Tampilkan postingan dengan label 8 Dewa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 8 Dewa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Desember 2011

Zhong Li Quan

Zhong Li Quan adalah dewa tertua kedua dalam Delapan Dewa, selain juga pemimpin mereka. Ia juga dikenal sebagai Han Zhong Li atau Zhong Li dari Han karena dilahirkan pada zaman Dinasti Han. Ia memiliki kipas dari daun palem yang dapat membangkitkan orang mati. Ia memiliki nama famili yang unik dan sangat jarang yaitu Zhong Li.


Berasal dari Yantai, konon Zhong Li Quan adalah panglima perang dinasti Han yang memilih hidup bertapa di usia lanjutnya. Saat ia lahir, suatu cahaya yang sangat menyilaukan menerangi kamarnya. Sejak itu, ia tidak berhenti menangis sampai tujuh hari setelah kelahirannya.

Sumber lainnya mengatakan ia seorang wakil panglima yang lari ke daerah pegunungan saat kalah dalam perang melawan bangsa Tibet.
Di sana ia ditahbiskan oleh lima dewaTaoisme untuk menjadi calon dewa. Beberapa ratus tahun kemudian, dialah yang mengajari Li Dong Pin untuk menjadi dewa.

Dalam kisah lainnya dia diceritakan bertemu dengan seorang pendeta Tao di hutan yang setelah diminta, memberikan resep untuk menjadi dewa. Tidak lama setelah meninggalkannya, Zhong Li Quan hendak melihat gubuk pendeta itu untuk terakhir kalinya dan terkejut saat mendapati gubuk tersebut telah lenyap. Ada pula legenda yang mengatakan bahwa ia membagikan uang logam perak pada fakir miskin saat bencana kelaparan tiba.

Satu hari, dinding gubuknya rubuh saat ia sedang bermeditasi dan menemukan lambang dari batu pualam yang berisi resep menjadi dewa. Ia mengikuti petunjuk tersebut dan berubah menjadi dewa dalam selubung asap putih yang menjulang tinggi.
Zhong Li Quan biasa digambarkan sebagai seorang yang tinggi besar berperut buncit dan bertelanjang dada dengan kumis dan janggut yang panjang.

salam ceria...

Li Tie Guai

Li Tie Guai adalah salah satu dari Legenda Delapan Dewa. Konon Lao Tze mengajarkan ilmu - ilmu Tao kepada Li. Setelah Li mencapai keabadian sehingga rohnya bisa meninggalkan tubuhnya, beliau hendak melakukan perjalanan menuju gunung Hua Shan. Sebelum berangkat, Li berpesan pada muridnya agar membakar tubuhnya bila dalam 7 hari beliau tidak kembali.


Namun setelah 6 hari muridnya mendapat kabar kalau ibunya jatuh sakit . Muridnya bingung antara menunaikan tugas sebagai murid atau kembali pada ibunya. Akhirnya muridnya memutuskan untuk kembali pada ibunya. Namun sebelum pergi, dia membakar dahulu badan Li. Pada hari ke tujuh Li pulang dan menemukan tubuhnya telah menjadi abu.

Dengan terpaksa Li memasuki tubuh seorang pengemis yang baru saja meninggal. Tubuh pengemis tersebut pincang dan cacat. Li tidak ingin hidup dengan tubuh barunya. Namun Lao Tze meminta Li untuk menerima nasib dan kemudian memberinya sebuh tongkat besi untuk membantunya berjalan. Benda lain yang dibawa Li adalah labu yang berisi ramuan ajaib.

Li kadang-kadang digambarkan dengan temperamen tinggi dan keras kepala, tapi murah hati terhadap orang miskin, orang sakit dan yang membutuhkan. Dengan menggunakan obat khusus dari labu-Nya, dia dapat mengurangi penderitaan orang lain. Ia sering digambarkan sebagai seorang pria tua jelek dengan wajah kotor, jenggot kumal, dan rambut berantakan yang diikat dengan pita emas.

Dia berjalan dengan bantuan sebuah tongkat besi dan sering memikul labu miliknya di bahu atau dipegang ditangan. Dia juga sering digambarkan sebagai tokoh lucu, turun ke bumi dalam bentuk seorang pengemis dan menggunakan kemampuannya untuk memperjuangkan nasib yang membutuhkan dan tertindas.

Badan pincang Li menunjukan kepada manusia bahwa badan kasar ini tidaklah abadi. Tidak ada hal didunia ini yang bisa dipertahankan selamanya. Bila tak ada yang bisa dipertahankan, apa pula yang harus diperebutkan?

salam ceria...

Zhang Guo Lao

Zhang Guo Lao berarti "si tua Zhang Guo" adalah salah satu dari Delapan Dewa. Ia adalah seorang pendeta Tao yang hidup di zaman Dinasti Tang. Saat masa pemerintahan Ratu Wu (608-705), ia mengaku telah hidup beberapa ratus tahun. Ratu Wu pernah mengundangnya untuk turun gunung, tetapi ia berpura-pura mati.


Ia juga pernah memerintah sebagai Menteri bagi Kaisar Yao di kehidupan sebelumnya. Suatu ketika, kaisar Xuanzong menjadikannya pejabat dengan gelar Menteri Guanglu Biru Keperakan .

Zhang Guo Lao hidup sebagai seorang tabib dan ahli nujum di gunung Tiáo in di propinsi Heng . Ia senang membuat minuman dari tanaman dan tumbuhan obat. Anggota Delapan Dewa senang minuman buatannya yang dipercaya mengandung obat penyembuh. Selain penjelmaan dari kelelawar putih, ia menunggangi keledai ajaib yang dapat berjalan ribuan mil per hari secara terbalik (menghadap ke belakang).

Keledai tersebut dapat dilipat seperti kertas dan disimpan di dalam sakunya. Untuk mengembalikannya, cukup diperciki air segenggam penuh. Biasanya ia membawa bulu burung phoenix atau buah tho(buah panjang umur). Simbol dari Zhang Guo Lao adalah tambur ikan, sebuah instrumen yang mampu menghasilkan suara bising. Salah satu yang paling eksentrik dari Delapan Dewa, ada jurus kungfu yang dibuat untuk menghormatinya, seperti tendangan saat salto ke belakang, dan kayang hingga bahu menyentuh tanah.

Pada tahun ke-23 masa periode Gai Yüan, pemerintahan kaisar Xuanzong (735) ia dipanggil ke Luoyang, dan dijadikan Pemimpin Akademi Pemerintah dengan gelar "Guru Besar". Pada masa itu ada seorang pendeta Tao bernama Yue Fa Shan yang disukai kaisar karena keahliannya memanggil arwah. Sang kaisar menanyakan siapa itu Zhang Guo Lao. Jawabnya,"Jika saya memberitahu Anda, maka saya akan mati, kecuali Anda berjanji datang ke Zhang Guo Lao secara pribadi dan memohon untuk memaafkannya, maka saya dapat hidup kembali."

Setelah Xuanzong bersedia, maka Yue Fa Shan menjawab bahwa Zhang adalah "penjelmaan kelelawar putih yang sudah ada sejak awal kehidupan." Pendeta tersebut langsung mati di tempat. Setelah Xuanzong meminta maaf, Zhang memerciki wajah sang pendeta dengan air, sehingga ia hidup kembali. Tak lama kemudian, Zhang jatuh sakit dan meninggal sekitar tahun 742-746 di gunung Tiáo. Ketika muridnya membuka kembali kuburnya, mereka mendapati kubur tersebut kosong.

salam ceria...

Jembatan Delapan Dewa

Dahulu kota Xiangthan tidak semewah sekarang, Yuhu dikelilingi pengunungan tinggi. Di sebelah barat Yuhu ada sebuah pengunungan yang bernama gunung panjang umur, kenapa dinamakan gunung panjang umur? Karena diatas gunung tinggal seorang kakek marga Zheng yang sudah sangat tua.


Rambut dan jenggotnya semua sudah putih, tetapi badannya masih sangat sehat, tidak ada benar-benar mengetahui umur kakek ini, ada yang mengatakan dia sudah berumur lebih dari 140 tahun, ada yang mengatakan bahkan lebih tua dari itu.

Dia sendirian tinggal diatas gunung, mendirikan sebuah gubuk, setiap hari dia pergi mencari kayu bakar, berburu, bercocok tanam semuanya dapat dilakukannya, sayuran yang ditanamnya sangat subur. Setiap dia pergi berburu pasti mendapat binatang buruan, sehingga persediaan pangannya tidak habis dimakan sendiri. Tetapi dia sendiri sangat hemat, sisa makanannya akan dibagi kepada fakir miskin.

Setiap ada yang datang kerumahnya meminta bantuannya, seperti tetangga, teman, waluapun kenal atau tidak, dia akan sebisa mungkin membantu mereka. Terkadang karena membantu orang lain, dia sendiri tidak ada makanan lagi, maka dia akan pergi kehutan mengambil sayuran dan buah-buah hutan untuk dimakan

Pada suatu malam, ketika bulan purnama, dia sedang menganyam sepatu jerami. Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang, dijalan dia melilhat ada 8 orang sedang menuju kearahnya, diantara mereka ada seorang wanita, orang yang berjalan paling depan adalah seorang kakek yang berjenggot putih, ditangannya memegang sebuah pancing, dia menyapa kakek Zheng, “Sobat tua, kami kebetulan lewat daerah ini, bolehkah kami masuk kerumahmu beristirahat sebentar melepaskan lelah?”
Kakek Zheng dengan gembira menjawab, “ Dengan senang hati, tetapi gubuk saya terlalu kecil, saya takut tidak muat untuk kalian semua.” Kakek jenggot putih menjawab, “Tidak masalah, kami berdesakan sedikit pasti muat.

”Setelah berkata demikian 8 orang ini masuk kedalam rumah, sungguh heran gubuk kecil ini yang biasanya hanya ada 3 orang saja sudah kelihatan sangat sempit, tetapi ketika 8 orang ini masuk dan duduk didalam gubuk kelihatan masih lapang, kakek Zheng merasa heran.

Pada saat ini seseorang yang bajunya compang camping, wajahnya hitam, memegang tongkat karena kakinya pincang sedang berkata, “Sobat tua, kami sudah lapar, apakah ada makanan yang bisa engkau sediakan untuk kami?” Kakek Zheng segera berkata, ‘”Ada!Ada! kelihatannya kalian semua datang dari tempat yang jauh, sudah lapar dan capek, kebetulan hari ini ketika saya berburu mendapat seekor kelinci, akan saya hidangkan untuk kalian.” Setelah berkata demikian kakek Zheng pergi kelemari mengeluarkan seguci arak, dan sepiring daging kelinci yang sudah dimasak dengan harum, meletakkannya diatas meja kecil yang terbuat dari bambu.

Seorang pelajar yang tangannya memegang suling berkata, “Suasana malam ini adalah malam purnama yang sangat indah, kenapa kita tidak membawa makanan ini ke tepi danau dan menikmatinya disana?” Seseorang yang wajahnya brewok bertepuk tangan menyetujui saran itu, dan yang lain semua setuju, akhirnya mereka ada yang mengangkat guci arak, ada yang mengambil piring daging kelinci, ada yang mengangkat meja kecil menuju ketepi danau, masing-masing memilih sebuah batu granit lalu duduk diatasnya, mulai menyantapi makanan dan meminum arak, sepanjang malam kakek Zheng sibuk melayani mereka, sebentar menyeduh teh, sebentar naik ke atas gunung mencari buah-buahan hutan untuk mereka, keadaan tersebut berlaku sampai subuh, kemudian salah seorang dari mereka yang memakai baju dengan keadaan dada dan perut gendutnya terbuka berkata, “Sobat tua, engkau juga sudah capek, sekarang bagaimana kami dapat membalas budimu, apapun permintaanmu pasti akan kami kabulkan.”

Kakek Zheng sambil menggelengkan kepalanya berkata, “Saya tidak mempunyai permintaan, apapun saya tidak ingin?” Orang brewok ini berkata lagi, “Gubukmu sangat kecil, apakah engkau tidak ingin sebuah istana yang besar?” Sambil tersenyum kakek Zheng menjawab,”Bumi ini demikian luas, gubuk kecil ini sudah cukup untuk tempat saya berteduh.”

Seorang pendeta Toa yang membawa pedang bertanya lagi, “Sobat tua, kehidupan mewah apa saja yang ada didunia ini terserah engkau pilih.”
Kakek Zheng berkata” Saya memandang kemewahan dunia ini seperti sebuah tali, saya tidak ingin kaki tangan saya terikat oleh tali ini, sedangkan nyawa, setiap orang akan mengalami tua dan mati, ini semua adalah hal biasa yang tidak dapat dihindari.”


Mendengar perkataan kakek Zheng, wanita cantik ini berkata, “Wah! Kehidupan mewah dan panjang umur engkau juga tidak menginginkannya, apakah engkau ingin menjadi dewa!”
Kakek Zheng berkata, “Setiap hari saya hidup dengan gembira dan bahagia sudah seperti dewa, walaupun langit runtuh saya tidak peduli, sejak lama sudah seperti dewa ditengah kehidupan manusia ini.”

Setelah didesak oleh mereka semua, setelah berpikir sejenak kakek Zheng berkata, “kalian semua mendesak saya, baiklah saya akan mengajukan sebuah permintaan. Danau Yuhu sangat besar berjalan dari tepi danau timur ke barat memakan waktu setengah hari, sangat tidak praktis, jika kalian dapat membangun sebuah jembatan, maka akan sangat berguna untuk masyarata ditempat ini.”

Orang yang berwajah brewok berkata, “ Oh itu adalah hal yang gampang! Kami akan mengabulkan permintaanmu!”
8 orang ini keluar dari gubuk kakek Zheng, sedangkan kakek Zheng tidak mengikuti mereka keluar, dia sedang memasak air menyeduh teh untuk mereka. Setelah air mendidih dan teh sudah siap diseduh, dia membawa teh tersebut keluar untuk mereka, dia melihat sebuah jembatan yang panjang diatas danau Yuhu, 8 orang tersebut sedang berjalan diatas jembatan menuju kearah lain, kakek Zheng mengejar dibelakang mereka sambil berteriak, tiba-tiba dia melihat ada 8 gumpalan awan, 8 orang tersebut sambil melambaikan tangannya, naik keatas gumpalan awan terbang melayang pergi.

Kakek Zheng kembali keatas jembatan dengan teliti dia memeriksa keadaan jembatan, jembatan ini terbuat dari 8 keping batu granit, keadaan sangat rapi, kuat dan jembatan ini sangat lebar.

Keesokan harinya, masyarakat didaerah ini melihat jembatan ini, mereka semua sangat gembira. Sesuai dengan penuturan kakek Zheng mereka semua menerka pasti semua ini adalah perbuatan 8 dewa langit yang turun kebumi membantu mereka. Akhirnya mereka sepakat menamakan jembatan ini menjadi jembatan 8 dewa.

salam ceria...

Kamis, 24 November 2011

8 DEWA ( Ba Xian )

Legenda Delapan Dewa mungkin berawal pada Dinasti Tang, dan cerita itu bervariasi pada setiap dinasti. Para karakternya, menurut versi setelah Dinasti Ming, adalah Han Zhongli, Zhang Guolao, Han Xiangzi, Tie Guali, Cao Guojiu, Lu Dongbin, Lan Caihe, dan He Xianggu. Dengan memiliki penampilan dan kepribadian yang sangat berbeda, Delapan orang ini merupakan Dewa yang hebat dalam ajaran Tao, dan mereka sering berkumpul bersama.


Delapan Dewa tidak langsung dilahirkan abadi. Mereka berasal dari 
dunia manusia, seperti dari anggota keluarga kekaisaran, pengemis, 
pendeta Tao, dan lain-lain. Ada kisah yang yang sangat menarik di belakang mereka saat berhasil berlatih dan mencapai keabadian.


Cao Guojiu adalah saudara seorang Kaisar, Tie Guali berkaki pincang dan berjalan dengan sebuah tongkat, He Xiangu seorang perempuan muda dan sangat menarik, Zhang Guolao terlihat sangat sehat di usianya yang lanjut dan sering menunggang keledai dengan terbalik. Han Xiangzi, keponakan dari Han Yu, seorang penulis terkenal di zaman Dinasti Tang dan sangat senang bermain seruling, Han Zhongli selalu terlihat dengan kipas daun palem di tangannya.

Melalui berbagai perjalanan mereka, Delapan Dewa bertemu dengan berbagai orang dan situasi, banyak di antaranya tertulis menjadi sebuah cerita. Satu perumpamaan keterlibatan Lu Dongbin yang menghalangi usaha untuk menawarkan penyelamatan manusia.

Delapan Dewa terdiri dari laki-laki dan perempuan, muda dan tua, kaya dan berbudi luhur, serta miskin dan rendah hati. Klenteng Tao dari 
Delapan Dewa tersebar di seluruh Tiongkok dan patungnya 
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prosesi penyembahan. Senjata yang 
mereka bawa seperti lonceng kayu keras, kipas, tongkat, seruling, pedang, botol 
labu, Tao dan keranjang bunga, ini semua disebut "delapan harta" dan simbol dari Delapan Dewa.

1. Li Te Guai

Li Tie GuaiLi Tie Guai-("Li dengan tongkat besi"). Tongkat besi yang dimilikinya, diberikan oleh Xi 
Wang-mu saat dia disembuhkan kakinya. Xi Wang-mu juga mengajarinya mengultivasi diri menjadi Dewa. benda lain yang dibawa-Nya adalah labu yang berisi ramuan ajaib.


Li kadang-kadang digambarkan dengan temperamen tinggi dan keras kepala, tapi murah hati terhadap orang miskin, orang sakit dan yang membutuhkan. Dengan menggunakan obat khusus dari labu-Nya, dia dapat mengurangi penderitaan orang lain. Ia sering digambarkan sebagai seorang pria tua jelek dengan wajah kotor, jenggot kumal, dan rambut berantakan yang diikat dengan pita emas.

Dia berjalan dengan bantuan sebuah tongkat besi dan sering memikul labu miliknya di bahu atau dipegang ditangan. Dia juga sering digambarkan sebagai tokoh lucu, turun ke bumi dalam bentuk seorang pengemis dan menggunakan kemampuannya untuk memperjuangkan nasib yang membutuhkan dan tertindas.

Ada sebuah cerita lain tentang bagaimana Li sampai memiliki kaki yang pincang. Dengan Turun dari langit, Lao-zi memulai mengajarkan ajaran-ajaran Tao kepada Li. Segera setelah Li mencapai keabadian, ia meninggalkan tubuhnya untuk melakukan perjalanan ke Gunung suci Huashan. Dia meminta salah seorang muridnya untuk menjaga tubuhnya dan memberikan tugas khusus kepada murid-Nya untuk membakar tubuhnya jika ia 
tidak kembali dalam waktu tujuh hari.

Namun, pada hari keenam, murid-Nya 
menerima pesan bahwa ibunya sedang sakit keras. Dia bingung apakah harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak atau menjaga tubuh Li. Akhirnya murid itu memilih pulang menjenguk Ibunya tapi sebelum itu ia membakar tubuh Li. Pada hari ketujuh, Li kembali dan menemukan tubuhnya sudah terbakar menjadi abu.

Dia terpaksa memasuki tubuh seorang pengemis yang telah meninggal yaitu seorang pria dengan kaki pincang, dan cacat. Li tidak ingin hidup dengan tubuh barunya tetapi Lao-zi memintanya untuk menerima nasibnya, dan memberi Li sebuah tongkat besi untuk membantu dia berjalan.


2. Zhang Guo Lao


Zhang Guo Lao"Zhang Guo Lao" adalah salah satu dari Delapan Dewa. Dia adalah tokoh nyata dalam sejarah, keberadaanya-Nya dimulai sekitar masa pertengahan atau akhir abad ketujuh sebelum Masehi, dan berakhir kira-kira pada masa pertengahan abad kedelapan. julukan The "Lao" ditambahkan di akhir namanya, kata ini memiliki arti "Tua".

Zhang Guo Lao adalah paling eksentrik dari dewa lain, salah satunya dapat 
dilihat dari gaya kung fu yang didedikasikan untuk dirinya. gaya ini meliputi 
bergerak seperti memberikan tendangan sambil memutar badan atau tekukan sejauh bahu Anda menyentuh tanah. Dia dikenal cukup menghibur, sering membuat dirinya menghilang, minum dari bunga beracun, memetik burung-burung di langit, serta bunga menjadi layu hanya dengan menunjuk kearah mereka, saat berada dihadapan Kaisar.


Zhang Guolao punya kebiasaan unik, yaitu menunggang keledai putih secara terbalik, sehari berjalan bisa mancapai 10.000 Li. Tentu saja keledai itu juga merupakan keledai khayangan, yang bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam tas saat ia sedang tak diperlukan tuannya.

Sangat sedikit yang tahu mengapa dia menunggang keledai secara terbalik. Dia menemukan bahwa dengan berjalan ke depan berarti mundur ke belakang, dia lalu menunggang secara terbalik.

3. Cao Guojiu


Cao GuojiuCao Guojiu adalah Dewa terakhir dari Delapan Dewa. Dia ditampilkan dengan pakaian pejabat resmi dan butiran batu giok. Kadang-kadang ia terlihat memegang alat musik. 
keajaiban butiran batu gioknya adalah dapat memurnikan lingkungan.

Cao Guojiu adalah paman dari seorang Kaisar pada zaman Dinasti Song, yaitu adik terkecil dari janda Ibu Suri Cao.

Adik Cao Guojiu, Cao Jingzhi adalah pengganggu, tapi tak ada yang berani 
menuntut dia karena koneksi yang kuat, bahkan setelah dia membunuh 
seseorang. Cao Guojiu begitu kewalahan oleh kelakuan adiknya, merasa sedih dan malu. Akhirnya ia mengundurkan diri kantornya dan kembali pulang.

Suatu hari Zhongli Quan dan Lu Dongbin bertemu dengannya dan menanyakan apa yang sedang dia lakukan. Dia menjawab bahwa dia sedang belajar Tao.
"Apakah itu dan dimanakah itu?", mereka balik bertanya.
Pertama-tama dia menunjuk ke langit dan kemudian ke hatinya.

4. Zhongli Quan


Zhongli Quan adalah salah satu Dewa yang paling kuno dan menjadi pemimpin dari Delapan Dewa (Beberapa orang menganggap Lu Dongbin menjadi pemimpin). Ia juga dikenal sebagai Zhongli Han (Han Zhongli) karena dia lahir pada masa Dinasti Han.

Lahir di Yantai, Zhongli Quan pada masa hidupnya hanya pernah mengabdi pada masa Dinasti Han.

Menurut legenda, cahaya terang memenuhi ruangan saat dia dilahirkan. Setelah lahir, tujuh hari penuh dia terus-menerus menangis tanpa henti.

Zhongli Quan adalah seorang Jenderal dalam kerajaan pada masa Dinasti Han. Biasa digambarkan sebagai laki-laki gemuk bertelanjang perut dan membawa kipas bulu yang dapat mengendalikan lautan dan dapat menghidupkan orang mati.
Pada hari tuanya dia menjadi petapa dan mendalami ajaran Tao.


5. Han Xiang


Han Xiang atau Xiang Zi, adalah Salah satu dari Delapan Dewa.
Han Xiang lahir pada masa Dinasti Tang, dan memiliki nama kehormatan Qingfu. 
Dia adalah kemenakan atau cucu dari Han Yu, seorang negarawan terkemuka di
Pengadilan Tang. Han Xiang belajar Taoisme di bawah bimbingan Lv Dongbin.

Pada suatu perjamuan dengan Han Yu, Han Xiang membujuk Han Yu untuk melepaskan hidupnya sebagai pejabat dan ikut belajar Tao bersama dia. Tapi Han Yu tetap pada pendiriannya dan sebaliknya mengatakan bahwa Han Xiang harus memberikan 
hidupnya untuk Taoisme, bukan Konghucu, jadi Han Xiang menunjukkan 
kemampuan Tao yang dia pelajari dengan menuangkan anggur kedalam cangkir demi cangkir dari labu miliknya tanpa berhenti.

Karena serulingnya dapat memberikan kehidupan, maka Han Xiang juga disebut pemain seruling pemberi perlindungan.


6. Lan Caihe


Dari kedelapan dewa, Lan Caihe adalah dewa yang paling sedikit memiliki informasi. Umur dan jenis kelaminya tidak di ketahui.

Lan biasanya digambarkan dalam pakaian yang tidak jelas, tetapi sering ditampilkan sebagai pemuda atau gadis membawa keranjang bunga yang terbuat dari bambu.

Diceritakan perilaku Lan sering aneh dan eksentrik. Beberapa sumber mengatakan gaun 
Lan Caihe menggunakan gaun biru lusuh, dan dikenal sebagai dewa pelindung para pujangga. Dalam tradisi lain, Lan adalah penyanyi wanita dan memiliki lirik lagu yang dapat memprediksi kejadian masa depan secara akurat.

Dia terbang meninggalkan dunia dengan angsa langit atau burung bangau pergi ke langit. Diceritakan pernah suatu hari ketika berada di sebuah kedai, ia diduga bangun dan pergi ke kamar mandi. Tapi sebelum berangkat pergi dia melepaskan pakaiannya dan terbang dengan burung bangau atau angsa pergi ke langit.

7. He Xian Gu



He Xian Gu adalah satu-satunya dewa perempuan di antara Delapan 
Dewa.

Ada sumber yang mengatakan He Xian Gu berasal dari daerah Prefektur Yong (hari ini disebut Linglin County, Hunan) pada masa Dinasti Tang, atau dari keluarga kaya dan dermawan di daaerah Zengcheng, Guangdong.


Saat lahir He Xian Gu memiliki enam rambut panjang di kepalanya. Saat berusia 
14 atau 15 tahun, seorang dewa muncul dalam mimpinya dan memberi petunjuk kepada dia untuk makan bubuk mika, agar tubuhnya bisa menjadi sangat ringan
 dan abadi. Jadi, ia memakannya, dan juga bersumpah untuk tetap menjaga keperawananya.

Saat mendaki bukit dan menuruni lembah He Xian Gu dapat melintasinya dengan sangat cepat, rasanya melayang seperti makhluk bersayap. Setiap hari saat fajar dia pergi dan kembali di sore hari dengan membawa buah gunung yang dia kumpulkan untuk ibunya. Kemudian lambat laun dia menyerah mengambil makanan biasa. Ratu Wu mengirim utusan untuk memanggil dia datang ke istana, tetapi di jalan, ia menghilang.

Suatu hari pada periode Long Jing (sekitar 707 CE), He Xiangu terbang ke langit
 di siang hari bolong, dan menjadi Dewa Tao.

8. Lu Dong Bin


Lu Dongbin pernah dalam satu kali berjanji pada Han Zhongli untuk menyelamatkan semua makhluk hidup. Namun dia belum juga menyelamatkan satu orang pun, kemudian dia melakukan sebuah perjalanan menuju daerah Yue Yang. Dia berada di sana dua tiga kali sebelum mencoba untuk mencapai masyarakat umum. Yue Yang sekarang adalah sebuah wilayah administrasi di Provinsi Hunan, Tiongkok, di tepi danau Dong Ting.

Lu Dongbin menyamar menjadi seorang lelaki tua yang menjual minyak untuk memasak. Dengan cara menjual minyak sebagai dalih untuk bertemu dan memilih orang yang diprospeknya, lalu bila seorang pelanggan terlihat tidak tamak, tidak meminta lebih banyak minyak daripada yang dibayarnya, maka dia akan menolongnya.

Jadi, selama bertahun-tahun dia berkeliling untuk menjual minyak, selama itu para pelanggan yang ditemui semuanya tamak meminta terlalu banyak, kecuali seorang perempuan tua. Bagaimanapun si perempuan tua, hanya mengambil sesuai dengan yang dibayarnya, bahkan tidak lebih satu tetes pun.

Mengejutkan, Lu Dongbin berpikir akhirnya dia menemukan seseorang yang layak diselamatkan. Dia bertanya pada perempuan itu, “Semua yang datang membeli minyak selalu ingin mendapatkan lebih kecuali Anda. Kenapa tidak meminta lebih?”

Si perempuan menjawab, “Saya cukup puas dengan sebuah botol minyak, selain itu sangatlah tidak mudah bagi Anda untuk mencari nafkah dengan menjual minyak. Bagaimana saya boleh meminta lebih?” Kemudian dia menawarkan Lu Dongbin minuman arak untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.

Lu Dongbin merasa dia adalah seorang prospek yang baik dan bermaksud memberikan penyelamatan kepadanya. Saat dia menemukan ada sebuah sumur di ladangnya, dia menaburkan beberapa biji padi ke dalamnya. Dia berkata pada perempuan itu, “Anda bisa mendapatkan keberuntungan dengan menjual air dalam sumur ini.” Lalu dia beranjak pergi.

Perempuan tua itu berbalik dan menemukan air dalam sumur tersebut telah berubah menjadi arak. Seperti saran Lu Dongbin, perempuan tua itu menjual arak dalam sumur itu dan meraih keberuntungan selama setahun.

Pada suatu hari Lu Dongbin datang kembali ke tempat perempuan tua itu. Si perempuan tua tidak berada di rumah, hanya anak lelakinya yang ada di dalam. Lu Dongbin bertanya padanya, “Bagaimana hasil dari usaha menjual arak?”

“Usahanya berjalan sangat baik, tetapi tidak ada penyulingan biji–biji padi untuk memberikan makanan pada babi-babi.” jawab si anak lelaki. Mendengar perkataannya, Lu Dongbin mendesah. “Ketamakan manusia telah mencapai pada tingkat separah ini.” Maka dia mengambil kembali biji-biji beras dalam sumur tersebut dan berlalu pergi.

Tidak lama kemudian, perempuan tua itu kembali. Anak lelakinya menceritakan apa yang telah terjadi. Dia pergi ke sumur dan melihat ke dalam. Arak di dalamnya telah berubah kembali menjadi air. Si perempuan tua itu bergegas ke pintu, namun Lu Dongbin telah menghilang.

Lu Dongbin meninggalkan Yue Yang menuju Danau Dong Ting dan meninggalkan sebuah puisi yang meratapi sifat manusia, “Tiga kali ke Yue Yang namun belum menemukannya, menyenandungkan sajak saat melintasi Danau Dong Ting.”

salam ceria...
maaf sxlg maaf © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute