaca blog ini, silahkan berikan komentar khusus untuk mengetahui sejarah dari Zhao Gong Ming yang lebih detil, otentik dan informasi di daerah mana saja ada Vihara Zhao Gong Ming ini.



salam ceria...

Kamis, 19 Juli 2012

Kisah Pan Gu


Dalam sejarah Tionghoa disebutkan seorang makhluk bernama(Pán Gu). Ia dikisahkan sebagai leluhur pembuka langit dan bumi yang dengan sekuat kemampuannya dan mengorbankan nyawanya sendiri untuk menggantikan keberadaan dunia ini.

“Pán Gu umumnya dilukiskan sebagai raksasa primitif berbulu dengan tanduk di kepalanya dan memakai pakaian dari bulu binatang,” ujar Sunanto Eddy Tamrin, seorang peminat budaya Tionghoa kepada Tribun belum lama ini.

Dengan kata lain, Pán Gu adalah wujud dari alam semesta, dalam legenda memisahkan langit dan bumi. Ia juga diyakni sudah menciptakan unsur kebudayaan, ilmu pengetahuan dan filosofi yang sangat kaya dan menarik. “Semangat dan kerja keras Pángu yang sampai mengorbankan diri untuk membentuk dunia merupakan semangat manusiawi yang paling luhur dan tinggi,” papar Sunanto.


“Selama ribuan tahun, legenda Pán Gu di atas dunia yang ia ciptakan dengan mengorbankan jiwanya tetap dikenang dan disebarluaskan dari generasi ke generasi. Tak pelak Pán Gu menjadi satu di antara mutiara dalam kebudayaan Tionghoa,” tambahnya.

Ketika alam semesta baru mulai, tak ada apapun di alam ini, kecuali suatu kekacauan tanpa bentuk. Tetapi kemudian kekacauan ini mulai bersatu dalam suatu kosmis berbentuk telur untuk waktu 18.000 tahun.
Di dalam kosmis itu, dengan sempurna terdapat prinsip Yin dan Yáng yang mulai menjadi seimbang sehingga Pán Gu muncul dan hidup (atau bangun) dalam telur tersebut.

Pán Gu langsung memulai tugas menciptakan dunia, antara lain memisahkan Yin dan Yáng dengan ayunan dari kampak raksasanya, menciptakan bumi (Yin yang suram, kuning telur) dan langit (Yáng yang bersih, putih telur). Untuk menjaga bumi dan langit tetap terpisah, Pán Gu berdiri di antara bumi dan langit dan mendorong langit ke atas. Tugas ini menghabiskan waktu selama 18 ribu tahun, di mana setiap hari langit naik 10 kaki lebih tinggi, bumi 10 kaki lebih luas, dan Pán Gu tumbuh 10 kaki lebih tinggi.


Dalam beberapa versi cerita ini, Pán Gu dalam tugas ini dibantu oleh empat binatang yang sangat terkenal dalam tradisi Tionghoa, yakni Xuánwu (Kura-kura), Qílín (Kirin), Fènghuáng (Phoenix), dan Lóng (Naga).

Setelah 18 ribu tahun berlalu, Pán Gu berbaring untuk istirahat. Hembusan nafasnya diyakini menjadi angin, suaranya menjadi guntur, mata kanannya menjadi matahari dan mata kirinya menjadi bulan. Badannya menjadi pegunungan, darahnya mengalir membentuk sungai, ototnya menjadi tanah yang subur, bulu mukanya menjadi gugusan bintang.

Bulu badannya menjadi hutan dan semak, tulangnya menjadi air mineral yang berharga, sumsum tulangnya menjadi intan yang suci, keringatnya jatuh sebagai hujan, dan makhluk kecil pada badannya yang dibawa oleh angin menjadi manusia di seluruh penjuru dunia.

Penulis pertama untuk catatan mistik Pán Gu adalah Xú Zheng pada zaman Periode Tiga Kerajaan atau periode Zhan Guo. Gunung Pán Gu Shan, yang terletak 15 kilometer arah selatan Mìyángxiàn Provinsi Hénán, China diyakini sebagai tempat di mana Pán Gu memisahkan langit dan bumi, menciptakan manusia dan segala makluk didunia ini.

salam ceria...

Dewi Nuwa


Dalam mitologi Cina, Nuwa adalah karakter mitologi terkenal karena menciptakan dan mereproduksi orang setelah bencana besar. Tradisi lain kemudian nama ini sebagai sebuah penciptaan mitos yang dikaitkan baik Pangu atau Yu Huang.

Nuwa di berbagai peran

Sebuah lukisan kuno Nuwa dan Fuxi digali di Xinjiang.Since Nuwa disajikan berbeda dalam mitos begitu banyak, tidak akurat untuk mengikat "dia" turun sebagai pencipta, perempuan ibu, dewi, atau bahkan. Tergantung pada mitos, "dia" bertanggung jawab untuk menjadi seorang istri, saudara perempuan, pria, pemimpin suku (atau bahkan kaisar), pencipta, pemelihara, dll Tidak jelas dari bukti-bukti yang pandangan datang lebih dulu. Terlepas dari asal-usul, mitos yang paling menyajikan Nuwa sebagai perempuan dalam peran prokreasi setelah bencana.

Nuwa sebagai sebuah repairer

Peran sastra awal tampaknya menjadi perawatan dan pemeliharaan Tembok Surga, yang runtuh akan melenyapkan segalanya. Perhatikan juga asosiasi untuk tradisi Deluge bawah ini.

Ada pertengkaran antara dua para dewa lebih kuat, dan mereka memutuskan untuk menetap dengan perkelahian. Ketika Falun Gong air dewa melihat bahwa ia kalah, ia menghancurkan kepalanya ke Gunung Buzhou , tiang mengangkat langit. Pilar runtuh dan menyebabkan langit untuk memiringkan ke arah barat laut dan bumi bergeser ke tenggara. Hal ini menyebabkan banjir besar dan penderitaan bagi rakyat.

Nuwa memotong kaki kura-kura raksasa dan menggunakannya untuk menggantikan pilar jatuh, mengurangi situasi dan menyegel langit rusak menggunakan batu dari tujuh warna berbeda, tapi ia tidak dapat sepenuhnya memperbaiki langit miring. Hal ini menjelaskan fenomena bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang bergerak menuju barat laut, dan sungai-sungai di tenggara aliran Cina ke Samudera Pasifik. (Akun ini mirip dengan rekening Huainanzi; itu ditambahkan sebagai The Pemeliharaan dan Perawatan Surga)

Versi lain dari cerita ini menggambarkan Nuwa naik ke surga dan mengisi kesenjangan dengan tubuhnya (ular setengah setengah manusia) dan dengan demikian menghentikan banjir. Menurut legenda ini beberapa minoritas di Barat Daya Cina hujan es Nuwa sebagai dewi mereka dan beberapa festival seperti 'Air-percikan Festival' adalah sebagian penghargaan untuk pengorbanan nya.


Nuwa sebagai pencipta

Peran utama berikutnya dari Nuwa adalah dewa pencipta. Namun, tidak banyak cerita menganggap penciptaan dirinya dari segala sesuatu, mereka biasanya membatasi dia untuk penciptaan manusia. Banyak dari umat manusia fitur cerita yang diciptakan atau dipulihkan setelah bencana.

Dikatakan yang Nuwa ada pada awal dunia. Dia merasa kesepian karena tidak ada hewan sehingga dia memulai penciptaan hewan dan manusia, yang berarti dia telah memberikan nama bagi hewan.

Pada hari pertama dia menciptakan ayam.
Pada hari kedua dia menciptakan anjing.
Pada hari ketiga dia menciptakan domba.
Pada hari keempat dia menciptakan babi.
Pada hari kelima dia menciptakan sapi.
Pada hari keenam dia menciptakan kuda.
Pada hari yang ketujuh ia mulai menciptakan manusia dari tanah liat kuning, patung satu per satu, namun setelah ia menciptakan ratusan tokoh dengan cara ini ia masih memiliki lebih untuk membuat namun telah tumbuh lelah dari proses melelahkan.

Ini adalah upacara mengantongi melahirkan anak.

Jadi, bukannya kerajinan tangan setiap gambar, dia mencelupkan tali di tanah liat dan menjentikkan sehingga gumpalan tanah liat mendarat di mana-mana; masing-masing gumpalan menjadi seseorang.

Ini melambangkan bahwa dia memiliki anak melalui seks dengan Fu-Xi.

Dengan cara ini, cerita berhubungan, adalah bangsawan dan rakyat jelata dibuat dari angka-angka kerajinan tangan dan gumpalan masing-masing. Variasi lain pada cerita ini menceritakan bahwa beberapa tokoh meleleh dalam hujan Nuwa sedang menunggu mereka untuk kering dan dengan cara ini penyakit dan kelainan fisik muncul.


Nuwa sebagai istri atau saudara perempuan

Oleh Dinasti Han, ia dijelaskan dalam literatur dengan Fuxi suaminya sebagai yang pertama dari Huang San, dan sering disebut "orang tua dari manusia". Namun, lukisan yang menggambarkan mereka bergabung sebagai orang setengah - setengah ular naga atau tanggal dengan periode Negara Perang.

"Dikatakan" dalam bentuk naga yang ia dan suaminya diukir sungai-sungai di dunia dan menguras banjir yang dihasilkan. Ini berarti bahwa mereka tahu bagaimana mencegah bahaya air.

salam ceria...

Tongtian Jiaozhu,Pemimpin Agung Para Siluman


Pendahuluan

Saat alam semesta baru saja terbentuk , tersebutlah 3 orang sesepuh dewata yaitu YuanShi TianZun, TaiShang LaoJun & TongTian JiaoZhu yg membagi Taoisme menjadi 2 aliran, yaitu;

-Aliran pegunungan (Chan) yg dipimpin oleh YuanSi TianZun & TaiShang LaoJun.
Pengikut dari aliran ini berasal dari orang2 suci yg mayoritas berwatak welas asih, sabar & suka menolong. (dewa2 macam Er Lang, Nacha, dewa petir, dewa pagoda dsb tergabung dalam aliran ini)

-Aliran kepulauan (Jie) yg dipimpin TongTian JiaoZhu.
Berkebalikan dg aliran pegunungan yg dihuni oleh orang2 suci, aliran kepulauan justru diisi oleh siluman2, baik yg berasal dari hewan, tumbuhan ato bahakan benda mati yg berwatak arogan, egois, pencemburu & gemar mengumbar hawa nafsu .

Karena sifatnya yg sangat bertolak belakang itulah kedua aliran ini tidak pernah akur & sering bentrok diberbagai kesempatan


Pertempuran para dewa

(disarikan dari novel FengShen YanYi bab 76-78 & 82-84)

Raja Zhou (Hokkian; Tiu Ong) dari dinasti Shang adl tiran terkejam dalam sejarah China yg terkenal suka menindas rakyat. Karena tidak tahan lagi dg kekejamannya maka rakyatpun ahirnya memberontak dibawah pimpinanan raja Wu (Hokkian; Bu Ong). Dalam peperangan itu pasukan raja Wu mendapat bantuan dari para dewa & calon dewa dari aliran Chan, sementara pasukan dinasti Shang didukung oleh para siluman2 dari aliran Jie. Karena dewa2 aliran Chan berada dipihak yg benar maka mereka selalu menang & mengalahkan murid2 aliran Jie.

Setelah melalui perjuangan yg panjang & melelahkan pasukan raja Wu yg dipimpin Jiang ZiYa (Hokkian; Kiang Cu Gee) sudah semakin dekat dg ibukota dinasti Shang, namun sesampainya dilintasan Jie Pai perjalanan mereka terpaksa terhenti karena dihadang oleh kabut merah yg sarat dg kekuatan jahat.

Dari balik kabut muncullah sesososk pertapa tua yg nampak sangat agung & berwibawa. "Salam paman guru, saya beserta seluruh murid2 aliran Chan memberi hormat pada paman" kata Jiang ZiYa sambil membungkuk hormat pada sang pertapa yg ternyata adl TongTian JiaoZhu, mahaguru dari aliran Jie.

"Hmmm, bagus kau masih mengenalku sebagai paman gurumu, tapi kenapa kalian seenaknya membunuhi murid2 aliran kami heh?" saut TongTian ketus.

"Sejak dulu guru selalu mengajari kami untuk menghormati aliran paman, sayang ada beberapa murid paman yg membela raja Zhou sehingga.......".

"Sehingga kalian boleh seenaknya membantai mereka karena aliran kalian aliran putih sementara aliranku inialiran sesat, begitu? bentak TongTian memotong kalimat JianZiya. "Sudah tidak perlu munafik lagi, dari dulu aku sudah tahu kalian memang selalu meremehkanku, tp CUKUP SAMPAI DISINI!" lanjutnya sambil mengibaskan tangannya menyibak kabut merah yg menutupi lintasan JiePai. Sekonyong2 nampaklah sebuah benteng pertahanan yg sangat kokoh & angker dilengakpi dg 4 pedang pusaka dikeempat gerbangnya.

"Yg ada dihadapan kalian adl Jiu Xian Zhen (formasi pemusnah dewata) ciptaanku & bila kalian ingin pergi keibukota Shang maka harus melewatinya dulu. Tapi kuperingatkan formasiku ini sangat sempurna & tidak punya kelemahan, sehingga tanggung sendiri akibatnya kalau kalian berani menerobosnya!" tantang sang mahaguru.

Melihat keangkeran Jiu Xian Zhen para dewa alrian Chan keder jg, apalagi merekapun mahfum dg kehebatan ilmu paman gurunya itu sehingga tidak berani bertindak sembarangan. Tiba2 muncullah seberkas sinar keemasn yg sangat indah dilangit disertai munculnya dua mahaguru aliran Chan yaitu YuanShi TianZun & TaiShang LaoJun.

"Hahaha adik TongTian kenapa kau galak sekali, lihat anak2 itu sampai ketakutan begitu. Bila kau memang ingin bermain2 bagaimana bila aku saja yg melayanimu" kata LaoJun santai seraya menggiring kerbaunya memasuki Jiu Xian Zhen. Begitu LaoJun tiba digerbang utama dy langsung disambut oleh pedang pusaka yg terbang menghujam kearahnya, namun sekonyong2 muncullah pagoda emas yg melindungi tubuh Lao Jun sehingga diapun dapat melewati Jiu Xian Zhen dg selamat tanpa terluka sedikitun.

"Nah bagaimana? Nampaknya formasi pemusnah dewamu itu tidak begitu hebat jg ya?" kata LaoJun meledek.

"Puih jangan melucu Li Er (2), kau baru melewati 1 gerbang & masih ada 3 yg tersisa! Kita lihat saja bagaimana kau mengatasi sisanya" saut TongTian geram.

"Wah masih ada 3 lagi? Aduh adik, tega benar kau pada kakek tua ini.... untunglah aku membawa beebrapa teman untuk membantuku" jawab LaoJun ringan seraya menunjuk 2 orang biksu India disampingnya yg bernama JieYin (3) & ZhunTi

Kini Tongtian baru sadar akan kehadiran Jie Yin & Zhun Ti yg merupakan mahaguru tertinggi Budhisme kala itu (4). "Mau apa kalian para biksu kesini, bukannya baik2 membaca sutra malah ikut campur urusan orang lain" gerutu TongTian.

Dengan tenang JieYn pun menjawabnya"Amithaba, kami para biksu memang biasanya menghindari kekerasan, sayangnya formasi pemusnah dewamu itu terlalu membahayakan umat manusia sehingga kami terpaksa ikut campur, apalagi LaoJun & YuanShi TianZun sudah berbaik hati mengijinkan kami menyebarkan Budhisme diTiongkok, sehingga kamipun harus membalas budi mereka".

"Terserah! Tapi jangan katakan aku menindas agama kalian bila kalian berdua tewas oleh formasiku" balas TongTian ketus.

Tanpa dikomando lagi keempat mahaguru; TaiShang LaoJun, YuanShi TianZun, Jie Yin & Zhun Ti segera memasuki Jiu Xian Zhen yg langsung disambut oleh keempat pedang pusaka & berbagai jebakan maut lainnya. Namun rupanya kedahsyatan Jiu Xian Zhen tidak ada apanya dibanding kesaktian 4 mahaguru ini sehingga dalam waktu singkat saja benteng pemusnah dewa itupun berhasil dijebol juga.

Melihat formasi kebanggaannya hancur lebur membuat TongTian sangat malu & murka sehinga dypun segera menggempur keempat mahaguru itu dg ganasnya. TongTian JiaoZhu sebenarnya memiliki kesaktian yg hampir tidak ada bandingannya didunia ini, tp karena pertarungan ini sangat tidak adil (4 lawan 1) sehingga lama2 dypun keteteran jg & ahirnya melarikan diri....

Setelah musnahnya Jiu Xian Zhen para dewa aliran Chan bernapas lega & mengira tidak akan ada lagi gangguan dari TongTian & murid2nya, saipa tahu sesampainya di lintasan mereka kembali menjumpai sebuah formasi iblis yg bahkan lebih angker dari Jiu Xian Zhen. "Aduuuuuh mau apa lagi sih kakek tua itu, apa dy belum puas dihajar sampai lari terkencing2 seperti dulu" gerutu NeZha kesal.

Tidak lama kemudain datanglah utusan TongTian yg memberitahu bahwa formasi itu bernama Wan Xian Zhen (formasi pembantai puluhan ribu dewa) & para dewa aliran Chan diundang memasukinya untuk beradu ilmu. Berbeda dg sebelumnya, pertempuran kali ini bukan hanya melibatkan para mahaguru tp jg mengadu murid2 senior dari kedua aliran, rincian singkat jalannya pertempuran adl sebagai berikut;

-Siluman kura2 berjanggut emas (aliran Jie) mengalahkan Guang Cheng Zi & Chi Jing Zi (aliran Chan) tp dy balik dikalahkan oleh Zhun Ti
-Siluman singa biru & gajah putih (Jie)ditaklukan dewa Wen Shu & Pu Xian (Chan), kedua siluman itu kemudian dijadikan tunggangan kedua dewa itu
-Jin Gong Xian (Jie) ditaklukan CiHang DaShi (Chan)
Setelah menaklukan ketiga siluman atas petunjuk JieYin. Wen Shu, Pu Xian & CiHang DaShi memutuskan pindah keagama Budha & menjadi Bodhisatwa Manjusri, Samanthabrada & Kwan Im.
-GuLing ShengMu (Jie) mati dihisap ratusan nyamuk yg emnhisap darahnya
-JinLing SheMu yg merupakan tangankanan TongTian membunuh putri pertama kaisar langit yg bernama putri LongJi & suaminya, para dewa aliran Chan kemudian mengeroyok JinLing ShengMu yg ahirnya tewas ditangan pertapa Ran Deng (5)
-28 dewa rasi bintang (Jie) dibantai habis oleh murid2 aliran Chan

Melihat gugurnya murid2nya membuat TongTian jadi mata gelap & hendak menggunakan bendera saktinya untuk memusnahkan para dewaaliran Chan, beruntung senjata pemunah masal itu sudah dicuri & disembunyikan oleh dewa kuping panjang (mantan murid TongTian yg membelot kealiran Chan). Mengetahui pengikutnya sudah hampir habis & senjatanya jg sudah tidak ada membuat TongTian kehilangan semangat bertempurnya sehingga ahirnya dapat diringkus dan dibawa pergi untuk disuruh bertapa kembali oleh gurunya yg bernama HongJun LaoRen.

(1) Meskipun sering digambarkan jahat dilegenda2 namun dalam Taoisme yg sebenarnya aliran Jie bukanlah aliran sesat
(2) TongTian senang memanggil TaiShang LaoJun dg sebutan LiEr
(3) Jie Yin konon merupakan cikal bakal/reinkarnasi sebelumnya dari Budha RuLai
(4) Dalam sejarah yg sebenarnya belum ada Budhisme pada dinasti Shang
(5) Pertapa Ran Deng adl guru dari dewa pagoda Li Jing

TongTian JiaoZhu dalam legenda2 lain

Selain dalam novel Feng Shen Bang, TongTian jg sering muncul sebagai antagonis dalam legenda2 lainnya. Misalnya dalam cerita 8 dewa TongTian murka karena murid kesayagannya yg bernama siluman kerang berpindah kealiran Chan. TongTian kemudian membuat kekacauan dihari pengagnkatan siluman kerang menjadi dewi, tp kemabli berhasil ditaklukan oleh TaiShang LaoJun & dewa2 lain. selain itu TongTian jg muncul dalam novel jendral DiQing (seorang jendral kenamaan dr dinasti Song), disini TongTian kembali meneggelar formasi iblisnya untuk mencelakai jendral DiQing yg didukung dewa2 aliran Chan.

salam ceria...

Jumat, 25 November 2011

Tho Tak Thien Ong

Tho Tak Thien Ong – Raja Langit Penyangga Pagoda

Dalam kepercayaan di kalangan rakyat Tionghoa, Tho Tak Thien Ong adalah Jendral Langit yang memimpin para perwira langit, pada umumnya menganggap beliau adalah dewa dari Taoisme, namun sebenarnya Tho Tak Thien Ong adalah salah satu dari Si Da Tian Wang {Si Twa Thien Ong = Empat Raja Langit} dalam agama Buddha, yaitu Bei Fang Duo Wen Thian Wang (Raja Langit Utara yang sangat termashur); disebut juga Pi Sha Men Tian Wang.


Pi Sha Men Tian Wang adalah salah satu dari Si Da Tian Wang (Empat Raja Langit), menjadi Dewa Pelindung Dharma & penakluk iblis dalam agama Buddha. Karena beliau menyangga sebuah pagoda Buddha dengan telapak tangannya, sehingga beliau disebut Tuo Ta Tian Wang {Hok Kian = Tho Tak Thien Ong}, yang berarti Raja Langit Penyangga Pagoda.

Pi Sha Men Tian Wang dihormati secara universal antara lain di India & Tibet. Kadang kala beliau juga dipuja sebagai Dewa Pemenangan Peperangan. Selain itu Pi Sha Men Tian Wang disebut juga sebagai salah satu dari Tujuh Dewa Keberuntungan dalam Buddhisme, karena beliau bisa memberikan berkah rezeki kepada umatnya.

Rupang Dewa Tho Tak Thien Ong pada umumnya berujud Raja dengan kaki menginjak 2 setan, tangan kiri mengangkat sebuah pagoda kecil, & tangan kanan menggenggam sebuah gada mestika. Ujud lainnya dilukiskan dengan tangan yang memegang payung, tikus, ular & naga.

Setelah Tho Tak Thien Ong masuk ke Tiongkok, secara perlahan-lahan figur Buddhisme ini berubah menjadi Tho Tak Thien Ong versi Tionghoa, yaitu Tuo Ta Li Tian Wang {Tho Tak Li Thien Ong}. Penambahan marga Li ini karena dikaitkan dengan Li Jing yang berasal dari propinsi Shan Xi, seorang panglima perang terkenal yang sangat berjasa dalam membantu Kaisar Li Shi Min {Lie Se Bin} mendirikan Dinasti Tang.

Dalam Feng Shen Yan Yi {Hok Kian = Hong Sin Yen Gi = Kisah Penganugerahan Dewa}, disebutkan bahwa Tho Tak Thien Ong adalah Li Jing {Li Ceng}, panglima perang yang pernah bertugas di kota Chen Tang Guan, & pernah membantu Raja Zhou Wu Wang menumbangkan Raja Zhou Wang (Raja terakhir Dinasti Shang : + abad 16 SM – abad 11 SM) yang lalim. Setelah berhasil membantu raja mendirikan Dinasti Zhou, Li Ceng kembali ke kampung halamannya, mencurahkan perhatian sepenuhnya untuk membina diri. Akhirnya ia berhasil mencapai kesucian.

Li Ceng pernah berguru kepada Du E Zhen Ren. Dari hasil pernikahannya ia memperoleh 3 orang putra : Jin Zha {Kim Cia}, Mu Zha {Bok Cia}, Na Zha {Lo Cia} .

Pada saat Li Ceng mengirim pasukan bersenjata untuk menumpas Raja Zhou yang lalim, tak terduga ia malah bermusuhan dengan putranya. Li Ceng bukanlah tandingan putra ketiganya tersebut, maka kemudian Li Ceng meminta bantuan kepada Tai Yi Zhen Ren {Thay It Cin Jin} yang memberinya sebuah pagoda wasiat yang mungil, barulah Li Ceng bisa menaklukkan putra ketiganya, Lo Cia. Pagoda ini akhirnya menjadi ciri khas yang melekat erat dengan julukannya yaitu Tuo Ta Tian Wang {Tho Tak Thien Ong = Raja Langit Penyangga Pagoda} !

Dalam Xi You Ji {Se Yu Ki = Catatan Perjalanan Ke Barat}, oleh Yu Huang Da Di {Giok Hong Tay Te = Maha Dewa Kaisar Giok} Li Ceng diangkat menjadi Jendral Langit yang memimpin para perwira langit. Setiap kali memimpin pasukan kahyangan, Lo Cia menjadi kepala pasukan perintis.

Dewa Tho Tak Thien Ong sangat terkenal di kalangan rakyat Tiongkok. Pada zaman dinasti Tang & Song, di mana Buddhisme mencapai masa keemasannya, keluarga Kaisar mendorong pemujaan kepada Tho Tak Li Thien Ong, sehingga di setiap kota besar didirikan kelenteng Tian Wang Ci {Thien Ong Su} sebagai lambang kewibawaan kerajaan.

Di Taiwan hanya sedikit kelenteng yang memuja Tho Tak Thien Ong. Kelenteng Tian Wang Gong di kota Ji Long menjadikan Tho Tak Thien Ong sebagai tuan rumahnya. Selain itu Tho Tak Thien Ong juga dipuja di Wen Su Dian & Tian Chi Tan di kota Tai Nan.

salam ceria...

Tek Hay Cin Jin

Tek Hay Cin Jin akrab dengan sebutan Kwee Lak Hoa lahir pada tahun 1695 waktu Kaisar Khong Hie memerintah. Kwee Lak Hoa dikenal dan dijunjung sebagai pejuang dan pembela masyarakat Tionghoa yang dibantai oleh pemerintah Hindia Belanda di Batavia pada tahun 1740 dimana sekitar 5.000 s/d 10.000 penduduk terbunuh.


Beliau dianugrah gelar Tek Hay Cin Jin oleh kekaisaran Dinasti Tjhing dan dipuja oleh penduduk setempat sebagai Dewata Pelindung Perdagangan di laut.

Kwee Seng Seng Kun disebut juga Kwee Tao Seng Kun atau Bun Kwee Hu Cu atau Liok Ie Tee Kun (Kaisar berbaju Hijau). Beliau adalah salah satu Dewata Bintang Utara. Sebagai penitisan dari Bintang Kesusastraan (Bun Khiok Seng), Beliau juga salah satu dari Ngo Bun Chiang (Lima Dewata Kesusastraan Dan Pendidikan).

Pada waktu Tiongkok masih menerapkan sistem Ujian Kenegaraan, para pelajar dan kaum Mandarin sangat memuja Ngo Bun Chiang khususnya pada tanggal 7 bulan 7 Imlek yaitu hari Raya Menguji Kepandaian (Khit Khau Ciat).

Perwujudan Kwee Seng Seng Kun yang umum adalah berupa mahluk berwajah buruh, satu kaki diangkat ke belakang dan yang lain menginjak mahluk air Ao. Sedang tangannya memegang pena bulu dan gantang, lambang dunia pengetahuan.

salam ceria...

Giok Hong Siang Tee


Pada zaman dahulu kala di darantan Tiongkok ada sebuah negeri bernama Kuang Yuan Miao Lo (Negeri yang bercahaya Terang Benderang dan Elok penuh Suka-cita). Rakyat kerajaan itu semuanya hidup bahagia. Apa saja yang di kehendaki oleh rakyat negeri itu pasti akan terkabul.


Kemudian rakyat negeri itu mengira, jika rakyat bisa hidup bahagia, apalagi seorang Raja, maksudnya yaitu Raja mereka. Mereka berpendapat Raja dan Permaisuri pun akan hidup bahagia seperti mereka. Ternyata dugaan mereka itu sangat keliru sekali.

Raja Tsing Teh (Ceng Tee atau Raja Dermawan Suci-nuirni) maupun Permaisuri Pao Yueh Goat Kuang (Sinar KiMii bulan Yang Indah), pada saat itu justru sedang bersusah hati dan berduka cita. Kesusahan dan kedukaan mereka itu ternyata mereka tidak mendapatkan keturunan yang bisa melanjutkan kerajaan mereka sebagai penyambung keturunannya.

Pada masa itu keturunan atau anak lelaki bagi mereka adalah mutlak mereka dambakan, karena untuk menyambung dan melanjutkan tahta kerajaannya kelak, yaitu sesudah mereka meninggal dunia. Ketika itu usia raja dan permaisuri sudah sangat lanjut. Tentu saja mereka berdua jadi amat kuatir, dan sangat berduka karena tidak punya penerus yang akan melanjutkan menjadi raja menggantikan mereka di kemudian hari.

Pada suatu hari.....
Raja Dermawan Suci-murni ini memerintahkan menterinya untuk mengundang pendeta Taois. Mereka diminta untuk membantu bersembahyang di kelenteng-kelenteng dan membacakan doa-doa agar Raja bisa memperoleh keturunan yang di kemudian hari sang putera ini akan duduk di singgasana sebagai penggantinya.

Siang dan malam Raja Dermawan Suci-murni dan permaisurinya terus berdoa kepada Thian (Tuhan Yang Maha Esa). Mereka memohon diberi seorang putera sebagai ahli waris mereka. Namun, sesudah bertahun-tahun lamanya mereka berdoa dan berharap-harap dengan penuh harap dan cemas, ternyata permaisuri belum juga hamil. Namun, mereka tidak bosan-bosan dan tidak putus harapan mereka terus memohon kepada Thian Yang Maha Kuasa.

Akhirnya pada suatu malam permaisuri bermimpi. Dalam mimpinya dia bertemu dengan Tai-siang Li Lo Kun yang sedang naik kereta naga emas. Ketika itu Beliau sedang menggendong anak kecil yang bercahaya. Kemudian permaisuri memohon kepada Tay Siang Li Lo Kun agar bayi itu diserahkan kepadanya.

"Baginda sudah berusia sangat lanjut, tapi tidak mempunyai turunan, hamba mohon anak itu diserahkan saja kepada kami," kata permaisuri.
"Baiklah," kata Tai-siang Li Lo Kun alias Lao Tzu.

Benar saja tidak berapa lama permaisuri pun hamil. Selang sembilan bulan kemudian lahirlah seorang anak lelaki yang manis dan sehat. Ternyata harapan dan cita-cita raja dan permaisuri pun sudah terkabul. Bukan main gembiranya raja dan permaisuri atas karunia ini. Mereka sangat bersyukur.

Di istana mereka sekarang seolah telah muncul cahaya harapan. Anak itu kemudian diasuh dan dibesarkan oleh para pengasuhnya dan diperlakukan dengan kasih sayang.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan pun sudah berganti dengan tahun. Begitu pun tahun sudah berganti dengan tahun yang baru dan begitulah hari

demi hari berjalan dengan cepat, sehingga sang anak itu pun akhirnya sudah menjadi dewasa. Anak itu ternyata pandai dan bijaksana. Kemudian raja mengangkat puteranya itu menjadi bendahara negara.
Karena sudah menjadi sifat putera raja ini sejak baru dilahirkan, anak raja ini berbudi halus dan sangat bijaksana, juga dia sangat murah hati; dia tidak segan-segan membantu orang-orang yang miskin dan orang yang dilanda kesusahan.

Sering dia sengaja membuka gudang bahan makanan milik negara. Isinya dia kuras dan dia bagi-bagikan di antara orang-orang yang membutuhkannya. Sejak saat itu tidak ada lagi janda atau duda dan juga anak yatim piatu yang mengeluh kekurangan pakaian atau makanan mereka.


Ketika ayah sang putera mahkota ini akan mengangkat sang anak untuk menggantikan kedudukannya menjadi raja, lain diadakanlah upacara pengangkatan secara resmi. Maka naik tahtalah putera mahkota ini menggantikan ayahnya.
Selama menjadi raja dia telah melihat dan memperhatikan kehidupan rakyat secara langsung. Dia saksikan yang rakyatnya terkadang dilanda duka nestapa yang luar biasa. Terkadang pula mereka sehat tapi tiba-tiba mereka jatuh sakit, bahkan nyawa mereka direnggut maut hingga meninggal dunia.

Melihat suka-duka kehidupan manusia itu sang raja yang baru dan bijaksana ini menjadi sangat kecewa dan herduka bukan main. Terutama dia sangat prihatin pada penyakit dan maut yang sering merenggut kebahagiaan manusia atau rakyatnya. Hingga rakyatnya pun tidak bisa hidup bahagia selama-lamanya. Sekarang raja ini sering tampak murung melamun saja dan berduka sekali.

Pada suatu hari raja yang bijaksana ini berpikir, "Aku harus mencari sebab-sebab dari penyakit yang sering menyerang manusia ini, sehingga sering membuat mereka harus meninggal dan berduka cita."

Oleh karena itu sang raja yang bijaksana ini berniat akan bertapa dan menyelidiki masalah penyakit dan kematian atas diri manusia itu. Sang raja bijaksana ini ingin melepaskan semua manusia dari berbagai bencana dan duka serta penderitaannya yang dideritanya sepanjang hidupnya.

Maka pergilah sang raja bijaksana ini meninggalkan istananya yang agung dan permai itu. Dia menuju ke Siu Yen (Can San yang permai di negeri P'u Ming (Negeri yang selalu Bercahaya), yang ada di bagian selatan. Di sinilah sang raja bijaksana itu bertapa sampai akhirnya dia menemukan pengetahuan tentang kesukaran yang dialami umat manusia pada umumnya pada masa itu.

Kemudian sang raja yang bijaksana ini kembali ke negerinya dengan membawa bekal pengetahuannya yang maha penting itu untuk oleh-oleh bagi rakyatnya yang dia cintai. Di tengah-tengah masyarakatnya raja bijaksana ini mengajarkan pelajaran Kekal Sejati dan mengobari orang yang sakit, menolong orang yang ditimpa musibah dan kesusahan. Menghibur orang-orang yang berduka-cita dan seterusnya.

Pada suatu hari, maut yang sudah menjadi warisan umat manusia ternyata tidak bisa dihindarkan, maka mangkatlah sang raja yang bijaksana ini dan hidup abadi di Langit. Pada saat sang raja bijaksana meninggal dunia, seluruh rakyat negerinya berkabung dan ikut berdukacita.

Bunga-bunga dan berbagai tanaman menjadi layu, bahkan daun-daunnya berguguran ke tanah dan berserakan. Bumi pun basah dan dingin, awan seolah-olah ikut bermuram durja, berwarna kelam berkabut. Bintang-bintang di langit seolah gelisah bersembunyi di balik gunung-gunung yang tinggi.

Sang raja yang bijaksana itu sudah menjadi roh dan beliaui memandang kebumi, ketika itu beliau sangat terharu mrnyaksikan keadaan yang demikian menyedihkan itu. bahkan dia merasa berkewajiban untuk melepaskan penderitaan umat manusia itu dan beliau ingin turun kembali ke muka bumi.

Karena sudah tak tertahan lagi menyaksikan penderitaan rakyatnya lalu beliau turun ke bumi setiap 800 tahun sekali. Selang 800 tahun kemudian, kembali sang raja yang bijaksana itu pun turun ke bumi. Beliau menata kembali tanam-tanaman yang telah layu, hujan diturunkan agar bisa membasahi bumi, sehingga tanaman dan bunga-bunga bisa tumbuh subur dan berkembang memeriahkan muka bumi yang tadinya gersang dan sunyi menjadi ceria kembali.

Di sana sini satwa dan unggas berterbangan dengan riang gembira. Suara cicit burung menyemarakkan hutan rimba yang semula sunyi bagai kuburan itu. Rakyat bersorak gembira menyambut tahun yang baru dengan kesemarakkan musim semi dan bunga yang indah itu. Mereka pun pada hari itu berpakaian baru dan indah-indah, lalu jika mereka bertemu dengan orang tua, sanak-famili, maupun para tetangga, dan handai-taulannya, mereka segera mengucapkan: "Selamat Tahun Baru".

Sang raja yang bijaksana ini girang sekali karena beliau mampu mendatangkan kebahagian bagi umat manusia dimuka bumi ini. Namun, karena beliau sekarang bukan penduduk bumi lagi, maka sang raja yang bijaksana ini pun kembali ke langit. Tapi sang raja bijaksana ini berjanji pada umat manusia, di awal tahun dia akan datang ke bumi untuk Membahagiakan umat manusia.

Selang ribuan tahun kemudian, manusia yang dibahagiakan oleh sang raja yang bijaksana itu sudah makna kebahagiaan yang diberikan oleh raja yang
bijaksana itu. Di mana-mana mulai timbul berbagai kejahatan yang dilakukan oleh umat manusia.

Ketika sang raja yang bijaksana untuk turun lagi terakhir kalinya ke muka bumi, beliau malah ditangkap oleh manusia. Kemudian beliau disiksa dan dianiaya. Dengan kuasanya beliau beliau bisa bebas dan sejak saat itu beliau tidak mau lagi kembali ke muka bumi. Ketika rakyat mulai menyadari bahwa yang mereka siksa itu adalah raja kebijaksanaan yang telah menganugerahi kebahagiaan kepada mereka maka mereka pun jadi kaget.

Tapi semua itu sudah terlambat. Kemudian rakyat menamakan raja yang bijaksana itu dengan sebutan "Giok Hong Siang Tee".
Orang Tionghoa menganggap bahwa "Giok Hiong Siang Tee" adalah " Yang Tertingggi Dari Segala Yang Paling Tinggi" yang ada di muka bumi ini. Kekuasaannya sangat tidak terbatas.

Di Indonesia orang-orang Tionghoa memperingati hari lahir "Giok Hong Siang Tee" dengan sangat hikmat, yaitu pada setiap tanggal 9 bulan satu Im-lek atau delapan hari sesudah Perayaan Tahun Baru Im-lek hari kelahiran itu dirayakan dengan bersembahyang.

Berhari-hari sebelum mulai melaksanakan sembahyang pada "Giok Hong Siang Tee", orang-orang Tionghoa ini membersihkan diri, Mereka tidak boleh memiliki pikiran yang tidak senonoh, dilarang bicara yang tidak pantas dan harus bersih tubuh dan hatinya atau terkadang orang itu cia-cay (mutih).

Sehari menjelang akan dirayakannya Sembahyang Tuhan orang-orang Tionghoa membersihkan rumah mereka, termasuk semua alat rumah tangganya.
Malam harinya pada tanggal 8 bulan satu Im-lek, mereka menyediakan sebuah meja sesaji untuk menghormati "Giok Hong Siang Tee" yang mereka puja itu.


Sajian yang umumnya disajikan di meja sembahyang itu biasanya manisan, misalnya manisan ceremeai, manisan kolang-kaling, buah-buahan, sepasang lilin, dan di kiri-kanan meja sembahyang biasanya diikatkan sepasang pohon tebu. Mengenai pohon tebu ini pun ada kisahnya. Tidak lupa juga bunga-bunga yang harum baunya sebagai lambang Musim bunga. Dupa wangi kayu gaharu dibakar untuk mengharumkan ruangan.

Pada tengah malam semua orang bersembahyang di depan meja sembahyang untuk mengucapkan terima kasih kepada Giok Hong Siang Tee (Thian). Orang Tionghoa menamakan sembahyang ini sebagai "Sembahyang kepada Tuhan.
Sebenarnya sembahyang pada "Giok Hong Siang Tee" ini dilakukan pada hari kesembilan, atau tepatnya pada tanggal 9 bulan satu tahun atau penanggalan Im-lek.

Namun dalam buku ini untuk menghormati Thian (Tuhan) mengenai hal ini dikedepankan sebagai bagian yang harus mendapat tempat terhormat. Falsafah tentang Kaisar Tsing The (Cen Tee) ini bisa kita hubungkan dengan Sang Matahari yang mampu membahagiakan umat manusia. Sedangkan Permaisuri Pao Kuang sebagai Sang Rembulan.

salam ceria...

Kamis, 24 November 2011

Jiu Tian Xuan Nu

Seperti yang sudah umat TAO ketahui, Jiu Tian Xuan Nu merupakan salah satu Dewi Besar TAO. Jiu Tian Xuan Nu adalah Dewi yang sering membantu pahlawan-pahlawan.


Konon, cerita pada jaman raja satria Huang Ti yang pernah mengajarkan rakyat menanam palawija.

Sebelum Huang Ti menyatukan negara, Beliau pernah perang dasyat melawan Je Yu. Je Yu itu adalah sebangsa hewan yang aneh, badannya merupakan binatang tapi dia memakai bahasa manusia, juga makan batu dan pasir untuk hidup. Je Yu ini biasa disebut badan kuningan kepala besi.

Pada waktu perang di daerah Juk Luk, Je Yu ini membuat kabut besar yang menyebabkan tentara-tentara Huang Ti menjadi kehilangan arah. Tetapi untungnya para anak buah itu menciptakan kereta kompas. Dengan kereta tersebut, mereka baru bisa lolos dari kepungan kabut tadi.

Sedang pusing dengan taktik perang, malamnya Huang Ti bermimpi bertemu dengan Dewi SI WANG MU dan berkata padanya: "Saya akan mengirimkan utusan untuk membantu kamu, kamu akan menang perang". Lalu Huang Ti membuat altar dan berdoa / sembahyang tiga hari tiga malam. Hasilnya, nampaklah Jiu Tian Xuan Nu, memberinya Kitab Suci, Pusaka, Buku Perang dan lain-lainnya; hingga Huang Ti dapat mengalahkan Je Yu dan dapat menyatukan negara.

Waktu itu, yang Huang Ti dapatkan adalah Buku Suci HUANG TI YIN FU CING yang dihargai oleh generasi selanjutnya.

Konon, Jiu Tian Xuan Nu pernah mambantu Sung Ciang.

Sung Ciang ini merupakan Ketua daerah Liang San Be yang sering membantu orang-orang miskin yang kekurangan.

Dalam cerita buku "SUI HU JUAN", pada waktu Sung Ciang dalam perjalanan menuju Liang San Be, dia dikejar-kejar oleh musuh. Lalu dia bersembunyi di dalam sebuah kuil, ternyata dia diketahui oleh musuhnya, kelihatan maut sudah menunggu.

Namun, pada saat detik-detik bahaya, di belakang altar dalam kuil tersebut timbul gumpalan awan hitam dan meniupkan seuntai angin keras yang dingin. Musuh yang mengejar ketakutan melihat keadaan aneh mendadak itu dan lari tunggang langgang.

Tidak lama kemudian, tampak dua anak perempuan berbaju hijau di hadapan Sung Ciang dan mengajaknya pergi untuk menemui Seorang Dewi. Dewi tersebut adalah Jiu Tian Xuan Nu . Kemudian, Sung Ciang diajak makan kurma dari DIAN dan minum arak yang harum. Jiu Tian Xuan Nu juga berkata padanya: "Saya akan memberitahu kamu tiga jilid Buku Langit, kamu harus bisa menjalankan TAO dengan baik, jadi orang harus jujur, setia kawan, setia pada negara, yang jelek dan yang sesat dikikis semua dan dikembalikan pada kebenaran".

Dewi Jiu Tian Xuan Nu juga berpesan bahwa buku-buku itu tidak boleh diperlihatkan pada orang lain, sesudah mantap, bakarlah buku-buku tersebut. Dewi juga menurunkan empat kata-kata langit yang cocok menjadi ramalan hidup Sung Ciang di kemudian hari.

Sesudah kejadian itu, Sung Ciang masih pernah bertemu lagi dengan Dewi Jiu Tian Xuan Nu, yaitu pada waktu dia jadi Jendral Dinasti Sung yang sedang perang sengit dengan tentara-tentara negeri Liaw. Dewi Jiu Tian Xuan Nu mangajarkan tehnik perang yang kongkrit.

Dewi Jiu Tian Xuan Nu selalu mengulurkan tangan waktu raja kesatria dan pahlawan-pahlawan sedang mengalami kesulitan, sehingga boleh dikata sebagai "DEWI MEMBANTU".

Selain itu Dewi Jiu Tian Xuan Nu juga mengajarkan cara-cara perang yang kongkrit. Oleh karena itu, ada orang yang menganggap Dewi Jiu Tian Xuan Nu sebagai "DEWI PERANG".

Tai Shang Lao Jun

Maha Dewa Tai Shang Lao Jun (Dai Shang Lao Jun)


Maha Dewa Tai Shang Lao Jun adalah Dewa Tertinggi dari semua Dewa Dewi yang ada dalam Agama TAO. Hari besarnya adalah tanggal 15 bulan 5 Imlek.

Maha Dewa Tai Shang Lao Jun pernah tiga kali turun ke bumi, pertama sebagai Ban Ku Shi, kedua turun lagi sebagai Huang Ti, dan ketiga turun kembali sebagai Lao Zi.


Dalam Agama TAO, Lao Zi lebih dikenal sebagai Nabi Agama TAO yang utama, dimana Nabi Lao Zi menulis Kitab Suci Agama TAO dengan judul Tao Tek Cing.

Walaupun Nabi Lao Zi yang mengajarkan ajaran Agama TAO, namun ajaran TAO pertama kali disebut sebagai agama oleh Zhang Tao Ling, pada zaman Dinasti Han Timur ( Tong Han ).


Karena itu secara singkat sejarah Agama TAO diyakini berasal dari Huang Ti ( Kaisar Kuning ) sejak 27 abad sebelum tahun masehi, dikembangkan oleh Lao Zi dan terorganisasi menjadi sebuah institusi Keagamaan ( Agama TAO ) yang lengkap oleh Zhang Tao Ling.

Tian Shang Sheng Mu

Tian Shang Sheng Mu [Thian Sang Sen Mu / Thian Siang Sing Bo] dikenal dengan sebutan Ma Zu [Mak Co] atau Tian Hou. Tian Shang Sheng Mu adalah seorang wanita yang pernah hidup di daerah Fujian, tepatnya di Pulau Mei Zhou [Meizhou] dekat Pu Tian. Nama aslinya Lin Mo Niang [Lim Bik Nio]. Ayahnya Lin Yuan pernah menduduki jabatan sebagai pengurus di Propinsi Fujian.


Karena kehidupan yang sederhana dan gemar berbuat kebaikan, orang menyebut diriNya sebagai Lin San Ren, yang berarti Lin orang yang baik. Lin Mo Niang dilahirkan pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara, tahun Jian-long pertama, tanggal 23 bulan 3 Imlek, tahun A.D. 960.

Selama sebulan sejak dilahirkan, Ia tidak pernah menangis sama sekali. Sebab itulah sang ayah memberi nama Mo Niang kepadaNya. Huruf "mo" berarti diam.

Sejak kecil Lin Mo Niang telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Pada usia 7 tahun Ia telah masuk sekolah dan semua pelajaran yang telah diterima tidak pernah dilupakan.

Kecuali belajar, Ia juga tekun sekali bersembahyang. Ia sangat berbakti pada orang tua dan suka menolong tetangga-tetangga yang sedang ditimpa kemalangan. Sebab itu penduduk desa sangat menghormatiNya.

Kehidupan di tepi laut menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tidak gentar menghadapi dahsyatnya gelombang dan angin taufan yang menghantui para pelaut. Selain itu, Ia dapat juga menyembuhkan orang sakit. Kemahirannya dalam pengobatan ini menyebabkan orang-orang di desa menyebutNya sebagai ling nu (gadis mukjijat), long nu (gadis naga) dan shen gu (bibi yang sakti).

Dalam legenda diceritakan bahwa pada usia 23 tahun, Ia berhasil menaklukkan 2 siluman sakti yang menguasai pegunungan Tao Hua Shan. Kedua siluman itu adalah Qian Li Yan yang dapat melihat sejauh ribuan li, dan Sun Feng Er yang dapat mendengar ribuan pal. Setelah dikalahkan akhirnya mereka menjadi pengawalNya.

Pada usia 28 tahun, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Yong-xi ke-4, tanggal 16 bulan 2 Imlek, bersama sang ayah, Ia berlayar. Tapi di tengah jalan perahunya dihantam gelombang dan badai lalu tenggelam. Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri, Ia berusaha menolong sang ayah.

Tapi akhirnya keduanya tewas bersama-sama. Sebuah versi lain mengatakan bahwa Ia tidak tewas tetapi "diangkat ke langit" bersama raganya. Dikisahkan bahwa pagi itu, penduduk Meizhou melihat bahwa awan warna-warni sedang menyelimuti pulaunya. Di angkasa terdengar musik yang sangat merdu dan terlihat Lin Mo Niang perlahan-lahan naik ke angkasa untuk dinobatkan menjadi Dewi.

Penduduk dengan tulus hati lalu mendirikan sebuah kelenteng di tempat Lin Mo Niang diangkat ke surga setahun kemudian. Kelenteng yang didirikan di Meizhou ini merupakan kelenteng Tian Shang Sheng Mu yang pertama di Tiongkok.

Pada masa Dinasti Song, perdagangan maritim dari Propinsi Fujian sangat berkembang. Tapi para pelaut sadar bahwa hidup di tengah lautan selalu penuh dengan mara-bahaya yang bisa mengancam setiap saat. Untuk memohon perlindungan dan keselamatan, mereka menganggap Lin Mo Niang sebagai Dewi Pelindung Pelaut. Dan kemana-mana patungNya selalu dibawa serta.

Keselamatan mereka dalam pelayaran dianggap anugerah dan perlindungan dari Dewi ini. Dan kisah-kisah tentang pemunculan sang Dewi dalam memberi pertolongan pada para pelaut mulai satu-persatu tersebar.

Pada tahun 1122 M, Kaisar Song Hui Zong memerintahkan seorang menteri bernama Lu Yun Di untuk menjadi duta ke negeri Gaoli (Korea sekarang). Dalam perjalanan rombongan ini dihantam badai. Dari 8 buah kapal yang ada, 7 buah tenggelam. Hanya kapal yang ditumpangi oleh Lu Yun Di saja yang terselamatkan. Sang Duta heran bukan main.

Ia bertanya kepada para anak buahnya, siapakah Dewa yang menyelamatkan mereka. Di antara pengiringnya itu ada seorang yang kebetulan berasal dari Pu Tian dan biasa bersembahyang kepada Dewi Lin Mo Niang ini. Ia lalu mengatakan pada Lu Yun Di bahwa mereka diselamatkan oleh Dewi Lin Mo Niang yang berasal dari Pulau Meizhou. Lu Yun Di lalu melaporkan hal ini pada Kaisar Song Hui Zong.

Sebagai rasa penghormatan sang Kaisar memberi gelar "Sun Ji Fu Ren" kepada Lin Mo Niang dan sebuah papan bertuliskan "Sun-ji" yang berarti "pertolongan yang sangat dibutuhkan", hasil tulisan tangan sang Kaisar sendiri lalu dipasang di kelenteng di Meizhou.

Sejak dari masa Dinasti Song sampai Qing, tidak kurang dari 28 gelar kehormatan yang dianugerahkan oleh kerajaan kepada Lin Mo Niang. Gelar-gelar itu antara lain adalah Fu Ren (Nyonya Agung), Tian Hou atau Tian Fei (Permaisuri Surgawi), Tian Shang Sheng Mu (Bunda Suci dari Langit) dan Ma Zu Po (Bunda Ma Zu).

Sejak jaman Song itulah, di kota-kota utama sepanjang pantai Tiongkok timur yang memanjang dari utara ke selatan seperti Dandong, Yantai, Qinhuangdao, Tianjin, Shanghai, Ningpo, Hangzhou, Fuzhou, Xiamen, Guangzhou, Macao dan lain-lain bermunculan kelenteng-kelenteng yang memuja Dewi Pelindung Pelaut ini.

Tian Shang Sheng Mu sudah menjadi pujaan para pelaut dari seluruh negeri, tidak lagi terbatas bagi mereka yang berasal dari Meizhou saja. Sudah menjadi kebiasaan pada saat itu, sebelum pelayaran dimulai akan diadakan sembahyang besar untuk memohon perlindunganNya. Pada tiap-tiap kapal pun selalu disediakan ruang pemujaan untuk patungNya.

Gelar "Tian Fei" dianugerahkan kepada Tian Shang Sheng Mu oleh Kaisar Yong Le.

Kira-kira pada masa Dinasti Ming, bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk Propinsi Fujian yang pergi merantau, pemujaan terhadap Tian Shang Sheng Mu memasuki Pulau Taiwan. Kelenteng tertua Tian Shang Sheng Mu di Taiwan adalah terdapat di kota Magong, Kepulauan Penghu.

Dewasa ini di Taiwan terdapat tidak kurang dari 800 buah kelenteng Tian Shang Sheng Mu. Dan hampir dua per tiga penduduknya memuja arcaNya di dalam rumah. Kelenteng Tian Shang Sheng Mu yang paling ramai dikunjungi orang dan mungkin terbesar di Taiwan adalah di Beigang. Patung yang dipuja di sini berasal dari Meizhou yang dibawa ke sana pada tahun ke-33 pemerintahan Kaisar Kang Xi.

Gelar kehormatan Tian Hou adalah juga anugerah dari Kaisar Kang Xi ini, karena dianggap telah melindungi keselamatan rombongan utusan kerajaan Qing yang sedang berlayar menuju Taiwan.

Tiap tahun bertepatan dengan hari kelahirannya yang jatuh pada tanggal 23 bulan 3 Imlek, ratusan ribu warga Taiwan membanjiri kota ini untuk bersembahyang.

Pada tanggal 31 Oktober 1987, bertepatan dengan hari wafatnya Tian Shang Sheng Mu yang ke 1000, dilangsungkan upacara peringatan besar-besaran di Mei-zhou.

Di antara khalayak yang berbondong-bondong itu terdapat beberapa ratus warga Taiwan yang mengkhususkan diri untuk hadir di situ, sekaligus melampiaskan keinginannya untuk mengunjungi dan bersembahyang ke kelenteng leluhur. Banyak di antara mereka yang membawa patung Tian Shang Sheng Mu dari Taiwan untuk disembahyangkan di sana, dalam upacara yang disebut "Tian Shang Sheng Mu pulang ke kampung halaman".

Juga tidak sedikit yang membawa pulang patung-patung Tian Shang Sheng Mu yang disediakan oleh kelenteng Tian Shang Sheng Mu untuk dipuja di Taiwan. Dalam kesempatan itu juga diadakan seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 60 orang ahli sejarah untuk membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan pemujaan Tian Shang Sheng Mu.

Kemudian diadakan pula upacara peletakan batu pertama untuk pembangunan patung peringatan untuk Tian Shang Sheng Mu, dan pembukaan selubung untuk miniaturnya, di puncak bukit Mei-feng Shan di tengah pulau itu. Dua belas orang dari wakil-wakil perantau Tionghoa dari luar negeri, Taiwan, Hongkong dan Macao melakukan acara timbun tanah untuk pondasi patung tersebut.

Pada tanggal 23 bulan 3 Imlek tahun A.D. 1989, bertepatan dengan hari kelahiran Tian Shang Sheng Mu, patung Dewi Pelindung Pelaut yang sangat dihormati itu sudah berdiri tegak di puncak Mei-feng Shan menghadap ke Selat Taiwan.

Mengenai mengapa Tian Shang Sheng Mu disebut Ma Zu (Ma Couw) atau Ma Zu Po (Ma Couw Po), dalam buku Tian Shang Sheng Mu Jing) atau kitab pujian kepada Tian Shang Sheng Mu disebut seperti ini : "Pada Dinasti Tang ada seorang pendeta suci yang disebut Dao Yi Chan Shi (To It Sian Su), beliau bernama Ma Zu". Sheng Mu yang hidup pada jaman Dinasti Song adalah penitisan dari Ma Zu yang hidup pada jaman Dinasti Tang ini. Hanya kemudian huruf Ma pada nama keluarga pendeta Ma Zu diganti dengan huruf Ma yang berarti ibu, agar sesuai dengan Sheng Mu yang berarti "Ibu yang suci". Dari sinilah sebutan Ma Zu berasal.

Tian Shang Sheng Mu selalu ditampilkan sebagai dewi yang cantik dan berpakaian kebesaran seorang permaisuri, dan dikawal oleh kedua iblis yang pernah ditaklukkan, yaitu Qian Li Yan (Si Mata Seribu Li) dan Sun Feng Er (Si Kuping Angin Baik).

Qian Li Yan dapat melihat jauh sekali, berkulit hijau kebiru-biruan, mulutnya bertaring, senjatanya tombak. Sun Feng Er berkulit merah kecoklatan, mulutnya juga bertaring, bersenjata kapak bergagang panjang, dan dapat mendengar sampai jauh sekali.

Buddha Chi Kung / Li Gong

Chi kung dilahirkan dengan nama Li Xiuyuan yang merupakan anak dari Li Maochun. Li Maochun adalah seorang penasehat militer yang sangat dermawan. Hanya saja sejak menikah sampai mencapai usia setengah baya, Li Maochun belum dikaruniai seorang anak. Hal itu membuat para kenalan Li Maochun meragukan kebaikan hatinya.


Istri dari Li Maochun adalah seorang yang baik hati dan taat dengan ajaran agama, menyarankan agar Li Maochun untuk menikah lagi. Tapi Li Maochun menolaknya karena merasa istrinya masih muda dan bisa memberikan keturunan. Karena ingin dikaruniai anak, maka suami istri ini merencanakan berangkat ke suatu vihara agar dikaruniai seorang anak.

Bahkan sebelum berangkat sang istri sempat cia cai (vegetarian). Pada saat berdoa di ruang Lohan di vihara tersebut, salah satu patung lohan yang ada seakan2 turun ke lantai. Saat melihat hal tersebut kepala vihara menyampaikan selamat kepada Li Maochun karena akan di karuniai anak.

Tak lama kemudian Li Maochun dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Li Xiuyuan. Tak lama Li Xiuyuan lahir, Li Maochun meninggal. Sejak saat itu Li Xiuyuan diasuh oleh ibunya yang tetap setia kepada Li Maochun. Saking setianya ibu Li Xiuyuan, mencatat segala sesuatu yang dikerjakannya setiap hari dan membakarnya agar suaminya (Li Maochun) tahu apa saja yang dia kerjakan.

Li Xiuyuan tumbuh menjadi anak yang pintar, bahkan sangat pintar. Saat berusia 7 tahun, Li Xiuyuan sudah dapat menghapal kitab suci dan bahkan mengalahkan teman belajarnya yang lebih tua. Saat berusia sekitar 15 tahun, ibunya meninggal dunia. Saat itu Li Xiuyuan yang sangat sedih makin giat belajar agama Buddha. Paman dari Li Xiuyuan merasa khawatir karena Li Xiuyuan selalu membaca kitab suci agama Buddha. Setelah beberapa lama, saat itu sang paman merasa Li Xiuyuan sudah cukup umur untuk menikah, maka hal ini dibicarakan dengan Li Xiuyuan.

Li Xiuyuan menolaknya, tapi sang paman tetap mendesak dan akhirnya memilihkan jodoh untuknya. Saat akan menikah, Li Xiuyuan pergi dari rumah karena ingin mempelajari agama Buddha lebih mendalam dan menjadi Bhikkhu.

Setelah berjalan jauh, tibalah Li Xiuyuan di vihara Ling Yin. Setelah menceritakan kepada Bhikkhu Kepala maksudnya untuk menjadi seorang Bhikkhu, Li Xiuyuan jatuh pingsan karena kelaparan. Bhikkhu kepala yang mengetahui jati diri Li Xiuyuan adalah titisan Lohan Penakluk Naga bertubuh emas , maka sang Bhikkhu kepala mengetok dahi Li Xiuyuan sebanyak tiga kali. Li Xiuyuan tiba2 sadar dan mengetahui siapa dirinya.

Setelah menjadi Bhikkhu, Li Xiuyuan sering menganggu bhikkhu lain yang kurang melatih diri. Sering kali Li Xiuyuan mencuri jubah bhikkhu yang kurang taat dan mengadaikannya untuk membeli arak atau daging. wakil Bhikkhu kepala yang gila hormat juga jadi salah satu korbannya, dimana jubah dari Wakil Bhikkhu kepala ini digadaikan oleh Li Xiuyuan.

Sang wakil sempat mengadukannya kepada Bhikkhu kepala, tapi Bhikkhu kepala mengabaikan laporan tersebut dan meminta buktinya. Oleh karena itu, Wakil Bhikkhu Kepala itu menyuruh 2 orang bhikkhu untuk mengawasi Li Xiuyuan untuk menangkap basah perbuatan Li Xiuyuan. Suatu siang, Li Xiuyuan memasuki perpustakaan untuk tidur, saat akan tidur, tiba2 Li Xiuyuan bangun dan melakukan sesuatu sehingga perutnya menjadi gendut.

Melihat hal ini, salah seorang dari bhikkhu pengawas memberitahu wakil kepala, yang kemudian mengajak Bhikkhu kepala untuk menangkap basah Li Xiuyuan. Saat itu sang Bhikkhu kepala merasa menyesal atas tindakan Li Xiuyuan karena beliau tidak bisa lagi melindunginya. Tibalah sang Bhikkhu kepala dan wakilnya serta para bhikkhu pengawas Li Xiuyuan di ruang perpustakaan.

Sang Bikkhu kepala membangunkan Li Xiuyuan dan bertanya apakah Li Xiuyuan mencuri sesuatu. Li Xiuyuan menjawab dia tidak mencuri sesuatu. Sang wakil yang sudah merasa tidak suka, langsung menuduh dengan mengatakan apa yang ada di balik jubahnya. Kemudian Li Xiuyuan menjawab bukan apa2 dan membuka jubahnya, alhasil bukannya barang curian yang keluar melainkan debu dan sampah2. Pada saat itu Li Xiuyuan berkata, “saat ingin tidur, saya melihat ruangan ini sangat kotor, jadi saya membersihkannya”.

Tapi karena tidak ada tempat sampah untuk sementara debu dan sampah2 tersebut dimasukkan kedalam jubahnya. Saat itu Bhikkhu kepala sangat senang dan malah menegur sang wakil untuk lebih bijaksana dan menyuruh Bhikkhu lain untuk membersihkan debu dan sampah tersebut. Setelah kejadian ini Li Xiuyuan lebih sering berada di luar vihara dan lebih dikenal sebagai Ji Gong.


Chi Kung dikenal sebagai Bhikkhu yang gemar makan daging dan minum arak. Selain itu, tindak tanduknya yang suka seenaknya sendiri menyebabkan Chi Kung dikenal sebagai Bhikkhu gila/Sinting.
Karena sering menolong orang, dan orang-orang yang ditolongnya semakin banyak, akhirnya Chi Kung mendapat julukan Chi Kung Hok Hud yang berarti Buddha Hidup Chi Kung.

27 Nasihat Suci Buddha Chi Kung

1. Seluruh kehidupan telah diatur oleh penguasa. Apalah yang mau dimohon?

2. Hari ini tidak tahu masalah esok. Apalah yang mau di kuatirkan?

3. Kalaulah tidak menghormati orang tua, lalu mengormati junjungan dunia. Apalah arti penghormatan itu?

4. Kakak adik adalah bersaudara. Apalah yang perlu diperebutkan?

5. Anak cucu punya rezeki masing-masing. Apalah yang perlu diperebutkan?

6. Kalau belum mendapat keberuntungan. Apalah yang perlu dipaksakan?

7. Didunia ini sulit menemukan kebahagiaan. Mengapa harus sedih?

8. Berpakaianlah yang sederhana dan sopan. Apalah yang mau dipamerkan?

9. Bagaimana lezatnya makanan, hanyalah sebatas lidah. Mengapa harus rakus?

10. Setelah meninggal tidak sesen pun yang dibawa. Mengapa harus pelit?

11. Senior meluku, junior memetik. Apalah yang mau diperebutkan?

12. Disatu sisi mendapatkan, disisi lain kehilangan. Mengapa harus serakah?

13. Tiga jengkal diatas kepala ada dewa. Mengapa harus mengelabui?

14. Kedudukan, kekayaan, kemuliaan bagaikan mekarnya bunga. Apalah yang mau diangkuhkan?

15. Kekayaan dan kemuliaan orang telah dirintis sebelumnya. Mengapa harus iri?

16. Kehidupan lalu tidak membina, sekarang menderita. Mengapa harus mengeluh?

17. Orang berjudi tidak akan ada hasil yang baik. Apalah yang mau dipermainkan?

18. Membina rumah tangga dengan rajin dan hemat melebihi memohon bantuan orang lain. Apalah yang mau diboroskan?

19. Kalau saling membalas dendam, kapanlah akan berakhir. Mengapa harus bermusuhan?

20. Masalah dunia bagaikan bermain catur. Apalah yang mau diperhitungkan?

21. Orang pintar adakalanya disesatkan oleh kepintarannya? Mengapa harus licik?

22. Berdusta akan mengikis habis rejeki seumur hidup. Mengapa harus berdusta?

23. Segala kesalahpahaman akhirnya akan jernih juga. Apalah yang mau diperdebatkan?

24. Tiada seorangpun juga yang bebas dari masalah. Mengapa harus menyalahkan?

25. Goa nurani didalam hati manusia, bukan digunung. Apalah yang mau dicari?

26. Menipu orang adalah petaka, memaklumi orang adalah berkah. Apalah yang mau diramalkan?

27. Sekali ajal menjemput segala akan berakhir. Apalah yang terus disibukkan?

"Bagi siapa yg memperbanyak dan ikut menyebarkan ajaran welas kasih Buddha Chi Kung ini akan mendapatkan pahala yg tak terhingga"

salam ceria...

Dewa Pintu


Legenda dewa pintu

Popularitas karakter dewa pintu mulai menanjak di zaman Dinasti Tang, di mana legenda dewa pintu paling terkenal berasal dari zaman ini. Dikatakan bahwa naga Sungai Jing melanggar perintah langit karena menurunkan hujan pada waktu dan kapasitas yang salah sehingga langit menitahkan salah seorang menteri, Wei Zheng untuk menghukumnya. Karena takut dihukum, sang naga kemudian meminta perlindungan kepada Kaisar Taizong (Li Shimin) yang saat itu berkuasa.

Taizong mengiyakan permintaan naga dan mengajak Wei Zheng bermain catur supaya lupa batas waktu untuk menghukum sang naga. Namun, rupanya Wei Zheng hanya perlu menebas leher sang naga dalam mimpinya sehingga siasat Taizong gagal memenuhi janjinya pada sang naga.

Sang naga yang mati penasaran kemudian datang menghantui Taizong tiap malam di istananya. Wei Zheng mengetahui perihal ini dan mengurus 2 jenderal, Qin Qiong dan Yuchi Gong untuk berjaga di luar pintu istana. Sang naga tidak datang menghantui Taizong untuk beberapa hari, namun kembali kemudian lewat pintu belakang yang tidak dijaga. Wei Zheng kemudian memutuskan untuk berjaga sendiri di pintu belakang dan sang naga tidak pernah kembali setelah itu.

Taizong menyadari tak mungkin membiarkan jenderal dan menterinya berjaga terus di istananya, memutuskan untuk melukis potret kedua jenderalnya di daun pintu kiri dan kanan, serta Wei Zheng di pintu belakang. Ini kemudian yang mengawali penggunaan potret Qin Qiong dan Yuchi Gong di pintu berdaun dua (biasanya pintu depan) serta Wei Zheng untuk pintu dengan satu daun.

Sejarah faktual

Sebenarnya dewa pintu mulai ada sejak zamannya Huangdi, 5000 tahun lalu, namun ini sebuah legenda. Catatan mengenai dewa pintu yang lebih akurat adalah di zaman Dinasti Shang, di mana dewa pintu berawal dari kepercayaan tradisional di Tiongkok sebelum munculnya agama. Raja-raja Dinasti Shang menjadikan pintu sebagai satu objek dari lima objek penghormatan pada masa itu. Kepercayaan tradisional Tionghoa menganggap bahwa setiap benda mempunyai rohnya sendiri-sendiri.

Dewa pintu lebih jauh merupakan bentuk penghormatan ke-4, penghormatan pada benda-benda. Pintu dipilih karena pintu merupakan bagian dari rumah tempat tinggal yang sangat penting, simbol perlindungan terhadap ancaman dari luar dan dilewati setiap hari. Manusia selalu membutuhkan keseimbangan jasmani dan spiritual, pintu yang nyata dianggap hanya melindungi dari makhluk yang nyata, untuk melindungi dari makhluk halus, maka pintu haluslah yang mengambil peranan ini. Inilah cikal bakal dewa pintu.

Mengapa dewa pintu dimanusiakan?

Pemanusiaan dewa pintu sebenarnya mulai populer pada zaman Dinasti Han. Banyak karakter dewa-dewi dalam kebudayaan Tionghoa yang dimanusiakan untuk menambah kedekatan pada manusia, misalnya bentuk penghormatan terhadap langit yang dimanusiakan sebagai Kaisar Langit (Giok Hong Tay Te), atau bumi yang dimanusiakan sebagai Dewa Bumi/Tanah (Tho Te Kong).

Siapa saja yang dikarakterkan sebagai dewa pintu dalam sejarah?
Zaman Han = Shen Shu dan Yu Lu
Zaman Tang = Qin Qiong dan Yuchi Gong, Wei Zheng, Zhong Kui
Zaman Song dan Yuan = Qin Qiong dan Yuchi Gong, Zhao Yun, Yue Fei

Semua karakter di atas adalah karakter sejarah nyata, kecuali Shen Shu dan Yu Lu yang merupakan tokoh legenda. Satu2nya persamaan di antara mereka mayoritas adalah jenderal perang yang terkenal pada masanya masing-masing kecuali Wei Zheng yang terkenal sebagai menteri vokal serta Zhong Kui yang terpelajar namun berperawakan sangat jelek sampai-sampai hantupun takut kepadanya.

Evolusi dewa pintu masa sekarang

Dewa pintu di masa sekarang berbentuk lukisan biasanya hanya ditemukan di pintu kelenteng. Rumah-rumah penduduk tidak melukis gambar dewa pintu di daun pintu rumah mereka, biasanya hanya ada tempat menancapkan hio di sebelah kiri kanan pintu. Namun, masih ada tradisi menempel lukisan dewa pintu di daun pintu pada malam Tahun Baru (tanggal 30 bulan 12 penanggalan Imlek).

Zaman sekarang, dewa pintu tidak hanya ditujukan untuk melindungi rumah dari hal-hal buruk, namun juga untuk mengundang nasib baik dan keberuntungan. Selain itu, lukisan dewa pintu di kelenteng sebenarnya juga ditekankan pada nilai artistiknya, biasanya sangat mengundang perhatian dari pemerhati arsitektur tradisional Tiongkok karena kekhasannya.

salam ceria...

Dewa Erl Lang

Bagi anda yang pernah menonton film Sung Go Kong tentu tidak asing lagi dengan Dewa Erl Lang. Menurut ceritanya, Er Lang Shen ( Ji Long Sin) adalah putra Li Bing gubernur propinsi Sichuanpada jaman dinasti Qin. Waktu itu sungai Min (cabang sungai Yang Tze yang bermata air di Sichuan) sering mengakibatkan banjir di wilayah Guan Kuo (Dekat Cheng Du).

Li Bing mengajak putranya meninjau daerah bencana untuk kemudian memikirkan penanggulangannya. Rakyat Guan Kou waktu itu sangat putus asa sehingga mengandalkan dukun untuk mengatasi banjir. Para dukun pun memanfaatkan situasi ini untuk memeras dan menakut - nakuti rakyat.


Para dukun membohongi rakyat dengan mengatakan bahwa banjir itu diakibatkan oleh raja naga yang ingin mencari istri. Maka rakyat diharuskan setiap tahun mengirimkan seorang gadis untuk dijadikan istri oleh raja naga tersebut.

Li Bing bertekad mengakhiri semua ini dan berusaha menyadarkan rakyat bahwa bencana dapat dihindari asalkan mereka bersedia bergotong-royong memperbaiki aliran sungai. Usaha ini tentu saja ditentang keras oleh para dukun yang melihat bahwa mereka akan rugi apabila rakyat tidak percaya lagi pada mereka.

Untuk menghadapi mereka, Li Bing mengatakan bahwa putrinya bersedia menjadi pengantin Raja Naga untuk tahun itu. Dia minta sang dukun untuk memimpin upacara. Sebelumnya Li Bing memerintahkan Er Lang untuk menangkap seekor ular air yang sangat besar, dimasukkan dalam karung dan disembunyikan di dasar sungai.

Pada saat diadakan upacara mengantar pengantin di tepi sungai, Li Bing mengatakan pada dukun kepala, bahwa ia ingin sang Raja Naga menampakkan diri agar rakyat bisa melihat wajahnya. Sang dukun marah dan mengeluarkan ancaman. Tapi Li Bing yang telah bertekad mengakhiri praktek yang kejam dan curang ini bersikeras agar sang dukun menampilkan wujud Raja Naga.

Pada saat yang memungkinkan untuk bertindak, Li Bing memerintahkan Er Lang untuk terjun ke sungai dan memaksa sang Raja Naga untuk keluar. Setelah menyelam sejenak Er Lang muncul kembali sambil menyeret bangkai ular air itu ke tepi. Penduduk menjadi gempar. Li Bing menyatakan bahwa sang Raja Naga yang jahat sudah dibunuh, rakyat tidak usah risau akan gangguannya lagi dan tidak perlu mengorbankan anak gadis setiap tahun.

Setelah itu Li Bing mengajak rakyat untuk bergotong-royong membangun bendungan untuk mengendalikan Sungai Min. Usaha ini akhirnya berhasil dan rakyat di daerah itu terbebas dari bencana banjir. Untuk memperingati jasa-jasa Li Bing dan Er Lang di tempat itu kemudian didirikanlah klenteng peringatan.

Hari besarnya diperingati pada tanggal 28 bulan 8 Imlek. Er Lang Shen banyak dipuja di Propinsi Sichuan. Beberapa klenteng besar yang didirikan khusus untuknya terdapat di Chengdu yaitu Er Lang Miao, di Guan Xian dengan nama Guan Kou Miao, di Baoning, Ya-an dan beberapa tempat lain dengan nama Er Lang Miao. Kecuali Sichuan, Propinsi Hunan juga memiliki beberapa klenteng Er Lang yang cukup kuno.

Er Lang Shen ditampilkan sebagai seorang pemuda tampan bermata tiga, memakai jubah keemasan, membawa tombak bermata tiga, diikuti seekor anjing, kadang-kadang ditambah dengan seekor elang. Beliau dianggap sebagai Dewa Pelindung Kota-Kota di tepi sungai dan sering ditampilkan bersama Maha Dewa Tai Shang Lao Jun sebagai pengawal.

salam ceria...

8 DEWA ( Ba Xian )

Legenda Delapan Dewa mungkin berawal pada Dinasti Tang, dan cerita itu bervariasi pada setiap dinasti. Para karakternya, menurut versi setelah Dinasti Ming, adalah Han Zhongli, Zhang Guolao, Han Xiangzi, Tie Guali, Cao Guojiu, Lu Dongbin, Lan Caihe, dan He Xianggu. Dengan memiliki penampilan dan kepribadian yang sangat berbeda, Delapan orang ini merupakan Dewa yang hebat dalam ajaran Tao, dan mereka sering berkumpul bersama.


Delapan Dewa tidak langsung dilahirkan abadi. Mereka berasal dari 
dunia manusia, seperti dari anggota keluarga kekaisaran, pengemis, 
pendeta Tao, dan lain-lain. Ada kisah yang yang sangat menarik di belakang mereka saat berhasil berlatih dan mencapai keabadian.


Cao Guojiu adalah saudara seorang Kaisar, Tie Guali berkaki pincang dan berjalan dengan sebuah tongkat, He Xiangu seorang perempuan muda dan sangat menarik, Zhang Guolao terlihat sangat sehat di usianya yang lanjut dan sering menunggang keledai dengan terbalik. Han Xiangzi, keponakan dari Han Yu, seorang penulis terkenal di zaman Dinasti Tang dan sangat senang bermain seruling, Han Zhongli selalu terlihat dengan kipas daun palem di tangannya.

Melalui berbagai perjalanan mereka, Delapan Dewa bertemu dengan berbagai orang dan situasi, banyak di antaranya tertulis menjadi sebuah cerita. Satu perumpamaan keterlibatan Lu Dongbin yang menghalangi usaha untuk menawarkan penyelamatan manusia.

Delapan Dewa terdiri dari laki-laki dan perempuan, muda dan tua, kaya dan berbudi luhur, serta miskin dan rendah hati. Klenteng Tao dari 
Delapan Dewa tersebar di seluruh Tiongkok dan patungnya 
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prosesi penyembahan. Senjata yang 
mereka bawa seperti lonceng kayu keras, kipas, tongkat, seruling, pedang, botol 
labu, Tao dan keranjang bunga, ini semua disebut "delapan harta" dan simbol dari Delapan Dewa.

1. Li Te Guai

Li Tie GuaiLi Tie Guai-("Li dengan tongkat besi"). Tongkat besi yang dimilikinya, diberikan oleh Xi 
Wang-mu saat dia disembuhkan kakinya. Xi Wang-mu juga mengajarinya mengultivasi diri menjadi Dewa. benda lain yang dibawa-Nya adalah labu yang berisi ramuan ajaib.


Li kadang-kadang digambarkan dengan temperamen tinggi dan keras kepala, tapi murah hati terhadap orang miskin, orang sakit dan yang membutuhkan. Dengan menggunakan obat khusus dari labu-Nya, dia dapat mengurangi penderitaan orang lain. Ia sering digambarkan sebagai seorang pria tua jelek dengan wajah kotor, jenggot kumal, dan rambut berantakan yang diikat dengan pita emas.

Dia berjalan dengan bantuan sebuah tongkat besi dan sering memikul labu miliknya di bahu atau dipegang ditangan. Dia juga sering digambarkan sebagai tokoh lucu, turun ke bumi dalam bentuk seorang pengemis dan menggunakan kemampuannya untuk memperjuangkan nasib yang membutuhkan dan tertindas.

Ada sebuah cerita lain tentang bagaimana Li sampai memiliki kaki yang pincang. Dengan Turun dari langit, Lao-zi memulai mengajarkan ajaran-ajaran Tao kepada Li. Segera setelah Li mencapai keabadian, ia meninggalkan tubuhnya untuk melakukan perjalanan ke Gunung suci Huashan. Dia meminta salah seorang muridnya untuk menjaga tubuhnya dan memberikan tugas khusus kepada murid-Nya untuk membakar tubuhnya jika ia 
tidak kembali dalam waktu tujuh hari.

Namun, pada hari keenam, murid-Nya 
menerima pesan bahwa ibunya sedang sakit keras. Dia bingung apakah harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak atau menjaga tubuh Li. Akhirnya murid itu memilih pulang menjenguk Ibunya tapi sebelum itu ia membakar tubuh Li. Pada hari ketujuh, Li kembali dan menemukan tubuhnya sudah terbakar menjadi abu.

Dia terpaksa memasuki tubuh seorang pengemis yang telah meninggal yaitu seorang pria dengan kaki pincang, dan cacat. Li tidak ingin hidup dengan tubuh barunya tetapi Lao-zi memintanya untuk menerima nasibnya, dan memberi Li sebuah tongkat besi untuk membantu dia berjalan.


2. Zhang Guo Lao


Zhang Guo Lao"Zhang Guo Lao" adalah salah satu dari Delapan Dewa. Dia adalah tokoh nyata dalam sejarah, keberadaanya-Nya dimulai sekitar masa pertengahan atau akhir abad ketujuh sebelum Masehi, dan berakhir kira-kira pada masa pertengahan abad kedelapan. julukan The "Lao" ditambahkan di akhir namanya, kata ini memiliki arti "Tua".

Zhang Guo Lao adalah paling eksentrik dari dewa lain, salah satunya dapat 
dilihat dari gaya kung fu yang didedikasikan untuk dirinya. gaya ini meliputi 
bergerak seperti memberikan tendangan sambil memutar badan atau tekukan sejauh bahu Anda menyentuh tanah. Dia dikenal cukup menghibur, sering membuat dirinya menghilang, minum dari bunga beracun, memetik burung-burung di langit, serta bunga menjadi layu hanya dengan menunjuk kearah mereka, saat berada dihadapan Kaisar.


Zhang Guolao punya kebiasaan unik, yaitu menunggang keledai putih secara terbalik, sehari berjalan bisa mancapai 10.000 Li. Tentu saja keledai itu juga merupakan keledai khayangan, yang bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam tas saat ia sedang tak diperlukan tuannya.

Sangat sedikit yang tahu mengapa dia menunggang keledai secara terbalik. Dia menemukan bahwa dengan berjalan ke depan berarti mundur ke belakang, dia lalu menunggang secara terbalik.

3. Cao Guojiu


Cao GuojiuCao Guojiu adalah Dewa terakhir dari Delapan Dewa. Dia ditampilkan dengan pakaian pejabat resmi dan butiran batu giok. Kadang-kadang ia terlihat memegang alat musik. 
keajaiban butiran batu gioknya adalah dapat memurnikan lingkungan.

Cao Guojiu adalah paman dari seorang Kaisar pada zaman Dinasti Song, yaitu adik terkecil dari janda Ibu Suri Cao.

Adik Cao Guojiu, Cao Jingzhi adalah pengganggu, tapi tak ada yang berani 
menuntut dia karena koneksi yang kuat, bahkan setelah dia membunuh 
seseorang. Cao Guojiu begitu kewalahan oleh kelakuan adiknya, merasa sedih dan malu. Akhirnya ia mengundurkan diri kantornya dan kembali pulang.

Suatu hari Zhongli Quan dan Lu Dongbin bertemu dengannya dan menanyakan apa yang sedang dia lakukan. Dia menjawab bahwa dia sedang belajar Tao.
"Apakah itu dan dimanakah itu?", mereka balik bertanya.
Pertama-tama dia menunjuk ke langit dan kemudian ke hatinya.

4. Zhongli Quan


Zhongli Quan adalah salah satu Dewa yang paling kuno dan menjadi pemimpin dari Delapan Dewa (Beberapa orang menganggap Lu Dongbin menjadi pemimpin). Ia juga dikenal sebagai Zhongli Han (Han Zhongli) karena dia lahir pada masa Dinasti Han.

Lahir di Yantai, Zhongli Quan pada masa hidupnya hanya pernah mengabdi pada masa Dinasti Han.

Menurut legenda, cahaya terang memenuhi ruangan saat dia dilahirkan. Setelah lahir, tujuh hari penuh dia terus-menerus menangis tanpa henti.

Zhongli Quan adalah seorang Jenderal dalam kerajaan pada masa Dinasti Han. Biasa digambarkan sebagai laki-laki gemuk bertelanjang perut dan membawa kipas bulu yang dapat mengendalikan lautan dan dapat menghidupkan orang mati.
Pada hari tuanya dia menjadi petapa dan mendalami ajaran Tao.


5. Han Xiang


Han Xiang atau Xiang Zi, adalah Salah satu dari Delapan Dewa.
Han Xiang lahir pada masa Dinasti Tang, dan memiliki nama kehormatan Qingfu. 
Dia adalah kemenakan atau cucu dari Han Yu, seorang negarawan terkemuka di
Pengadilan Tang. Han Xiang belajar Taoisme di bawah bimbingan Lv Dongbin.

Pada suatu perjamuan dengan Han Yu, Han Xiang membujuk Han Yu untuk melepaskan hidupnya sebagai pejabat dan ikut belajar Tao bersama dia. Tapi Han Yu tetap pada pendiriannya dan sebaliknya mengatakan bahwa Han Xiang harus memberikan 
hidupnya untuk Taoisme, bukan Konghucu, jadi Han Xiang menunjukkan 
kemampuan Tao yang dia pelajari dengan menuangkan anggur kedalam cangkir demi cangkir dari labu miliknya tanpa berhenti.

Karena serulingnya dapat memberikan kehidupan, maka Han Xiang juga disebut pemain seruling pemberi perlindungan.


6. Lan Caihe


Dari kedelapan dewa, Lan Caihe adalah dewa yang paling sedikit memiliki informasi. Umur dan jenis kelaminya tidak di ketahui.

Lan biasanya digambarkan dalam pakaian yang tidak jelas, tetapi sering ditampilkan sebagai pemuda atau gadis membawa keranjang bunga yang terbuat dari bambu.

Diceritakan perilaku Lan sering aneh dan eksentrik. Beberapa sumber mengatakan gaun 
Lan Caihe menggunakan gaun biru lusuh, dan dikenal sebagai dewa pelindung para pujangga. Dalam tradisi lain, Lan adalah penyanyi wanita dan memiliki lirik lagu yang dapat memprediksi kejadian masa depan secara akurat.

Dia terbang meninggalkan dunia dengan angsa langit atau burung bangau pergi ke langit. Diceritakan pernah suatu hari ketika berada di sebuah kedai, ia diduga bangun dan pergi ke kamar mandi. Tapi sebelum berangkat pergi dia melepaskan pakaiannya dan terbang dengan burung bangau atau angsa pergi ke langit.

7. He Xian Gu



He Xian Gu adalah satu-satunya dewa perempuan di antara Delapan 
Dewa.

Ada sumber yang mengatakan He Xian Gu berasal dari daerah Prefektur Yong (hari ini disebut Linglin County, Hunan) pada masa Dinasti Tang, atau dari keluarga kaya dan dermawan di daaerah Zengcheng, Guangdong.


Saat lahir He Xian Gu memiliki enam rambut panjang di kepalanya. Saat berusia 
14 atau 15 tahun, seorang dewa muncul dalam mimpinya dan memberi petunjuk kepada dia untuk makan bubuk mika, agar tubuhnya bisa menjadi sangat ringan
 dan abadi. Jadi, ia memakannya, dan juga bersumpah untuk tetap menjaga keperawananya.

Saat mendaki bukit dan menuruni lembah He Xian Gu dapat melintasinya dengan sangat cepat, rasanya melayang seperti makhluk bersayap. Setiap hari saat fajar dia pergi dan kembali di sore hari dengan membawa buah gunung yang dia kumpulkan untuk ibunya. Kemudian lambat laun dia menyerah mengambil makanan biasa. Ratu Wu mengirim utusan untuk memanggil dia datang ke istana, tetapi di jalan, ia menghilang.

Suatu hari pada periode Long Jing (sekitar 707 CE), He Xiangu terbang ke langit
 di siang hari bolong, dan menjadi Dewa Tao.

8. Lu Dong Bin


Lu Dongbin pernah dalam satu kali berjanji pada Han Zhongli untuk menyelamatkan semua makhluk hidup. Namun dia belum juga menyelamatkan satu orang pun, kemudian dia melakukan sebuah perjalanan menuju daerah Yue Yang. Dia berada di sana dua tiga kali sebelum mencoba untuk mencapai masyarakat umum. Yue Yang sekarang adalah sebuah wilayah administrasi di Provinsi Hunan, Tiongkok, di tepi danau Dong Ting.

Lu Dongbin menyamar menjadi seorang lelaki tua yang menjual minyak untuk memasak. Dengan cara menjual minyak sebagai dalih untuk bertemu dan memilih orang yang diprospeknya, lalu bila seorang pelanggan terlihat tidak tamak, tidak meminta lebih banyak minyak daripada yang dibayarnya, maka dia akan menolongnya.

Jadi, selama bertahun-tahun dia berkeliling untuk menjual minyak, selama itu para pelanggan yang ditemui semuanya tamak meminta terlalu banyak, kecuali seorang perempuan tua. Bagaimanapun si perempuan tua, hanya mengambil sesuai dengan yang dibayarnya, bahkan tidak lebih satu tetes pun.

Mengejutkan, Lu Dongbin berpikir akhirnya dia menemukan seseorang yang layak diselamatkan. Dia bertanya pada perempuan itu, “Semua yang datang membeli minyak selalu ingin mendapatkan lebih kecuali Anda. Kenapa tidak meminta lebih?”

Si perempuan menjawab, “Saya cukup puas dengan sebuah botol minyak, selain itu sangatlah tidak mudah bagi Anda untuk mencari nafkah dengan menjual minyak. Bagaimana saya boleh meminta lebih?” Kemudian dia menawarkan Lu Dongbin minuman arak untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.

Lu Dongbin merasa dia adalah seorang prospek yang baik dan bermaksud memberikan penyelamatan kepadanya. Saat dia menemukan ada sebuah sumur di ladangnya, dia menaburkan beberapa biji padi ke dalamnya. Dia berkata pada perempuan itu, “Anda bisa mendapatkan keberuntungan dengan menjual air dalam sumur ini.” Lalu dia beranjak pergi.

Perempuan tua itu berbalik dan menemukan air dalam sumur tersebut telah berubah menjadi arak. Seperti saran Lu Dongbin, perempuan tua itu menjual arak dalam sumur itu dan meraih keberuntungan selama setahun.

Pada suatu hari Lu Dongbin datang kembali ke tempat perempuan tua itu. Si perempuan tua tidak berada di rumah, hanya anak lelakinya yang ada di dalam. Lu Dongbin bertanya padanya, “Bagaimana hasil dari usaha menjual arak?”

“Usahanya berjalan sangat baik, tetapi tidak ada penyulingan biji–biji padi untuk memberikan makanan pada babi-babi.” jawab si anak lelaki. Mendengar perkataannya, Lu Dongbin mendesah. “Ketamakan manusia telah mencapai pada tingkat separah ini.” Maka dia mengambil kembali biji-biji beras dalam sumur tersebut dan berlalu pergi.

Tidak lama kemudian, perempuan tua itu kembali. Anak lelakinya menceritakan apa yang telah terjadi. Dia pergi ke sumur dan melihat ke dalam. Arak di dalamnya telah berubah kembali menjadi air. Si perempuan tua itu bergegas ke pintu, namun Lu Dongbin telah menghilang.

Lu Dongbin meninggalkan Yue Yang menuju Danau Dong Ting dan meninggalkan sebuah puisi yang meratapi sifat manusia, “Tiga kali ke Yue Yang namun belum menemukannya, menyenandungkan sajak saat melintasi Danau Dong Ting.”

salam ceria...
maaf sxlg maaf © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute