Jumat, 20 Juli 2012

Buddha Emas Terkecil


MAGELANG, 23/4 - BUDHA EMAS TERKECIL. Cipto, 32 (berdiri) melakukan performance art bersama kelompok Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) sesaat sebelum menerima piagam MURI di areal taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Kamis (23/4). Cipto menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai pencipta patung Budha terkecil berbahan emas murni dengan ukuran 3x4x8 milimeter.

salam ceria...

Kamis, 19 Juli 2012

Kisah Pan Gu


Dalam sejarah Tionghoa disebutkan seorang makhluk bernama(Pán Gu). Ia dikisahkan sebagai leluhur pembuka langit dan bumi yang dengan sekuat kemampuannya dan mengorbankan nyawanya sendiri untuk menggantikan keberadaan dunia ini.

“Pán Gu umumnya dilukiskan sebagai raksasa primitif berbulu dengan tanduk di kepalanya dan memakai pakaian dari bulu binatang,” ujar Sunanto Eddy Tamrin, seorang peminat budaya Tionghoa kepada Tribun belum lama ini.

Dengan kata lain, Pán Gu adalah wujud dari alam semesta, dalam legenda memisahkan langit dan bumi. Ia juga diyakni sudah menciptakan unsur kebudayaan, ilmu pengetahuan dan filosofi yang sangat kaya dan menarik. “Semangat dan kerja keras Pángu yang sampai mengorbankan diri untuk membentuk dunia merupakan semangat manusiawi yang paling luhur dan tinggi,” papar Sunanto.


“Selama ribuan tahun, legenda Pán Gu di atas dunia yang ia ciptakan dengan mengorbankan jiwanya tetap dikenang dan disebarluaskan dari generasi ke generasi. Tak pelak Pán Gu menjadi satu di antara mutiara dalam kebudayaan Tionghoa,” tambahnya.

Ketika alam semesta baru mulai, tak ada apapun di alam ini, kecuali suatu kekacauan tanpa bentuk. Tetapi kemudian kekacauan ini mulai bersatu dalam suatu kosmis berbentuk telur untuk waktu 18.000 tahun.
Di dalam kosmis itu, dengan sempurna terdapat prinsip Yin dan Yáng yang mulai menjadi seimbang sehingga Pán Gu muncul dan hidup (atau bangun) dalam telur tersebut.

Pán Gu langsung memulai tugas menciptakan dunia, antara lain memisahkan Yin dan Yáng dengan ayunan dari kampak raksasanya, menciptakan bumi (Yin yang suram, kuning telur) dan langit (Yáng yang bersih, putih telur). Untuk menjaga bumi dan langit tetap terpisah, Pán Gu berdiri di antara bumi dan langit dan mendorong langit ke atas. Tugas ini menghabiskan waktu selama 18 ribu tahun, di mana setiap hari langit naik 10 kaki lebih tinggi, bumi 10 kaki lebih luas, dan Pán Gu tumbuh 10 kaki lebih tinggi.


Dalam beberapa versi cerita ini, Pán Gu dalam tugas ini dibantu oleh empat binatang yang sangat terkenal dalam tradisi Tionghoa, yakni Xuánwu (Kura-kura), Qílín (Kirin), Fènghuáng (Phoenix), dan Lóng (Naga).

Setelah 18 ribu tahun berlalu, Pán Gu berbaring untuk istirahat. Hembusan nafasnya diyakini menjadi angin, suaranya menjadi guntur, mata kanannya menjadi matahari dan mata kirinya menjadi bulan. Badannya menjadi pegunungan, darahnya mengalir membentuk sungai, ototnya menjadi tanah yang subur, bulu mukanya menjadi gugusan bintang.

Bulu badannya menjadi hutan dan semak, tulangnya menjadi air mineral yang berharga, sumsum tulangnya menjadi intan yang suci, keringatnya jatuh sebagai hujan, dan makhluk kecil pada badannya yang dibawa oleh angin menjadi manusia di seluruh penjuru dunia.

Penulis pertama untuk catatan mistik Pán Gu adalah Xú Zheng pada zaman Periode Tiga Kerajaan atau periode Zhan Guo. Gunung Pán Gu Shan, yang terletak 15 kilometer arah selatan Mìyángxiàn Provinsi Hénán, China diyakini sebagai tempat di mana Pán Gu memisahkan langit dan bumi, menciptakan manusia dan segala makluk didunia ini.

salam ceria...

Dewi Nuwa


Dalam mitologi Cina, Nuwa adalah karakter mitologi terkenal karena menciptakan dan mereproduksi orang setelah bencana besar. Tradisi lain kemudian nama ini sebagai sebuah penciptaan mitos yang dikaitkan baik Pangu atau Yu Huang.

Nuwa di berbagai peran

Sebuah lukisan kuno Nuwa dan Fuxi digali di Xinjiang.Since Nuwa disajikan berbeda dalam mitos begitu banyak, tidak akurat untuk mengikat "dia" turun sebagai pencipta, perempuan ibu, dewi, atau bahkan. Tergantung pada mitos, "dia" bertanggung jawab untuk menjadi seorang istri, saudara perempuan, pria, pemimpin suku (atau bahkan kaisar), pencipta, pemelihara, dll Tidak jelas dari bukti-bukti yang pandangan datang lebih dulu. Terlepas dari asal-usul, mitos yang paling menyajikan Nuwa sebagai perempuan dalam peran prokreasi setelah bencana.

Nuwa sebagai sebuah repairer

Peran sastra awal tampaknya menjadi perawatan dan pemeliharaan Tembok Surga, yang runtuh akan melenyapkan segalanya. Perhatikan juga asosiasi untuk tradisi Deluge bawah ini.

Ada pertengkaran antara dua para dewa lebih kuat, dan mereka memutuskan untuk menetap dengan perkelahian. Ketika Falun Gong air dewa melihat bahwa ia kalah, ia menghancurkan kepalanya ke Gunung Buzhou , tiang mengangkat langit. Pilar runtuh dan menyebabkan langit untuk memiringkan ke arah barat laut dan bumi bergeser ke tenggara. Hal ini menyebabkan banjir besar dan penderitaan bagi rakyat.

Nuwa memotong kaki kura-kura raksasa dan menggunakannya untuk menggantikan pilar jatuh, mengurangi situasi dan menyegel langit rusak menggunakan batu dari tujuh warna berbeda, tapi ia tidak dapat sepenuhnya memperbaiki langit miring. Hal ini menjelaskan fenomena bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang bergerak menuju barat laut, dan sungai-sungai di tenggara aliran Cina ke Samudera Pasifik. (Akun ini mirip dengan rekening Huainanzi; itu ditambahkan sebagai The Pemeliharaan dan Perawatan Surga)

Versi lain dari cerita ini menggambarkan Nuwa naik ke surga dan mengisi kesenjangan dengan tubuhnya (ular setengah setengah manusia) dan dengan demikian menghentikan banjir. Menurut legenda ini beberapa minoritas di Barat Daya Cina hujan es Nuwa sebagai dewi mereka dan beberapa festival seperti 'Air-percikan Festival' adalah sebagian penghargaan untuk pengorbanan nya.


Nuwa sebagai pencipta

Peran utama berikutnya dari Nuwa adalah dewa pencipta. Namun, tidak banyak cerita menganggap penciptaan dirinya dari segala sesuatu, mereka biasanya membatasi dia untuk penciptaan manusia. Banyak dari umat manusia fitur cerita yang diciptakan atau dipulihkan setelah bencana.

Dikatakan yang Nuwa ada pada awal dunia. Dia merasa kesepian karena tidak ada hewan sehingga dia memulai penciptaan hewan dan manusia, yang berarti dia telah memberikan nama bagi hewan.

Pada hari pertama dia menciptakan ayam.
Pada hari kedua dia menciptakan anjing.
Pada hari ketiga dia menciptakan domba.
Pada hari keempat dia menciptakan babi.
Pada hari kelima dia menciptakan sapi.
Pada hari keenam dia menciptakan kuda.
Pada hari yang ketujuh ia mulai menciptakan manusia dari tanah liat kuning, patung satu per satu, namun setelah ia menciptakan ratusan tokoh dengan cara ini ia masih memiliki lebih untuk membuat namun telah tumbuh lelah dari proses melelahkan.

Ini adalah upacara mengantongi melahirkan anak.

Jadi, bukannya kerajinan tangan setiap gambar, dia mencelupkan tali di tanah liat dan menjentikkan sehingga gumpalan tanah liat mendarat di mana-mana; masing-masing gumpalan menjadi seseorang.

Ini melambangkan bahwa dia memiliki anak melalui seks dengan Fu-Xi.

Dengan cara ini, cerita berhubungan, adalah bangsawan dan rakyat jelata dibuat dari angka-angka kerajinan tangan dan gumpalan masing-masing. Variasi lain pada cerita ini menceritakan bahwa beberapa tokoh meleleh dalam hujan Nuwa sedang menunggu mereka untuk kering dan dengan cara ini penyakit dan kelainan fisik muncul.


Nuwa sebagai istri atau saudara perempuan

Oleh Dinasti Han, ia dijelaskan dalam literatur dengan Fuxi suaminya sebagai yang pertama dari Huang San, dan sering disebut "orang tua dari manusia". Namun, lukisan yang menggambarkan mereka bergabung sebagai orang setengah - setengah ular naga atau tanggal dengan periode Negara Perang.

"Dikatakan" dalam bentuk naga yang ia dan suaminya diukir sungai-sungai di dunia dan menguras banjir yang dihasilkan. Ini berarti bahwa mereka tahu bagaimana mencegah bahaya air.

salam ceria...

Tongtian Jiaozhu,Pemimpin Agung Para Siluman


Pendahuluan

Saat alam semesta baru saja terbentuk , tersebutlah 3 orang sesepuh dewata yaitu YuanShi TianZun, TaiShang LaoJun & TongTian JiaoZhu yg membagi Taoisme menjadi 2 aliran, yaitu;

-Aliran pegunungan (Chan) yg dipimpin oleh YuanSi TianZun & TaiShang LaoJun.
Pengikut dari aliran ini berasal dari orang2 suci yg mayoritas berwatak welas asih, sabar & suka menolong. (dewa2 macam Er Lang, Nacha, dewa petir, dewa pagoda dsb tergabung dalam aliran ini)

-Aliran kepulauan (Jie) yg dipimpin TongTian JiaoZhu.
Berkebalikan dg aliran pegunungan yg dihuni oleh orang2 suci, aliran kepulauan justru diisi oleh siluman2, baik yg berasal dari hewan, tumbuhan ato bahakan benda mati yg berwatak arogan, egois, pencemburu & gemar mengumbar hawa nafsu .

Karena sifatnya yg sangat bertolak belakang itulah kedua aliran ini tidak pernah akur & sering bentrok diberbagai kesempatan


Pertempuran para dewa

(disarikan dari novel FengShen YanYi bab 76-78 & 82-84)

Raja Zhou (Hokkian; Tiu Ong) dari dinasti Shang adl tiran terkejam dalam sejarah China yg terkenal suka menindas rakyat. Karena tidak tahan lagi dg kekejamannya maka rakyatpun ahirnya memberontak dibawah pimpinanan raja Wu (Hokkian; Bu Ong). Dalam peperangan itu pasukan raja Wu mendapat bantuan dari para dewa & calon dewa dari aliran Chan, sementara pasukan dinasti Shang didukung oleh para siluman2 dari aliran Jie. Karena dewa2 aliran Chan berada dipihak yg benar maka mereka selalu menang & mengalahkan murid2 aliran Jie.

Setelah melalui perjuangan yg panjang & melelahkan pasukan raja Wu yg dipimpin Jiang ZiYa (Hokkian; Kiang Cu Gee) sudah semakin dekat dg ibukota dinasti Shang, namun sesampainya dilintasan Jie Pai perjalanan mereka terpaksa terhenti karena dihadang oleh kabut merah yg sarat dg kekuatan jahat.

Dari balik kabut muncullah sesososk pertapa tua yg nampak sangat agung & berwibawa. "Salam paman guru, saya beserta seluruh murid2 aliran Chan memberi hormat pada paman" kata Jiang ZiYa sambil membungkuk hormat pada sang pertapa yg ternyata adl TongTian JiaoZhu, mahaguru dari aliran Jie.

"Hmmm, bagus kau masih mengenalku sebagai paman gurumu, tapi kenapa kalian seenaknya membunuhi murid2 aliran kami heh?" saut TongTian ketus.

"Sejak dulu guru selalu mengajari kami untuk menghormati aliran paman, sayang ada beberapa murid paman yg membela raja Zhou sehingga.......".

"Sehingga kalian boleh seenaknya membantai mereka karena aliran kalian aliran putih sementara aliranku inialiran sesat, begitu? bentak TongTian memotong kalimat JianZiya. "Sudah tidak perlu munafik lagi, dari dulu aku sudah tahu kalian memang selalu meremehkanku, tp CUKUP SAMPAI DISINI!" lanjutnya sambil mengibaskan tangannya menyibak kabut merah yg menutupi lintasan JiePai. Sekonyong2 nampaklah sebuah benteng pertahanan yg sangat kokoh & angker dilengakpi dg 4 pedang pusaka dikeempat gerbangnya.

"Yg ada dihadapan kalian adl Jiu Xian Zhen (formasi pemusnah dewata) ciptaanku & bila kalian ingin pergi keibukota Shang maka harus melewatinya dulu. Tapi kuperingatkan formasiku ini sangat sempurna & tidak punya kelemahan, sehingga tanggung sendiri akibatnya kalau kalian berani menerobosnya!" tantang sang mahaguru.

Melihat keangkeran Jiu Xian Zhen para dewa alrian Chan keder jg, apalagi merekapun mahfum dg kehebatan ilmu paman gurunya itu sehingga tidak berani bertindak sembarangan. Tiba2 muncullah seberkas sinar keemasn yg sangat indah dilangit disertai munculnya dua mahaguru aliran Chan yaitu YuanShi TianZun & TaiShang LaoJun.

"Hahaha adik TongTian kenapa kau galak sekali, lihat anak2 itu sampai ketakutan begitu. Bila kau memang ingin bermain2 bagaimana bila aku saja yg melayanimu" kata LaoJun santai seraya menggiring kerbaunya memasuki Jiu Xian Zhen. Begitu LaoJun tiba digerbang utama dy langsung disambut oleh pedang pusaka yg terbang menghujam kearahnya, namun sekonyong2 muncullah pagoda emas yg melindungi tubuh Lao Jun sehingga diapun dapat melewati Jiu Xian Zhen dg selamat tanpa terluka sedikitun.

"Nah bagaimana? Nampaknya formasi pemusnah dewamu itu tidak begitu hebat jg ya?" kata LaoJun meledek.

"Puih jangan melucu Li Er (2), kau baru melewati 1 gerbang & masih ada 3 yg tersisa! Kita lihat saja bagaimana kau mengatasi sisanya" saut TongTian geram.

"Wah masih ada 3 lagi? Aduh adik, tega benar kau pada kakek tua ini.... untunglah aku membawa beebrapa teman untuk membantuku" jawab LaoJun ringan seraya menunjuk 2 orang biksu India disampingnya yg bernama JieYin (3) & ZhunTi

Kini Tongtian baru sadar akan kehadiran Jie Yin & Zhun Ti yg merupakan mahaguru tertinggi Budhisme kala itu (4). "Mau apa kalian para biksu kesini, bukannya baik2 membaca sutra malah ikut campur urusan orang lain" gerutu TongTian.

Dengan tenang JieYn pun menjawabnya"Amithaba, kami para biksu memang biasanya menghindari kekerasan, sayangnya formasi pemusnah dewamu itu terlalu membahayakan umat manusia sehingga kami terpaksa ikut campur, apalagi LaoJun & YuanShi TianZun sudah berbaik hati mengijinkan kami menyebarkan Budhisme diTiongkok, sehingga kamipun harus membalas budi mereka".

"Terserah! Tapi jangan katakan aku menindas agama kalian bila kalian berdua tewas oleh formasiku" balas TongTian ketus.

Tanpa dikomando lagi keempat mahaguru; TaiShang LaoJun, YuanShi TianZun, Jie Yin & Zhun Ti segera memasuki Jiu Xian Zhen yg langsung disambut oleh keempat pedang pusaka & berbagai jebakan maut lainnya. Namun rupanya kedahsyatan Jiu Xian Zhen tidak ada apanya dibanding kesaktian 4 mahaguru ini sehingga dalam waktu singkat saja benteng pemusnah dewa itupun berhasil dijebol juga.

Melihat formasi kebanggaannya hancur lebur membuat TongTian sangat malu & murka sehinga dypun segera menggempur keempat mahaguru itu dg ganasnya. TongTian JiaoZhu sebenarnya memiliki kesaktian yg hampir tidak ada bandingannya didunia ini, tp karena pertarungan ini sangat tidak adil (4 lawan 1) sehingga lama2 dypun keteteran jg & ahirnya melarikan diri....

Setelah musnahnya Jiu Xian Zhen para dewa aliran Chan bernapas lega & mengira tidak akan ada lagi gangguan dari TongTian & murid2nya, saipa tahu sesampainya di lintasan mereka kembali menjumpai sebuah formasi iblis yg bahkan lebih angker dari Jiu Xian Zhen. "Aduuuuuh mau apa lagi sih kakek tua itu, apa dy belum puas dihajar sampai lari terkencing2 seperti dulu" gerutu NeZha kesal.

Tidak lama kemudain datanglah utusan TongTian yg memberitahu bahwa formasi itu bernama Wan Xian Zhen (formasi pembantai puluhan ribu dewa) & para dewa aliran Chan diundang memasukinya untuk beradu ilmu. Berbeda dg sebelumnya, pertempuran kali ini bukan hanya melibatkan para mahaguru tp jg mengadu murid2 senior dari kedua aliran, rincian singkat jalannya pertempuran adl sebagai berikut;

-Siluman kura2 berjanggut emas (aliran Jie) mengalahkan Guang Cheng Zi & Chi Jing Zi (aliran Chan) tp dy balik dikalahkan oleh Zhun Ti
-Siluman singa biru & gajah putih (Jie)ditaklukan dewa Wen Shu & Pu Xian (Chan), kedua siluman itu kemudian dijadikan tunggangan kedua dewa itu
-Jin Gong Xian (Jie) ditaklukan CiHang DaShi (Chan)
Setelah menaklukan ketiga siluman atas petunjuk JieYin. Wen Shu, Pu Xian & CiHang DaShi memutuskan pindah keagama Budha & menjadi Bodhisatwa Manjusri, Samanthabrada & Kwan Im.
-GuLing ShengMu (Jie) mati dihisap ratusan nyamuk yg emnhisap darahnya
-JinLing SheMu yg merupakan tangankanan TongTian membunuh putri pertama kaisar langit yg bernama putri LongJi & suaminya, para dewa aliran Chan kemudian mengeroyok JinLing ShengMu yg ahirnya tewas ditangan pertapa Ran Deng (5)
-28 dewa rasi bintang (Jie) dibantai habis oleh murid2 aliran Chan

Melihat gugurnya murid2nya membuat TongTian jadi mata gelap & hendak menggunakan bendera saktinya untuk memusnahkan para dewaaliran Chan, beruntung senjata pemunah masal itu sudah dicuri & disembunyikan oleh dewa kuping panjang (mantan murid TongTian yg membelot kealiran Chan). Mengetahui pengikutnya sudah hampir habis & senjatanya jg sudah tidak ada membuat TongTian kehilangan semangat bertempurnya sehingga ahirnya dapat diringkus dan dibawa pergi untuk disuruh bertapa kembali oleh gurunya yg bernama HongJun LaoRen.

(1) Meskipun sering digambarkan jahat dilegenda2 namun dalam Taoisme yg sebenarnya aliran Jie bukanlah aliran sesat
(2) TongTian senang memanggil TaiShang LaoJun dg sebutan LiEr
(3) Jie Yin konon merupakan cikal bakal/reinkarnasi sebelumnya dari Budha RuLai
(4) Dalam sejarah yg sebenarnya belum ada Budhisme pada dinasti Shang
(5) Pertapa Ran Deng adl guru dari dewa pagoda Li Jing

TongTian JiaoZhu dalam legenda2 lain

Selain dalam novel Feng Shen Bang, TongTian jg sering muncul sebagai antagonis dalam legenda2 lainnya. Misalnya dalam cerita 8 dewa TongTian murka karena murid kesayagannya yg bernama siluman kerang berpindah kealiran Chan. TongTian kemudian membuat kekacauan dihari pengagnkatan siluman kerang menjadi dewi, tp kemabli berhasil ditaklukan oleh TaiShang LaoJun & dewa2 lain. selain itu TongTian jg muncul dalam novel jendral DiQing (seorang jendral kenamaan dr dinasti Song), disini TongTian kembali meneggelar formasi iblisnya untuk mencelakai jendral DiQing yg didukung dewa2 aliran Chan.

salam ceria...

Kisah Uggasena


Setelah menikah dengan seorang penari dari suatu rombongan sirkus, Uggasena dilatih oleh ayah mertuanya yang merupakan seorang pemain akrobat, sehingga ia menjadi sangat ahli di bidang akrobatik. Suatu hari ketika ia sedang mendemonstrasikan keahliannya, Sang Buddha datang ke tempat itu.

Setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, Uggasena mencapai tingkat kesucian arahat, ketika ia sedang melakukan atraksi yang hebat sekali di puncak dari sebatang galah bambu yang panjang.

Setelah itu, ia turun dari galah dan memohon dengan sangat kepada Sang Buddha untuk menerimanya sebagai seorang bhikkhu dan kemudian ia diterima dalam pasamuan bhikkhu.
Suatu hari, ketika pada bhikkhu yang lain menanyakan padanya apakah ia tidak mempunyai segala macam perasaan takut ketika sedang turun dari tempat yang amat tinggi (sekitar sembilan puluh kaki), ia mengatakan tidak.

Para bhikkhu tersebut menanggapi dan mengartikan hal itu sebagai cara Uggasena untuk menyatakan diri telah mencapai tingkat kesucian arahat.
Oleh karena itu, mereka pergi menemui Sang Buddha dan berkata, “Bhante! Uggasena menyatakan diri sebagai seorang arahat; dia pasti mengatakan suatu kebohongan”.

Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, “Para bhikkhu, seseorang yang telah memotong semua belenggu, seperti murid-Ku Uggasena, tidak lagi memiliki ketakutan”.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 397 berikut:

Ia telah memotong semua belenggu, tidak lagi gemetar, yang bebas dan telah mematahkan semua ikatan, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

salam ceria...

Kisah Patipujika Kumari


Patipujika Kumari adalah seorang wanita dari Savatthi. Dia menikah pada usia 16 tahun dan mempunyai empat orang putra. Patipujika Kumari merupakan seorang wanita yang baik budi dan murah hati, suka memberikan dana makanan dan kebutuhan lain kepada para bhikkhu.

Dia juga sering pergi ke vihara dan membersihkan halaman, mengisi tempat air, dan memberikan bantuan lainnya. Patipujika juga mempunyai kemampuan “Jatissara”, yaitu kemampuan batin untuk mengingat kehidupannya yang lampau dimana dia adalah salah seorang istri Malabhari, yang tinggal di alam dewa Tavatimsa.

Dia juga ingat bahwa dia telah meninggal dunia di Tavatimsa ketika mereka para dewa dewi sedang berjalan-jalan dan menikmati kesenangan di taman, dan memetik bunga-bunga.

Maka, setiap saat dia berdana kepada para bhikkhu atau melakukan perbuatan-perbuatan baik lainnya, dia berharap dapat dilahirkan kembali di alam dewa Tavatimsa sebagai istri Malabhari, suaminya terdahulu.

Suatu hari, Patipujika jatuh sakit dan meninggal dunia pada sore itu juga. Seperti apa yang dia inginkan, dia dilahirkan kembali di alam dewa Tavatimsa sebagai istri Malabhari. Seratus tahun di alam manusia sama dengan satu hari di alam Tavatimsa, Malabhari dan istri-istrinya yang lain masih bermain-main di taman; dan kepergian Patipujika hampir tidak dirasakan oleh mereka.

Maka, ketika dia kembali bergabung dengan mereka, Malabhari menanyakan ke mana Patipujika pagi hari tadi. Dia kemudian menceritakan kematiannya di alam Tavatimsa dan kelahirannya kembali di alam manusia. Pernikahannya dengan seorang manusia dan juga tentang bagaimana dia telah mempunyai empat orang putra. Kematiannya di alam manusia dan lahir kembali di alam Tavatimsa.

Ketika para bhikkhu mendengar kematian Patipujika, mereka bersedih. Kemudian mereka menghadap Sang Buddha dan melaporkan kematian Patipujika, orang yang sering memberikan dana makanan pada pagi hari, telah meninggal pada sore hari.

Sang Buddha menjawab bahwa kehidupan suatu makhluk sangat singkat; dan sebelum mereka puas dengan kesenangan-kesenangan indrianya, kematian telah menguasainya.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

“pupph?ni h’eva pacinanta? vy?sattamanasa? nara?
atitta? yeva k?mesu antako kurute vasa?”

Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,
yang pikirannya melekat padanya
sebelum terpuaskan dalam nafsu kenikmatan indria,
kematian telah menguasainya.

salam ceria...

32 Tanda Pada Diri Sidharttha Gotama

1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado).
2. Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.
3. Tumit yang bagus (ayatapanhi).
4. Jari-jari panjang (digha-anguli).
5. Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).
6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
7. Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha-pado).
8. Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi).
9. Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.
10. Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho).
11. Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas (suvannavanno).
12. Kulitnya sangat lembut dan halus, sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit.
13. Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.
14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.
15. Potongan tubuh yang agung (brahmuiu-gatta).
16. Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.
17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).
18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).
19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan Pohon Nigroda (beringin).
20. Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho).
21. Indria perasa sangat peka (rasaggasaggi).
22. Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).
23. Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).
24. Gigi-gigi yang sama rata (sama-danto).
25. Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).
26. Gigi putih bersih (susukka-datho).
27. Lidah sangat panjang (pahuta-jivha).
28. Suara bagaikan suara brahma, seperti suara Burung Karavika.
29. Mata biru (abhinila netto).
30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).
31. Di antara alis-alis mata, tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.
32. Kepala bagaikan berserban (unhisasiso).

salam ceria...
maaf sxlg maaf © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute